JUAN MENYEBAR FLU!

Ketika aku menulis artikel ini, anakku Juan sedang sakti flu, batuk dan badannya hangat. Sangat sedih karena ketika dia sakit, dia tidak lagi aktif seperti biasanya, tidak semangat seperti biasanya. Bawaannya manja, minta digendong terus. Batuknya sudah tiga hari tidak terlalu mengalami banyak perubahan positif walau sudah kami berikan obat. Ingusnya keluar dengan lancar. Dia juga kadang hangat walaupun jika diukur masih dalam kategori temperatur badan yang normal. Dia kami berikan obat karena kami rindu agar secepatnya dia sembuh. Besok hari kami rencana membawanya ke dokter.

Dua hari setelah Juan sakit, aku mulai bersin-bersin. Sama seperti jika aku yang sakti flu batuk tidak boleh mendekati Juan karena takut nanti dia tertular, seharusnya aku juga tidak boleh mendekati apalagi menggendong Juan supaya tidak tertular flu batuknya. Aku tidak bisa tidak gendong dia karena dia selalu minta digendong. Mamanya memang menggendong juga, kadang opa omanya serta keluarga dekatku lainnya jika mereka datang mengunjungi Juan. Tetapi, tetap aku dan oce yang paling sering menggendongnya.

Tetapi ada satu hal lain yang aku sadari yang bisa menjadi penyebab mengapa aku mulai tertular sakitnya Juan. Beberapa waktu ini aku cukup padat aktivitasnya hingga tidurnya cukup larut setiap malam. Aku sudah harus mengikui program matrikulasi untuk perkuliahan pasca sarjana bulan ini dan sudah ada tugas. Selain itu, di sekolah sedang persiapan akhir untuk penjualan buku teks pelajaran tahun ajaran depan. Sepertinya kondisi badanku sedang menyesuaikan dengan penambahan aktivitas sehingga drop dan otomatis rentatn diserang penyakit.

AKU DAN ORANG LAIN ITU BERPENGARUH.
Peristiwa ini membuatku kembali sadar bahwa, aku dan orang lain itu BERPENGARUH, baik itu berpengaruh positif atau negatif pada orang lain di sekitar. Juan, yang sedang sakit memberi "pengaruh negatif".

Aku dan orang lain bisa berpengaruh positif dan negatif secara karakter dan kebiasaan hidup. Kebencian, kemarahan, sakit hati, dendam, egois, sombong, malas, menunda-nunda, menipu, dan sebagainya adalah contoh hal-hal negatif. Kasih, mau menolong, mau mendukung, memberi dukungan, memberikan saran, tepat waktu, antusias, rajin dan sebagainya adalah contoh-contoh karakter atau kebiasaan hidup yang positif. Semua yang ada dalam diriku, bisa menjadi pengaruh besar bagi orang lain di sekitarku. Nah, masalahnya, yang mana lebih dominan? Pengaruh negatif atau pengaruh positif?

Masalah lainnya adalah, bergaul dengan orang-orang yang dominan berpengaruh negatif atau sebaliknya? Tidak heran jika pergaulan yang buruk akhirnya menghilangkan kebiasaan yang BAIK dan BENAR.

DAYA TAHAN
Aku yang cukup padat aktivitasnya, seharusnya mulai mengantisipasi keadaan dengan menjaga kesehatan lebih dari biasanya. Tentu minum air putih 8 gelas dan teratur makan adalah hal-hal dasar untuk menjaga kesehatan. Namun, karena aku sendiri yang tahu "rasa" tubuhku, aku bisa mengetahui hal-hal yang harus aku tambahkan agar kesehatanku tetap prima. Mungkin lebih banyak minum buat atau jangan tidak teratur olahraga. Dalam karakter atau kebiasaan hidup juga aku bisa mengetahui hal-hal yang aku butuhkan agar aku tetap "sehat" dan siap jika ada pengaruh-pengaruh negatif yang mulai mendekat.

OBAT
Juan yang "berpengaruh negatif" diberi obat bukan hanya agar tidak lagi memberi "pengaruh negatif-nya" kepada orang lain tetapi dia sendiri tidak lagi MEMILIKI "pengaruh negatif" di tubuhnya.

Obat itu diberikan oleh aku dan Oce, oleh orang lain karena kami tahu dia sakit. Terkadang ada orang sakit tetapi tidak mau minum obat atau merasa tidak sakit. Orang lain yang mau membantunya berusaha semaksimal mungkin tetapi tidak bisa memaksa. Juan kami berikan obat karena kami sangat mengasihi dia sebagai anak kami. Orang lain mau membantu memberikan obat juga karena pasti ada kasih terhadap seseorang yan sedang sakit,.

Obat bagi karakter yang harus "diobati" mungkin sudah sering diberikan oleh orang lain yang melihatku "sakit" karena karakter-karakter atau kebiasaan-kebiasaan tertentu. Hanya saja, belum tentu aku mau menerima apalagi menggunakan obat itu. Kekerasan hati menjadi penghalang terbesar bagi kesembuhanku dari "sakit" karakter. Semua butuh proses. Tetapi yang terpenting adalah MAU menerimba "obat" dari orang lain yang menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menyembuhkanku.Cepat sembuh dede.

Sekedar mengajak refleksi teman-teman tentang karakter-karakter atau kebiasaan-kebiasaan hidup masing-masing.

Comments