KEKHAWATIRAN MEMBUNUH SENYUM MANISKU

Menerima tanggung jawab yang aku tahu akan tidak mudah sangat membuatku khawatir berlebihan. Aku diberikan banyak tanggung jawab baru untuk mempersiapkan tahun ajaran baru yaitu menjadi penanggung jawab (PIC-Person in Charge) penjualan seragam, toga wisuda dan pengadaan tudent Diary.

Penjualan seragam adalah tanggung jawab yang paling membuatku khawatir karena aku sudah melihat tahun ajaran lalu bagaimana rekan kerjaku yang menjadi PIC cukup kewalahan. Akupun langsung berjuang semaksimal mungkin mempersiapkan segala sesuatu termasuk berkoordinasi dengan setiap departemen lain yang turut ambil bagian dalam proyek penjualan seragam. Semakin mendekati periode penjualan semakin aku khawatir dan banyak minta banyak dukungan doa. 

Walau minta dukungan doa tetapi aku seperti tidak sungguh-sungguh percaya Tuhan akan menolongku sehingga kekhawatiran berlebihan muncul dan membuatku sulit untuk tersenyum tulus. Aku benar-benar merasa bahwa walau semuanya sepertinya sudah beres, tetap akan ada hal-hal yang tidak terduga dan merusak jalannya penjualan seragam. Berbagai macam “hal-hal negatif” secara tidak sadar aku munculkan karena begitu khawatirnya diriku.

Setelah sempat tidak jadi dirotasi, akhirnya aku diberikan tanggung jawab di bagian tata usaha SMP & SMA (ACOP MSHS), setelah sebelumnya dari awal kerja aku di bagian TK & SD. Tantangan baru dengan ketakutan karena cerita-cerita teman-teman yang cenderung 'menyeramkan' mengenai keadaan di SMP & SMA.

Tetapi aku belajar bahwa inilah saatnya aku kembali keluar dari zona kenyamananku untuk mencoba hal yang baru yang memang sepertinya akan sangat menakutkan. Tetapi sama seperti penjualan seragam yang berjalan dengan lancar tanpa ada satu masalah besar yang menggangu, maka aku percaya bahwa ketika aku berkerja di sana, masalah mungkin ada, tetapi Tuhan juga masih ada menyertaiku untuk bisa mengambil respon yang tepat dan benar menghadapi segala tantangan yang ada nanti.

Di luar masalah pekerjaan, masih banyak tantangan hidup yang aku harus hadapi terutama sebagai kepala keluarga. Memang tidak mudah, tetapi aku ingin selalu ingat bahwa sampai saat ini, Tuhan memberikan banyak bukti bahwa Dia menyertaiku di masa-masa yang penuh kekhawatiran termasuk ketika diberi tanggung jawab menangani penjualan seragam. Aku ingin menjaga imanku pada-Nya dan hanya mengandalkan hikmat dari pada-Nya dalam mengambil setiap keputusan. Aku tidak mau kekhawatiran membunuh senyumku lagi

(Aku tulis buku SEUMUR HIDUP AKU SEKOLAH: kumpulan sharing pengalaman-pengalaman hidupku serta refleksi firman Tuhan. Jika berminat memesannya, silahkan hubungi aku via message di fb atau email godlifjoy@gmail.com jika tidak mempunya no hp atau pin BBM.)


Comments