SAYA MENDUKUNG KEBIJAKAN MATI LAMPU


Beberapa waktu terakhir ini, aku dengar dan mengalami di daerah Jakarta dan Tangerang SERING terjadi mati lampu dan menurut informasi yang kudengar, mati lampu tersebut juga bergilir karena adanya kerusakan atau kurang pasokan listrik di salah satu PLTU yang menjadi sumber arus listrik dua daerah ini.

Sedikit menyimpang, sebenarnya sedikit menertawakan diri sendiri karena menggunakan istilah mati lampu. Seharusnya istilah yang mungkin lebih tepat adalah matinya arus listrik. Karena mati lampu sebenarnya juga biasa digunakan ketika bola lampu rusak atau karena memang sengaja lampu ruangan dimatikan ketika hendak keluar ruangan tersebut. J

Mengapa saya mendukung adanya mati lampu?
Kemarin, rumah kontrakanku kena giliran mati lampu yang cukup lama. Dari sore hingga hampir jam 9 malam lampu tidak bisa nyala. Juan yang sudah biasa tidur di ruangan AC pun menjadi rewel dan harus aku dan oce bergantian “ngipasin” Juan dengan menggunakan Koran.

Mati lampu membuat banyak sekali aktivitas yang biasa dilakukan tidak bisa dilakukan karena mayoritas aktivitas penting dalam kehidupan manusia sekarang sangat bergantung pada listrik. Oce tidak bisa mencuci ataupun menyeterika. Hanya handphone saja yang belum low bat sehingga masih bisa digunakan. Hampir sepanjang mati lampu aku dan oce bersama dengan juan di kamar ditemani lampu “emergency”.

Aku mendukung terjadinya mati lampu karena terkadang perlu terjadi kejadian tersebut untuk “MEMAKSA” aku untuk BERHENTI SEJENAK dalam segala kesibukan dan segala pikiran yang penuh entah itu selama satu hari, satu minggu, satu bulan atau bahkan satu tahun. Mati lampu membuat ada waktu DIAM dan TENANG dan mengatur kembali ritme aktivitas tanpa terburu-buru.

Tentu alasan mati lampu ini akan sangat ditentang oleh segala perusahaan komersial yang untung ruginya sangat dipengaruhi ketersediaan pasokan arus listrik yang tidak pernah berhenti. Itulah sebabnya mini market selalu menyediakan generator termasuk juga perbankan dan kantor-kantor komersial lainnya.

TUHAN “MEMATIKAN LAMPU” HIDUPKU
Terlepas dari sisi negatifnya dari mati lampu, aku melihat terkadang Tuhan “mematikan lampu” hidupku dengan cara-cara yang bervariasi agar aku menyediakan waktu lebih banyak untuk “PAUSE” atau memasukkan perseneling ke “gigi netral” dan secara berangsur memulihkan energiku secara fisik maupun pikiran.

Tuhan bisa mengijinkan aku sakit, bahkan aku kecelakaan seperti terjadi tahun 2010 (KECELAKAAN 19 APRIL 2010- buku SEUMUR HIDUP AKU SEKOLAH) atau juga yang direncanakan seperti cuti serta jalan-jalan bersama keluarga untuk membuat aku lebih segar.

Karena itulah, jika ada mati lampu, adalah baik menyediakan waktu bukan untuk memainkan handphone atau laptop atau segala kesibukan diri sendiri, tetapi menyediakan waktu untuk memiliki waktu berelasi dengan keluarga atau teman yang dekat dan terutama TUHAN sehingga energi hidup kita terisi lebih banyak lagi dan mampu dengan baik dan benar menjalankan segala tantangan masalah yang Tuhan ijinkan kita alami.
Mari melihat mati lampu dari sisi positifnya juga, jangan hanya dari sisi negatifnya. Sama seperti juga banyak hal dalam kehidupanku, selalu ada pelajaran dari banyak pengalaman tidak menyenangkan. #SEUMUR HIDUP AKU SEKOLAH

(Aku tulis buku SEUMUR HIDUP AKU SEKOLAH: kumpulan sharing pengalaman-pengalaman hidupku serta refleksi firman Tuhan. Jika berminat memesannya, silahkan hubungi aku via message di fb atau email godlifjoy@gmail.com jika tidak mempunya no hp atau pin BBM.)

Comments