INGIN CEPAT-CEPAT MATI

Dalam perjalananku pulang dari tempat bekerjaku ke rumah, biasanya aku lewat jalan yang lebih sepi dari jalan utama. Jalan tersebut bukan jalan tikus, tetap jalan besar namun belum banyak aktivitas dan penduduknya belum ramai.

Ada perubahan signifikan sekarang di jalan tersebut dibandingkan ketika aku baru kerja di tempat kerjaku sekarang pertengahan tahun 2012. Perubahan tersebut selain semakin banyak gedung yang dibangun, namun juga adanya SPEED TRAP yang bertambah banyak di sepanjang jalan.

Mungkin kata SPEED TRAP masih belum familiar. Speed trap sebenarnya mirip polisi tidur. Kalau polisi tidur biasanya ukurannya cukup besar dan hanya satu, kalau speed trap ukurannya kecil tetapi banyak dan berdekatan. Dulu aku melihatnya hanya di sekitar bandara ataupun jalan yang dilintasi jalur kereta api. Namun sekarang semakin banyak jalan yang diberikan speed trap terutama di jalan-jalan lurus yang cukup ramai. 

Akibat adanya speed trap, kecepatan kendaraan menjadi berkurang. Aku yakin speed trap hadir di tempat-tempat yang memang sebelum ada speed trap kendaraan yang melewatinya sering dengan kecepatan tinggi dan bisa jadi kemungkinan besar ada kecelakaan-kecelakaan terjadi.

Speed trap itu bermanfaat mencegah hal-hal negatif terjadi tetapi yang sering kudengar adalah bahwa banyak keluhan karena adanya speed trap. Kecenderungan orang Indonesia terutama daerah Jakarta sekitarnya termasuk Tangerang memang lebih suka ngebut dan sering sekali melanggar lalu lintas. Himbauan kepolisian hanya dipatuhi sesaat atau hanya jika ada aparat kepolisian hadir di tempat itu. Tingkat ketaatan dan kesadaran tertib lalu lintas masih kurang di Jabodetabek. Hal inilah yang mendorong bertambah banyaknya speed trap di jalanan. Ada maksud positif dari polisi sebagai aparat negara yang dipercaya mengawasi kelakuan masyarakat.

SPEED TRAP OF LIFE 
Lelah... terlalu banyak yang dipikirkan...masalah menumpuk dan seperti tidak ada jalan keluar... aku harus akui kata-kata tersebut dulu sering mendominasi pikiranku sepanjang hari, mempengaruhi emosiku dan kesulitan untuk fokus atau konsentrasi. Kecenderunganku yang melankolis dulu aku anggap sebagai satu kesalahan dari Tuhan. Tekanan demi tekanan terus berkeliaran di kepalaku. Mengapa Tuhan menciptakan karakter seperti ini dan mendominasiku?

Pada akhirnya tekanan demi tekanan membuatku sensitif berlebihan sehingga segala sesuatu yang dikatakan atau dilakukan orang aku anggap pasti berkaitan dengan hal-hal negatif dalam diriku. Aku merasa orang lain lebih banyak membicarakan hal-hal negatif yang aku katakan, lakukan atau yang menjadi bagian dalam diriku.

Sensitivitas negatif yang berlebihan pernah membawa aku pada satu kondisi di mana aku ingin bunuh diri. Segala kebenaran-kebenaran firman Tuhan seperti menjadi hal yang tidak benar di pikiranku. Aku lebih memilih untuk menuruti emosi negatif yang berkecamuk dalam diriku. Pada akhirnya keputusan-keputusan yang aku buat adalah keputusan tanpa berpikir panjang karena emosi negatif tersebut.

Herannya, Tuhan seperti "diam" saja melihat kondisiku. Diam itu menurut persepsiku artinya tidak menyelesaikan masalahku. Banyak sekali masalah yang belum selesai dan menjadi beban pikiranku dan Tuhan seperti tidak mempedulikan aku. Itu pikiranku dulu. Sampai pada akhirnya aku menyadari bahwa setiap masalah itu adalah speed trap of life dari Tuhan.

Kalau speed trap di jalan memiliki tujuan agar setiap kendaraan yang melewati jalan tersebut melaju dengan kecepatan yang dianggap aman bagi semua pengguna lalu lintas, maka speed trap of life itu aku sadari akhirnya sebenarnya memiliki satu tujuan untuk membawa aku menjadi pribadi yang semakin menyerupai Dia.

