KETIKA MEREKA SELINGKUH

SEDIH, KECEWA & TIDAK PERCAYA aku rasa adalah respon yang paling dominan jika aku mendengar orang dekat atau teman yang sering berinteraksi denganku mengambil keputusan dan melakukan apa yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Ambil contoh misalnya dia selingkuh. Belum lagi jika misalnya dia dan selingkuhannya sudah punya suami atau istri dan anak yang kenal satu sama lain. Wow. Shock.

Sangat wajar jika pada akhirnya orang tidak respek kepada mereka. Sangat wajar jika mereka dijauhi. Sangat wajar jika mereka bahkan dibenci. Itu semua adalah kewajaran dalam sebuah lingkungan masyarakat yang menganggap keluarga adalah bagian sangat penting dalam hidup. Ada banyak "hukuman-hukuman" moral yang harus dihadapi karena sikap mereka. Itu wajar. Masalah itu dosa atau tidak, masing-masing punya pandangan sendiri termasuk aku. Sesuai imanku tentu apa yang mereka lakukan itu adalah dosa. Tetapi aku juga orang berdosa walau tidak melakukan hal yang sama.

Karena itu, aku memilih untuk TIDAK WAJAR terhadap mereka. Jika pada akhirnya aku harus menghadapi kondisi seperti ini maka kasihku kepada mereka tidak akan berkurang sedikitpun. Tidak akan berkurang 1% pun. Aku memang tidak setuju dengan keputusan mereka tetapi aku tidak punya hak atau otoritas untuk menentukan pilihan-pilihan hidup mereka. Begitu sebaliknya mereka. Aku menghormati itu.  Selain itu, aku tetap akan bersikap profesional jika itu yang melakukan adalah teman-teman di lingkungan pekerjaanku. Aku akan menghormati mereka jika mereka lebih tua dari aku. Aku akan tetap menjadi teman mereka yang sesekali bercanda ataupun serius mendiskusi banyak hal. Jika itu terjadi di gereja maka tentu mereka sudah mendapatkan semacam "sanksi" gerejawi. Tetapi aku tidak pernah mau menjauhkan diri dari mereka. Aku tetap mau menjadi teman bagi mereka. Aku tetap berdoa untuk mereka sama seperti selama ini aku berdoa bagi mereka setiap hari. Aku memang tetap berharap mereka kembali ke keluarga mereka masing-masing, memperbaiki yang "rusak"di dalam keluarga mereka, tetapi semua itu bukan bergantung padaku melainkan mereka yang melakukannya.

Di sisi lain, di manapun itu terjadi, entah di lingkungan pekerjaan atau gereja, walau aku masih menjadi teman mereka, aku memasang "penolakan" berdiskusi tentang iman atau relasi dengan Tuhan karena bagiku sangat tidak pantas mendiskusikannya jika dalam kehidupan nyata mereka memilih untuk tidak menaatinya. Batasan itu kubuat bukan karena aku membenci mereka tetapi karena iman itu bukanlah sekedar teori serta ritual-ritual tradisi keagamaan tetapi aplikasi nyata yang dilihat orang dan dilihat TUHAN.

Pilihan sikapku ini mungkin tidak diterima atau tidak disetujui semua orang. Bisa jadi orang lain bersikap ekstrim kiri: menjauhi bahkan menghina mereka serta meminta mereka dihukum seberat-beratnya. Di sisi lain ada yang bersikap ekstrim kanan: mengganggap itu biasa di kehidupan. Yang penting suka sama suka. Yang penting sudah tahu resikonya. Yang penting tidak mengganggu kinerja mereka dalam bekerja atau tetap setia ibadah di gereja. Aku memilih mengikuti teladan Tuhan Yesus yang Dia sangat mengasihiku dalam kondisiku yang masih terus berjuang jatuh bangun membuktikan kasihku padaNya, namun Dia juga sangat ADIL yang pada akhirnya membuat Dia sangat TEGAS. Dia tetap memberikan konsekuensi akibat dosaku.

Ini sikap yang aku pilih. Bisa jadi sikapku ini berbeda dengan siapapun yang membaca tulisan ini. Aku tidak berhak memaksa untuk harus sama dengan pendapatku. Biarlah pengalaman pribadi ditambah pengetahuan akan kebenaran mutlak menjadi dasar dari setiap sikap yang kita ambil.@godlifjoy

Comments