PEMECAH KONSENTRASI

Awalnya aku ingin menulis tentang perjalanan singkatku di Jogja tanggal 7-8 November lalu. Aku kembali ingin menulis karena sempat melihat twitter dari Bambang Pamungkas yang berisi link tulisan terbarunya. Dia salah satu pemain sepakbola favoritku bukan karena dia memang legenda sepakbola Indonesia tetapi juga karena dia suka menulis dan aku senang dengan tulisannya. Bahkan aku membeli bukunya. Aku akhirnya mencetak buku juga karena terinspirasi dari dia.

Sebenarnya aku tidak terlalu antusias untuk menulis bulan ini. Begitu banyak hal yang digumulkan membuat aku kurang semangat untuk menulis. Aku baru sadari hal tersebut ketika mau menulis tentang perjalananku ke Jogja. Aku tidak jadi menulis tentang Jogja tetapi menulis singkat tentang perenunganku berkaitan dengan semangat menulisku. Diingatkan lagi bahwa tantangan untuk konsistensi adalah adanya pergumulan-pergumulan yang harus dihadapi di tengah perjalanan hidup. Pergumulan-pergumulan tersebut menjadi “pemecah konsenterasi” ku untuk tetap setia menulis. Dalam perjuangan konsistensi lainnya pun pasti juga ada dan banyak hal yang berpotensi menjadi “pemecah konsentrasi”.  Entah itu dalam konsistensi berelasi dengan Allah, konsistensi berelasi dengan keluarga, konsistensi belajar, konsistensi melayani, konsistensi datang tepat waktu, dan lain sebagainya.

Apa aja bentuk “pemecah konsentrasi” dalam kehidupan? Berdasarkan pengalaman hidupku, dosa, kesibukan, pekerjaan atau masalah adalah bentuknya. Ada istilah yang menurutku sangat tepat berkaitan dengan hal ini yang kudapatkan dari pesan seorang teman via Blackberry Messenger. Apapun yang menjadi “pemecah konsentrasi” nya, semuanya itu secara bertahap membuat kita kehilangan fokus. Prosesnya yang bertahap itu seperti “bocor halus”. Secara tidak sadar kita semakin menjauh dan akhirnya benar-benar “kempes bisa menjadi “pemecah konsentrasi” yang membuat kita “bocor halus”.

Ketika aku menikmati dosa, maka itu membuatku “ bocor halus” dan akhirnya semakin menjauh dari Tuhan dan secara tidak sadar mempengaruhi hubunganku dengan orang-orang sekitarku, bahkan bisa berpengaruh besar pada segala aktivitasku termasuk pekerjaanku. Ketika sangat sibuk pada pekerjaan serta aktivitas lain di luar rumah hingga waktu dengan keluarga berkurang, maka aku bisa “bocor halus” dan akhirnya relasiku dengan keluargaku hancur.  Tidak punya waktu dengan keluarga tentu berbanding lurus dengan tidak punya waktu pribadi dengan Tuhan untuk merenungkan firmanNya sehingga Tuhan itu sekedar hanya “teori” tanpa adanya pengalaman pribadi denganNya. Teoripun sangat kurang sehingga dengan mudah diombang-ambingkan oleh pandangan-pandangan dunia yang tidak benar sehingga “bocor halus” dan cara pandang atau prinsip hidup tidak lagi sesuai kebenaran mutlak dari firmanNya tetapi segala cara pandang duniawi.


Apakah “pemecah konsentrasi” mu sekarang? Sekedar mengajak refleksi setiap pribadi yang membaca tulisanku ini.@godlifjoy

Comments