ZONA TIDAK NYAMAN = ... + .... + ...

Aku sedang membaca buku SELALU ADA HARAPAN (Bagaimana Allah memakai orang-orang bermasalah) karya JI Packer.  Ada beberapa bagian di buku tersebut yang “menamparku” yaitu:
Ketiadaan harapan adalah akar dari banyak gangguan psikologi masa kini, sebagaimana yang diperlihatkan oleh meningkatnya kekerapan pembunuhan dan bunuh diri di antara kita. Bahkan ketiadaan harapan hanya muncul sewaktu-waktu, sebagai suasana hati yang menguasai sesaat lalu lenyap, tetap ia membuat kita merasa sendirian, takut dan tak sanggup bertindak. Kita menemukan diri kita tidak dapat membuat keputusan atau mendorong diri kita untuk melakukan sesuatu. Kepekaan akan kelayakan diri kita buyar menjadi keraguan, ketidakpercayaan atau ketidaksukaan diri; keyakinan ditelan oleh keputusasaan. Kita menemukan diri kita dalam suatu lorong yang tanpa terang di ujung akhirnya, hanya kegelapan yang menjadi-jadi dan akhirnya hanya dinding buntu.
Optimisme adalah angan-angan tanpa jaminan; harapan adalah suatu kepastian, dijamin oleh Allah sendiri. Optimisme mencerminkan ketidaktahuan tentang apakah yang baik sungguh akan terjadi. Harapan mengungkapkan pengetahuan bahwa setiap hari dari kehidupannya, dan setiap saat sesudahnya, orang beriman dapat berkata dengan kebenaran, berdasarkan KOMITMEN Allah sendiri, bahwa yang terbaik masih akan datang.
Kebenaran yang makin disadari oleh orang yang bertumbuh ialah bahwa kebesaran Allah jauh melampaui segala sesuatu dan bahwa dibanding dengan-Nya setiap manusia sama sekali tidak berarti.
Sebab kitab suci memperlihatkan bagaimana Allah memakai orang yang paling aneh, paling kasar, paling timpang dan paling bermasalah di antara anak-anak-Nya untuk memajukan pekerjaan-Nya, semetara pada saat yang sama Ia menopang strategi pengudusan-Nya untuk membuat keadaan moral dan spiritual merekamenjadi lebih baik. Dalam buku ini kita akan melihat Allah mengurus Simson si hidung belang, Yakub si penipu, Nehemia yang bertabiat panasan, Ny. Manoah yang kurang percaya diri, Marta si bawel yang sok mengatur dan Maria yang pasif, Yunus sang patriot bebal, Tomas si pengaku pesimis yang bodoh-bodoh pintar, serta Simon Petrus yang impulsif, berhati hangat tetapi tidak stabil.
Untuk memadamkan harapan sebagai kebiasaan akal budi dan hati, iblis mengekploitasi baik kelemahan karakter dalam diri kita maupun sikap dan perilaku cemar yang kita kembangkan yang menyaksikan adanya relasi buruk dan salah di masa lalu kita. Bahwa sebagian kita memiliki temperamen yang murung dan melankolis (ungkapan lama untuk depresi), sehingga secara alami kita terserap diri sendiri dan mengasihani diri, merasa terlempar dan tertolak, serat mengangankan yang terburuk. Sebagian kita tertekan oleh perasaan malu dan tidak berdaya (canggung, lamban; kurang cantik, cerdas, kuat, cemerlang) yang menghancurkan, sampai kita merasa tidak percaya diri, rendah diri dan menyingkir ketakutan, takut ketahuana te ntang kebodohan yang gagal kita perhatikan. Sebagian kita menanggung bekas luka pedih yang tidak dapat kita lupakan dan yang merusak yang tidak dapat kita perbaiki (dari asuhan buruk orangtua, penyiksaan, relasi pecah, pelecehan seksual, penyalahgunaan narkoba, dan sebagainya). Kenangan rasa bersalah menyimpan aib dan penghinaan diri tetap hidup dalam hati kita,.
Dampak nyata dari depresi ialah hilangnya kuasa untuk percaya bahwa ada sesuatu yang baik menantikan anda, dan salah satu penyebab depresi ialah merasa anda adalah seorang yang tidak sesuai atau asing atau pecundang. Depresi rohani terjadi ketika perasaan-perasaan seperti itu memakan habis keyakinan Anda akan kasih Allah yang luas, tak terukur, tak terbatas dan bebas.
TETAPI  JAWABAN AKHIR UNTUK SEMUA PERASAAN INFERIOR IALAH MENGINGATKAN DIRI ANDA BAHWA ALLAH ANDA MENGASIHI, MEMBEBASKAN, MENGAMPUNI, MEMULIHKAN, MELINDUNGI, MEMELIHARA DAN MEMAKAI ORANG TERPINGGIR DAN GAGAL TIDAK KURANG DARI IA MEMAKAI ORANG-ORANG BAIK YANG MELINTAS PERJALANAN HIDUP ANDA YANG SERING INGIN ANDA TIRU.