Ketika aku sombong, aku dijatuhkan agar aku sadar bahwa semua yang aku bisa lakukan dan katakan dan capai hanya karean anugerah sang Maha Kuasa bukan karena kekuatanaku. Ketika aku merasa bahwa aku tidak mau lagi melakukan hal-hal positif dan lebih fokus pada kepentingan diri sendiri dan kepuasan hati, maka Dia berikan banyak situasi kondisi yang membuatku berpikir seperti Allah yang bahkan rela mengorbankan diri-Nya demi aku yang berdosa dengan mati menebus dosa-dosaku. Aku seharusnya tidak egois. Ketika aku mau melarikan diri dari setiap masalahku, aku diperhadapkan pada situasi "skak mat" yang mengharuskan aku menghadapi masalahku dan akhirnya lebih banyak berlutut di hadapanNya.

Mengapa aku belum lepas dari setiap masalahku, sama seperti masih adanya speed trap di jalan. Karakterku belum sesuai dengan kehendakNya ketika menghadapi masalah-masalah yang timbul dari hatiku. Para pengguna jalan masih belum sadar pentingnya menjaga kecepatan laju kendaraan ketika tidak ada polisi sehingga salah satu cara untuk mencegah "kebandelan"nya adalah speed trap itu. "Nilai mata pelajaran" ku belum cukup untuk lulus dari mata pelajaran kehidupan dari Tuhan sehingga masih banyak speed trap of life yang dia berikan padaku.

BERSYUKUR
Speed trap of life itu adalah bentuk kasih dari Tuhan kepada diriku manusia yang tidak sempurna ini. Dia sangat peduli pada karakterku sehingga Dia dengan berbagai bentuk speed trap of life-Nya berjuang terus tanpa mengenal lelah agar aku menjadi pribadi yang lebih baik. Semua karena Dia sangat mengasihiku. Speed trap of life sudah seharusnya dilihat dari tujuan adanya hal tersebut dari sang Pencipta, bukan dilihat dari sisi kemanusiaanku yang penuh dosa. Sama seperti speed trap di jalanan yang harus dilihat dari sisi pemerintah yang membuatnya. Ada maksud positif dari semua itu, Ada pembelajaran yang diberikan lewat hal tersebut. Seharusnya aku bersyukur. Jika aku masih harus melewati speed trap of life, maka aku masih diperhatikan dan dikasihi oleh Allah. 


SPEED TRAP OF LIFE = PADANG GURUN
Ulangan 8: 2, 5 mengatakan:
"Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak Tuhan, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.

Maka haruslah engkau insaf, bahwa Tuhan Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya"

Dua ayat ini mengingatkan aku bahwa bangsa Israel, umat pilihan Allah saja pernah merasakan padang gurun dengan maksud yang baik dari Allah. Apalagi aku. Speed trap of life = Padang gurun untuk menguji dan merendahkan diri, untuk mendisiplinkan diri. 

BERJUANG
Aku masih terus berjuang untuk tetap menjaga pemikiranku melihat semua pergumulanku dengan satu prinsip bahwa Allah tetap mengasihiku. Tidak mudah. Bisa berhasil di satu hari, tetapi jatuh di hari lainnya. Terus berjuang dengan satu kesadaran Dia tidak pernah meninggalkanku dan Dia tetap setia membentukku. Aku tidak lagi cepat menyerah, tidak lagi lari dari masalah, tidak lagi menyalahkan situasi dan kondisi atau orang lain, tidak lagi  mau bunuh diri. Aku belajar terus berjuang untuk memiliki iman pada Allah. Tidak mudah dan bukan berarti segala sesuatu berjalan mulus. Ah, aku pikir aku ga perlu memikirkan kapan Dia memuluskan jalanku tetapi yang perlu aku fokuskan adalah bagaimana terus membuka hati mengevaluasi diriku dan memperbaiki diri dan dengan pertolongan Roh Kudus aku diberikan hikmat untuk mengambil keputusan yang tepat. Aku tidak lagi ingin cepat-cepat mati karena frustasi akan kehidupanku walau aku tetap siap mati kapanpun karena aku rindu bertemu dengan Allahku di hadiratNya. Aku semakin melihat hidup ini dari sisi Allah bukan dari sisi manusiaku yang tidak sempurna ini. Aku masih terus berjuang. 


Comments