AKU MENYINDIR? BISA JADI


“bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terpupuk dalam riak besar kehidupan”
(Merry Riana)

Aku suka menulis. Sebagian besar teman-teman mungkin sudah melihat hal itu, bahkan beberapa teman mungkin tahu aku sudah menerbitkan buku. Selain itu, aku sering update status di Blackberry Messenger (BBM), Twitter, Facebook, Path atau Instagram. Aku juga punya website sendiri. Belum lagi aku juga menjadi bagian dari tim redaksi Buletin EMBERRR.

Buku aku berisi kumpulan sharing pengalaman-pengalaman kehidupan sehari-hariku  dan pelajaran-pelajaran yang aku dapatkan dari pengalaman-pengalaman tersebut. Bisa jadi pengalaman-pengalamanku juga dialami oleh teman-teman sehingga pelajaran-pelajarannya harapanku bisa menjadi berkat dengan memberi referensi untuk direfleksikan (direnungkan) bagi setiap yang membacanya, entah itu menjadi peringatan atau menegur mereka. Untuk update status di BBM, Twitter, Facebook, Path atau Instagram sebenarnya hampir sama dengan maksud dari aku menerbitkan buku.

Hanya saja, segala update statusku atau lebih tepatnya apa yang aku tulis di BBM, Twitter, Facebook, Path atau Instagram memiliki potensi besar membuat orang lain tersinggung. Mengapa? Karena tidak semua yang membacanya melihat dari sisi positif maksud dari tulisanku tersebut.  Apa yang aku tulis di media sosial selalu berdasarkan kejadian-kejadian yang aku alami sendiri dan juga aku lihat di lingkungan sekitarku. Lingkungan sekitarku yang paling dekat adalah keluarga, gereja dan tempat kerja. Aku mengambil pelajaran-pelajaran yang aku renungkan terlebih dahulu dan bisa jadi karena sama dengan apa yang dialami oleh orang lain, mereka merasa bahwa aku menyindir mereka.

#SISINEGATIF
Benar jika dilihat dari sisi negatif untuk merendahkan orang lain, untuk merasa lebih baik dari orang lain, untuk menjatuhkan orang lain maka tulisanku disebut menyindir. Istilah menyindir lebih berkonotasi negatif. Yang menyindir biasanya tidak suka dengan sikap atau kebiasaan seseorang tetapi tidak punya kapasitas atau kemampuan untuk menegur orang tersebut SECARA LANGSUNG. mengapa? Bisa jadi karena orang yang disindir adalah orang yang susah untuk menerima teguran sehingga yang terjadi adalah konflik berkepanjangan. Intinya menyindir sering digunakan sebagai bentuk kekesalan karena sikap seseorang yang pada akhirnya tidak bisa atau tidak mau disampaikan langsung. Sadar atau tidak sadar, sindir menyindir sudah menjadi “budaya” di lingkungan kita. Bahkan ketika debat calon presidenpun banyak saling sindir untuk menjatuhkan calon presiden lainnya.

#SISIPOSITIF
Sekali lagi aku akui, tulisan-tulisanku inspirasinya adalah dari pengalamanku pribadi atau pengamatanku pada pengalaman atau kebiasaan atau tingkah laku orang lain di lingkungan di mana aku sering berinteraksi. Tetapi TUJUAN dari tulisanku BUKAN untuk menyindir seseorang tetapi lebih tepatnya untuk MENCARI PERHATIAN setiap yang membacanya agar setelah membacanya bisa merenungkan sejenak apa yang kutulis sehingga bisa membuat pembaca  tersebut mendapatkan pelajaran juga dari yang kutulis berkaitan dengan kehidupannya.

Aku menulis dengan kesadaran penuh bahwa aku bukan manusia yang sempurna dan masih banyak kelemahan serta melakukan banyak dosa. Aku tidak mengganggap diriku lebih baik dari orang lain. Aku hanya sedang belajar dan jika Tuhan berkenan bisa membantu orang lain juga belajar lewat tulisan yang kutampilkan di media sosial.

Seperti kutipan dari Merry Riana di awal tulisan ini, aku berharap pada akhirnya biarlah masing-masing melihat dari sisi positif bahwa lewat refleksi setiap pengalaman hidup yang kutulisan di media sosial menjadi salah satu bahan referensi agar kita rame-rame bertumbuh membangun watak yang benar di hadapan Allah bukan untuk menjatuhkan atau merendahkan orang lain.

#TIDAKSEMUA
Pada akhirnya, aku percaya pada kutipan “aku tidak bisa menyenangkan semua orang, tetapi aku bisa mengasihi semua orang”. Setelah membaca tulisanku ini, mungkin tetap ada yang tidak percaya pada apa yang aku tulis ini dan tetap menganggap aku menyindir orang lain. Tidak semua orang akan bisa menerima penjelasanku, sama seperti setiap minggu hamba Tuhan berkhotbah tetapi tidak semua jemaat yang datang ke gereja mendengarnya bisa menerima dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi pribadi yang lebih dewasa. Wajar. Aku bisa memahami tetapi kenyataan itu tidak akan pernah mengurangi kasihku kepada setiap pribadi yang tidak percaya pada penjelasanku ini.


Tulisanku menyindir orang lain? Bisa jadi jika orang tersebut melihat dari sisi negatif. Tetapi jika mencoba melihat dari sisi lain, maka penjelasanku di atas pasti bisa diterima. Hobi menulisku menjadi sarana aku bisa mendukung orang lain untuk menjadi pribadi lebih baik sesuai kebenaran mutlak yang sesungguhnya bukan untuk merendahkan atau menjatuhkan orang lain.#Godlif

(Aku tulis buku SEUMUR HIDUP AKU SEKOLAH: kumpulan sharing pengalaman-pengalaman hidupku serta refleksi firman Tuhan. Jika berminat memesannya, silahkan hubungi aku via message di fb atau email godlifjoy@gmail.com jika tidak mempunya no hp atau pin BBM.)



Comments