MENGHARGAI KACAMATA MAHAL

Di akhir tahun 2014 ini aku mendapatkan berkat yang luar biasa. Sudah beberapa bulan aku menggunakan kacamata yang frame-nya adalah pemberian bos di tempat kerjaku karena kacamataku dua-duanya patah karena sering digunakan untuk bermain futsal. Aku belinya memang hanya Rp 100.000, jadi ketika sering terkena keringat, akhirnya keropos. Aku beberapa waktu tetap menggunakannya dengan diisolasi karena belum memiliki dana untuk menggantikan kacamata tersebut sampai Bosku memberikan frame kacamata yang tidak dia gunakan. Aku akhirnya hanya perlu memesan lensa sesuai mataku tanpa harus membeli frame baru. Aku bersyukur sekali karena hal tersebut, namun menurut penilaian adik-adikku atau teman-temanku, frame kacamata tersebut kurang cocok denganku karena wajahku terlihat semakin tua.

Tanpa sengaja, salah satu rekan kerjaku meminjam komputer kerjaku untuk melihat daftar optik yang bisa menggunakan kartu kesehatan yang diberikan kepada kami. Karena tertarik ingin mengganti kacamata, aku mencoba bertanya kepada staf HRD, kapan aku bisa ganti kacamata karena seingatku, aku pernah reimburse kacamata sebelumnya, hanya aku lupa kapan tepatnya. Ternyata, aku sudah bisa menggantikan kacamataku. Harga kacamata yang bisa aku beli dan ditanggung oleh kantor tempat aku berkerja ternyata jauh di atas harga kacamataku sebelumnya. Wow… tidak menunggu lama, aku akhirnya pergi memesan kacamata sesuai dengan kebutuhan dan jenis frame yang lebih cocok denganku. Harganya sedikit di atas batas harga kacamata yang ditanggung perusahaanku sehingga aku perlu membayar sendiri kelebihan harga kacamata tersebut. Secara resmi kacamataku sekarang adalah kacamata paling mahal yang aku pernah miliki.

MEMPERLAKUKAN KACAMATA
Selama ini aku sering ketika mau tidur lupa untuk menaruh kacamataku di tempat yang aman serta jika di kamar mandi ketika aku mandi, aku sering seadanya menaruh tanpa terlalu peduli apakah kacamataku tidak basah atau tidak akan jatuh. Namun, semenjak aku membeli kacamata yang baru ini, aku ditegur satu hal penting. Karena aku tahu bahwa kacamata ini mahal, maka ketika aku mau tidur, akupun segera menaruhnya di tempat yang aman. Sebelumnya, jika hanya mau baring-baringpun aku benar-benar perhatikan posisi aku baring supaya kacamataku tidak berpotensi rusak. Ketika mandipun, aku menaruhnya lebih berhati-hati untuk mencegah agar tidak jatuh. Ketika anakku Juan mau memegang kacamatakupun ketika kami berdua lagi bermain-mainpun aku larang dengan mengatakan bahwa ini kacamata mahal, walaupun pastinya dia belum mengerti.

Kacamataku yang mahal tersebut aku perlakukan dengan sangat hati-hati dan benar-benar menjaganya sebaik mungkin agar tidak rusak. Jika kacamata itu rusak dan tidak bisa digunakan lagi, maka aku harus menunggu paling cepat dua tahun untuk bisa mendapatkan kacamata dengan harga yang sama karena menurut ketentuan kantorku, untuk reimburse kacamata waktunya dua tahun sekali. Kacamata itu seolah-olah satu-satunya barang paling mahal yang aku miliki.

AKU LUPA
Aku seperti lupa bahwa sebenarnya banyak sekali barang-barang yang aku miliki sekarang harganya lebih mahal dari kacamataku. Ada kulkas, ada motor, televisi atau handphoneku yang semuanya lebih mahal dari kacamataku. Tetapi semuanya itu seperti menjadi barang biasa saja selama ini. Semuanya itu adalah hadiah yang diberikan orang lain memang kepada aku dan keluargaku tetapi semua itu harganya MAHAL.  Untuk barang-barang yang tidak bergerak seperti kulkas dan televisi aku tidak terlalu memikirkannya karena lebih aman daripada motor atau handphone yang selalu aku bawa pergi ketika kerja atau ke tempat lain. Motor aku lebih perhatikan keamanannya sekarang karena aku pernah kehilangan sepeda motor. Untuk handphone juga aku sering dengar peristiwa perampokan atau pencopetan sehingga selalu waspada.

Tetapi kusadari aku sudah terlalu lama lupa bahwa semua itu sangat berharga dan harganya mahal sampai aku membeli kacamata baru. Cara aku memperlakukan semua barang tersebut tidaklah sesuai dengan harganya. Aku terkesan cenderung “cuek” pada barang-barang tersebut. Yang paling menampar aku adalah sebenarnya ada hal-hal yang lebih mahal daripada barang-barang tersebut yang aku miliki dan sepertinya aku juga sampai saat ini belum memperlakukannya dengan pantas. Belum menghargainya dengan pantas. Orangtua, adik-adik, istri, anak, keluarga serta teman-teman adalah hal-hal yang lebih berharga daripada semua barang mahal yang aku punya. Selain itu, yang terutama adalah aku manusia berdosa ini bisa kembali berelasi dengan Allah yang kudus dan sempurna dan kelak bersekutu denganNya di surga karena sudah ditebus oleh darah yang mahal, Tuhan Yesus Kristus, karena sebanyak apapun aku berbuat kebaikan tidak bisa mencapai standar Allah yang sempurna.

Berapa banyak sikap atau perkataanku yang mengecewakan mereka serta Allah selama ini? Bagaimana sikapku kepada Tuhan ketika Dia meminta agar aku taat dan tidak berbuat dosa lagi? Apakah aku masih menyediakan waktu berkualitas bersama Dia? Apakah aku tetap percaya kasih setia-Nya ketika masa-masa sulit sedang aku dan keluargaku alami? Apakah aku datang kepada Dia ketika mengalami pergumulan atau berharap pada manusia dan uang? Apakah aku hidup memuliakanNya lewat kehidupanku sehari-hari?


MAHAL!!! Cara memperlakukan hal-hal yang mahal tentu berbeda dengan yang murahan. Itu jika menyadari hal-hal tersebut memang mahal. Hal-hal tersebut BERHARGA. Hal-hal tersebut ANUGERAH! Bagaimana aku memperlakukan kacamata mahalku seharusnya juga aku aplikasikan dalam memperlakukan barang-barang mahal lain yang aku miliki serta hal-hal mahal yang lebih berharga daripada semua barang yang aku miliki. Sebuah tamparan lagi dari Allah lewat sebuah kacamata mahal. Dalam kelemahan dan keterbatasanku Tuhan, kiranya kuasaMu sajalah yang memberikan aku kemampuan menghargai semua hal berharga dan mahal yang Engkau berikan bagiku. 29 Des 2014. @godlifjoy

Comments