Allah melakukan perkara-perkara dahsyat dengan bahan manusia yang bercacat. Bahkan lebih ajaib lagi ialah fakta bahwa Ia memakai manusia-manusia cacat ini sementara Ia bertindak memberikan mereka pelayanan yang berarti, meskipun transformasi mereka belum selesai dan  masih ada perjalanan yang harus ditempuh dengan rekonstruksi-Nya dalam karakter mereka.
Tentu aku tidak akan menulis ulang semua isi buku tersebut. Aku sangat merekomendasikan teman-teman untuk membaca buku ini. Sangat memberkatiku ketika membaca dari sejak Bab Pendahuluan hingga cerita masing-masing tokoh Alkitab di dalam buku tersebut.
ZONA TIDAK NYAMAN
Pada tahun ini aku berumur 32 tahun. Sebuah umur yang “tanggung” jika melihat kondisi hidupku sekarang. Jika melamar pekerjaan peluangnya kecil karena biasanya perusahaan mencari karyawan dengan maksimal umurnya 30 tahun bagi lulusan S1. Aku juga sekarang belum memiliki status sebagai karyawan tetap walau aku sudah memasuki tahun ketiga bekerja di perusahaanku sekarang. Aku masih karyawan kontrak di tengah sebagian besar teman satu departemen yang sudah bekerja lebih dari satu tahun sudah diangkat menjadi karyawan tetap. Aku sendiri yang masih belum. Selain itu, gajikupun secara matematis sebenarnya tidak cukup untuk biaya hidup aku, istriku dan anakku Juan. Istriku tidak bekerja.
Mengapa aku menyampaikan hal ini adalah karena aku saat ini sadar bahwa di usia 32 tahun aku benar-benar berada di zona tidak nyaman. Aku berada dalam situasi yang sangat tidak diinginkan oleh siapapun. Namun kenyataannya aku harus jalani. Rasa putus asa, frustasi, kecewa, sedih menjadi bagian hidupku ketika usia ini.
Aku sejak Juni mengambil langkah untuk retret pribadi bukan dengan cara pergi ke satu tempat untuk beberapa waktu tetapi dengan cara sangat mengurangi aktivitasku di media sosial serta pelayanan di gereja. Sejak Juni 2014 aku tidak pernah lagi update status di BBM, Facebook, Path atau mengirimkan perenungan-perenungan singkat kepada teman-teman gerejaku. Aku sekedar menulis perenungan-perenunganku di twitter karena tidak banyak temanku yang aktif di medsos tersebut serta hanya upload foto-foto di Instagram yang sebagian besar foto anakku Juan yang sedang lucu-lucunya serta kadang perenunganku. Tetapi sangat berkurang aktivitasku di medsos dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Aku juga tidak aktif lagi melayani di Komisi Pemuda karena sudah ada pembina yang baru serta aku juga ingin teman-teman pemuda bisa lebih mandiri dan regenerasi. Aku hanya terlibat menjadi operator multimedia sebulan sekali serta liturgi Kebaktian Umum tiga bulan sekali. Aku lebih banyak melihat dan mendengar daripada “berbicara” lewat tulisan selama semester kedua tahun ini.
Aku tercengang bahwa dalam kondisi yang tidak nyaman saat ini, aku benar-benar lebih melihat Allah itu tidak pernah meninggalkan aku. Kondisi yang sudah aku sebutkan di atas membuat aku mengalami banyak pengalaman iman. Lihatlah sampai hari aku menulis artikel ini (6 September 2014), segala kebutuhan keluargaku terutama sejak Oce hamil serta lahirnya Juan selalu tercukupkan dengan cara-cara yang tidak pernah kami pikirkan. Jika dihitung-hitung, sebenarnya segala pengeluaranku selama periode berkeluarga sangat jauh melebihi pendapatanku.
AKU JUGA BELAJAR
Belum lagi begitu banyak pelajaran berharga yang aku dapatkan selama aku bekerja di tempat bekerjaku saat ini. Aku diajarkan untuk benar-benar tidak malu untuk bertanya atau meminta bantuan bukan sekedar berusaha sendiri hingga saat-saat terakhir ketika segala sesuatu sudah terlambat aku baru menyampaikan kesulitanku.
Aku juga belajar untuk memberikan solusi atau ide ketika ditanya. Ketika aku tidak memberikannya, paling tidak aku bisa memberikan rekomendasi orang yang menurutku mampu memberikan solusi atau ide yang dibutuhkan. Aku juga belajar lebih rapi dalam pekerjaan termasuk memperhatikan hal-hal detail serta belajar bagaimana cara bersikap terhadap “customer” ataupun partner-partner kerja yang memiliki karakter-karakter yang unik.
