BAPA

Aku pernah menulis artikel GODLIF THE FATHER ketika awal Juan anakku lahir.  Dalam tulisan itu aku menjelaskan bagaimana rasanya menjadi seorang bapa dengan segala kekhawatirannya. Belum genap Juan berusia 1 tahun, aku belajar TIGA hal lagi sebagai seorang bapa.

Aku sangat berharap Juan nanti memanggilku dengan sebutan Bapa, bukan Papi, Ayah atau Bapak apalagi Babe. Mengapa? Inilah hal luar biasa yang aku pelajari berkaitan dengan kata BAPA.

Bapa bagi umat Kristiani bukanlah kata yang asing untuk didengar atau diucapkan. Ada banyak lagu yang menggunakan kata ini karena kata ini adalah kata yang cukup banyak disebutkan di Alkitab. Kata Bapa adalah panggilan bagi umat Kristiani adalah panggilan sayang bagi Allah. Kata ini mewakili tujuan utama Allah datang menebut dosa manusia ialah kembali membangun relasi manusia dengan Dia. Sebuah relasi yang digambarkan bukan sekedar seperti relasi Bos dan Anak buah atau Tuan dan hambanya tetapi relasi sangat dekat antara Bapa dan anak.

Sekitar 10 bulan lebih aku sudah menjadi Bapa-nya Juan ketika aku menulis artikel ini. Ada beberapa kebiasaan yang menurutku adalah ciri khas seorang bapa. Tentu dalam hal ini berkaitan dengan relasi antara bapa dan anak.

TIDAK BOLEH!
Di umur 10 bulan, Juan semakin bertambah aktif. Selain dia paling suka merangkak atau berjalan sambil dipegang tangannya, dia juga suka sekali melihat hal-hal baru. Jadi barang-barang di rumah selalu dia lihat dan perhatikan lalu dia pegang. Nah, masalahnya adalah setiap kali dia memegang barang, dia pasti selalu ingin memasukkannya ke dalam mulut. Apapun barang itu, seperti Koran, karet gelang, botol minuman hingga kunci. Jadi, aku harus dengan setia selalu mengatakan TIDAK BOLEH! jika dia sudah mulai mau memasukkan barang tersebut ke mulutnya. Walaupun sudah dikatakan berulang kali, selalu saja dia ulangi ketika ada kesempatan. Pernah suatu saat aku tidak perhatikan dia sudah memasukkan karet gelang. Syukurnya istriku bisa mengeluarkan karet itu sebelum ditelannya.

QUANTITY & QUALITY TIME
Aku percaya bahwa selain waktu berkualitas, sebenarnya sangat penting juga jumlah waktu yang disediakan seorang bapa dengan anaknya. Selama 10 bulan ini, aku menyadari hari Sabtu dan Minggu sebaik apapun kualitasnya, selalu masih kurang untuk membangun relasi dengan keluarga. Makanya aku rindu semakin mengurangi kerja lemburku walau pada akhirnya membuat aku tidak mendapatkan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan kami. Aku lebih memilih untuk menyediakan waktu sebanyak mungkin dengan Oce, istriku dan Juan. Pokoknya jika sudah sampai rumah, waktu untuk hal lain aku kurangi agar aku menyediakan waktu sebanyak mungkin dengan Juan. Aku tidak sependapat dengan  banyak orang modern yang mengatakan bahwa anak laki-laki tidak bisa dekat dengan bapanya karena biasanya lebih dekat dengan mamanya, begitu sebaliknya. Aku rindu bisa berbagi banyak pengalamanku sebagai laki-laki sehingga dia punya bekal yang BENAR sebagai laki-laki.

SEGALANYA DEMI JUAN
Jujur setiap bulannya, kami bergumul untuk pemenuhan kebutuhan finansial keluarga. Oce hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Gajiku secara hitung-hitungan matematis sebenarnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan satu bulan. Juan adalah prioritas utama pengeluaran kami tiap bulan. Susu dan pampers adalah kebutuhan paling besarnya. Keinginan kami berdua memang ada tetapi kami tidak pernah masukkan ke dalam prioritas karena kebutuhan Juanpun kami bergumul. Segala hal yang halal kami lakukan demi Juan. Yang penting kebutuhan Juan dicukupkan. Kami makan seadanya tidak masalah.

IRONISNYA BAPA  (ALLAH)
Aku semakin memahami Allah sebagai Bapa lewat pengalaman 10 bulan menjadi seorang bapa. Aku malu karena pada akhirnya menjadi seorang anak yang keras kepala dan tidak percaya Allah karena tidak sadar akan karakter Allah sebagai seorang Bapa bagi manusia. Sama seperti aku sangat sayang sama Juan anakku, Bapa lebih sayang kepadaku. Sama seperti Juan dilarang untuk mencegah dia menderita karena salah makan, maka Allah sebagai Bapa yang sangat baik banyak memberi larangan karena Dia mencegah aku mengalami penderitaan jika aku melakukannya. Sayangnya aku seringkali juga mirip dengan Juan, sudah diberitahu berulang kali tetapi tetap saja masih melakukan hal-hal yang dilarang.

Allah juga sangat rindukan relasi yang dekat denganku. Itulah pentingnya SAAT TEDUH & DOA selain waktu beribadah di gereja setiap minggu. Dia ingin aku semakin memahami Dia serta Dia mau mendengarkan sharingku lewat waktu yang berkualitas dengan jumlah yang juga tidak sedikit atau apadanya. Allah juga PASTI TANGGUNG JAWAB! Dia tahu kebutuhan aku dan Dia menempatkan kebutuhanku sebagai prioritas utamaNya.

Hanya ironisnya  Allah sebagai Bapa yang sangat mengasihiku seringkali  tidak kupercaya alias kuragukan  karena aku yang terbatas ini sering menempatkan diri seolah-olah aku bisa memahami pikiran Allah 100% sehingga waktuku adalah waktu yang paling tepat menurutku. Bahkan pemikiran apa yang menjadi kebutuhanku bisa jadi berbeda menurut pemikiran Allah yang lebih mengetahui kebutuhanku sebenarnya.

Aku yang sekarang sudah menjadi seorang bapa seharusnya juga menyadari bahwa Bapaku yang di surga (Allah) tidak pernah sedetikpun melupakanku, tidak pernah berhenti mengasihiku dan tidak pernah berhenti memberikan yang terbaik bagi hidupku sesuai waktu-Nya. Amin. 29 Desember 2014. @godlifjoy




Comments