KETIKA MEREKA PERGI

SEPI. SEDIH. SENDIRI. Itulah yang aku rasakan saat ini. Istri dan anakku sedang pulang kampung karena ada kakak yang menikah. Komunikasi terbatas karena kesibukan serta dana yang terbatas. Setiap aku pulang kantor, biasanya aku selalu disambut Juan dan Oce di depan pintu rumah. Juan sudah tidak sabar untuk meminta aku menggendongnya. Aku dan Oce menjadi satu tim yang saling bekerjasama untuk memperhatikan Juan yang sedang dalam masa bertumbuh. Segala rutinitas itu yang walau secara fisik mungkin melelahkan tetapi secara psikis membuat aku lebih hidup.

Rasa itu baru kali ini aku rasakan karena baru kali ini aku ditinggal mereka berdua dan jangka waktunya cukup lama. Tanggal 6 Oktober mereka pulang kampung ke Sumba karena ada kakak sepupu yang menikah dan mereka baru pulang tanggal 20 Oktober, sehari sesudah aku menulis artikel ini. 2 minggu!!! Dua minggu adalah jangka waktu yang bisa dibilang lama atau juga bisa dibilang ga terlalu lama. Relatif memang. Sama seperti 5 menit itu cepat atau lama tergantung dalam situasi apa konteks 5 menit itu diterapkan. Dalam situasiku saat ditinggalkan Oce dan Juan adalah situasi yang sangat terasa lama karena kami selama ini selalu bertemu setiap hari.

Kehilangan itu bukan masalah ketidakmampuan melakukan aktivitas rutin tetapi mengenai ada ketidakmampuan melakukan aktivitas rutin tersebut dengan satu antusias yang sama. Masalah hati alias perasaan bukan masalah teknis yang terkena dampak besar dari kehilangan. Aku semakin bisa memahami bagaimana rasanya kehilangan orang-orang dekat kita ketika mereka meninggal. Jikalau aku hanya kehilangan dua minggu istri dan anakku, kematian adalah berarti kehilangan selamanya sementara klita masih di dunia. Dampak dari kehilangan tersebut lebih besar dan aku semakin mengerti memang tidak mudah untuk melewati masa-masa tersebut. Ada yang pada akhirnya bisa mengatasinya tetapi ada juga yang akhirnya menjadi tidak bergairah untuk hidup sehingga cepat “menyusul” atau pelariannya pada hal-hal negatif yang merusak dirinya.

Ada satu kalimat dari sebuah film di FOX Crime yang aku ingat berkaitan dengan hal ini. situasinya adalah seorang wanita baru saja kehilangan suaminya karena dibunuh. Dia mengatakan kepada seorang polisi sambil melihat mayat suaminya bahwa dia akan bingung harus berbuat apa nantinya karena suaminya adalah “partnernya” dalam melewati masa-masa sulit. Sang polisi yang juga wanita hanya mengatakan bahwa dia harus melanjutkan hidup. Si wanita membalas bahwa dia tidak tahu harus bagaiman menjalani hidup. Sang polisi menimpalinya dengan mengatakan bahwa dia yakin bahwa sang wanita bisa menjalaninya. Dia percaya.

Masa-masa kehilangan adalah masa-masa yang memang tidak mudah walau hanya kehilangan “sebentar” seperti aku. Aku tidak mengatakan ini karena aku cenderung melankolis tetapi dengan obyektif aku menyadari betapa luar biasanya papa mamaku sangat bahagia ketika aku atau richard pulang kampung ketika kami masih kuliah di Jogja. Kehilangan menandakan ada relasi yang sangat dekat dan penuh kasih di antara pribadi-pribadi yang mengalaminya. Tidak akan ada satu benda atau aktivitas apapun yang bisa menghibur pribadi-pribadi tersebut kecuali penghiburan dari Allah dan keyakinan ada waktu untuk bertemu kembali di waktu yang Allah tentukan. Terima kasih Tuhan untuk pengalaman yang sangat berharga ini. Aku juga menjadi sadar betapa “berkerja kerasnya” Engkau untuk bertemu dengan manusia yang berdosa ini dengan segala cara karena kasihMu sangat luar biasa dan rasa kehilangan yang besar yang Engkau rasakan ketika aku jatuh dalam dosa. Terima kasih Tuhan untuk segala hal yang Engkau lakukan. @godlifjoy(19 Okt 2014
)


Comments