Aku belajar juga untuk menyadari bahwa walaupun sudah maksimal melakukan pekerjaanku, belum tentu orang lain menghargainya tetapi itu bukanlah yang utama. Aku belajar benar-benar mengaplikasikan kalimat “menyenangkan hati  Tuhan dalam segala perbuatanmu” selama aku bekerja. Aku belajar untuk tidak melakukan pekerjaanku seadanya walau tidak dilihat atau dihargai orang. Aku belajar untuk bisa menolong orang lain yang sedang kesulitan dengan tidak membuat mereka bergantung padaku. Aku belajar untuk menjadi orang yang terus membangun relasi yang baik dan hangat dengan segala karyawan tidak melihat pangkat jabatan atau jenis pekerjaan meeka. Aku belajar bagaimana bisa menyesuaikan diri dengan tanggung jawab yang baru yang tidak mudah dengan berinisiatif bertanya. Aku belajar tidak cepat down atau frustasi ketika melakukan kesalahan tetapi sebaliknya terus berjuang memperbaiki diri. Menurunkan standar pada diri sendiri yang aku pasang terlalu tinggi melebihi kapasitasku.
HARAPAN, IMAN dan KETAATAN
Walau masa depan termasuk pekerjaan dan segala kebutuhan yang harus dipenuhi masih gelap tetapi aku sangat belajar dari buku yang kubaca. Aku ingin terus menjaga harapanku termasuk mimpiku buat Indonesia Tengah dan Timur. Aku tidak berdoa agar aku keluar dari zona tidak nyaman, tetapi berdoa “jadilah kehendak-Mu namun jagalah hatiku tetap memiliki pengharapan, jagalah hatiku agar tetap memiliki iman serta jagalah hatiku agar tetap taat pada-Mu Tuhan”. Memandang segala sesuatu lebih positif dan lebih beriman bukan sebaliknya. Dalam ketidaknyamananku saat ini Allah tak pernah berhenti memberikan pelajaran-pelajaran hidup yang sangat berharga.
Zona tidak nyaman adalah zona yang membutuhkan tiga hal di atas, PENGHARAPAN, IMAN dan KETAATAN. Percaya bahwa Tuhan memberikan GARANSI masa depan yang indah karena IMAN bahwa Dia MAHA KUASA DAN KOMITMEN MEMENUHI JANJINYA melampaui kemampuan akal pikiranku harus diikuti tanggung jawabku agar aku MENGHORMATI DIA dengan TAAT pada KEBENARANNYA, bukan terus hidup dalam dosa serta “berselingkuh” dengan tidak menjadikan Dia sebagai satu-satu prioritas hidupku. Biarlah segala pengalaman iman yang kurasaka aku terus ingat sehingga aku selalu punya kepercayaan PENUH kepada Tuhan untuk hidupku dan keluargaku. ZONA TIDAK NYAMAN = ZONA HARAPAN + ZONA IMAN + ZONA KETAATAN.
IMMANUEL
Dalam zona tidak nyaman bukan berarti Allah lepas tangan. Dia memberikan "bekal" yang menjadi ucapan syukurku. Aku memiliki istri yang luar biasa mencintai dan memahami dan menerima aku dan kondisi kami saat ini. Dia menjadi suporter sekaligus partner yang tidak tergantikan. Aku juga memiliki Juan yang adalah anugerah dari Tuhan yang menjadi penghiburan buatku. Aku bersyukur dia bertumbuh sehat dan menggemaskan sehingga ngangenin dan memberikan energi baru ketika pulang kerja bertemu dia. Dia tidak mau bobo sebelum aku pulang. Tak bisa kulupakan juga orangtua dan adik-adikku yang setia mendukungku. Ada teman-teman KAPE GKY VTI yang sungguh membuatku bersyukur kepada Tuhan.
Ketika melihat hidup itu ada harapan dalam kelemahan diri maka hidup tidak dipandang begitu menyedihkan ketika usia bertambah. Ketika banyak hal yang disesali di usia yang bertambah jangan sampai begitu menguasai pikiran sehingga lupa kasih Allah tdk berkesudahan.
Aku menulis ini bukan dengan satu kondisi aku SELALU MENJAGA pengharapan, iman dan ketaatanku. Aku menulis ini dalam satu kesadaran bahwa perjuangan untuk memiliki karakter yang benar dalam zona ketidaknyamanan adalah perjuangan seumur hidup, jatuh bangun, namun pantas dan wajar untuk terus diperjuangkan. aku hanya mohon setiap yang membaca tulisan ini menyempatkan diri untuk mendoakan aku dan keluargaku agar tetap setia berjuang menjaga PENGHARAPAN, IMAN DAN KETAATAN KAMI. Terima kasih.

Comments