GODLIF THE FATHER (2K)


Tanggal 16 Februari 2014 jam 19.57 seorang anak telah lahir di Rumah Sakit Hermina Tangerang. Nama anak tersebut adalah Juan Frederick Christian PoEh. Juan artinya adalah anugerah Allah yang maha indah, Frederick artinya ketenangan. Frederick juga terinspirasi karena bertepatan tanggal tersebut ulang tahun dari Ibu Frederika Gili Menno, yang adalah oma (nenek) dari Juan. Christian adalah bahasa Inggris dari Kristen yang artinya pengikut Kristus dan PoEh adalah marganya.

Dari masa kehamilan istriku, aku dan istriku sudah banyak berdiskusi menentukan nama dari si kecil dalam kandungan. Nama Juan sudah menjadi nama favorit yang sangat ingin aku pakai sebagai nama anakku karena artinya yang sangat bagus dan nama tersebut masih belum terlalu sering digunakan oleh lingkungan keluarga besarku.

Aku menulis tulisan ini dalam kapasitas sebagai rookie (pendatang baru) di dunia “per-orang tua-an”. Aku sangat kagum dengan Allah yang tidak pernah berhenti mengajarkan aku banyak hal tanpa harus menunggu aku sudah berusia lanjut. Ketika aku selesai menulis tulisan ini, umur Juan adalah 0 tahun, 0 bulan, 9 hari. Dalam usia yang masih terhitung hari saja Dia memberikan peringatan padaku dua hal besar yang bisa berpotensi menjadi pergumulan utamaku sebagai orangtua.

Daftarnya Pasti Panjang
Hal besar pertama adalah KHAWATIR. Benar. Khawatir adalah DOSA yang bisa saja sering aku jatuh di dalamnya. Nanti bayar biaya persalinan dari mana sedangkan uang tabunganku tidak cukup jika operasi caesar? Nanti beli segala perlengkapan Juan bagaimana? Nanti untuk periksa rutin dan imunisasi bagaimana caranya? Beli susu uangnya apakah cukup untuk satu bulan? Segala hal di depan yang penuh dengan “kewajiban” untuk mengeluarkan uang sangat memungkinkan untuk menekan diriku, membuat aku stres, frustasi, putus asa  dan bisa mempengaruhi hal lain menjadi tanggung jawabku baik itu dalam pekerjaan maupun pelayanan.

Belum lagi jika memikirkan bagaimana aku bisa mendidik Juan sesuai kebenaran firman-Nya sedangkan sepertinya tantangan mendidik anak jaman sekarang sangat berat dibandingkan jaman aku masih kecil. Kekhawatiran lain yang bisa timbul adalah dalam hal pendidikan. Bagaimana bisa membiayai Juan di sekolah yang berkualitas dalam keterbatasan finansialku? Daftar kekhawatiranku bisa lebih panjang dari tulisan ini. Aku semakin hormat dan menghargai orangtuaku yang sangat luar biasa melewati banyak tahun dengan godaan dosa khawatir ketika membesarkan aku dan adik-adikku. Mereka pasti pernah mengalami masa-masa yang tidak mudah dan kekhawatiran menghantui.

Selain kekhawatiran menjadi semakin lengkap ketika diikuti dengan KURANG IMAN. Melihat masa depan yang sepertinya berat dengan kacamata ukuran kemampuanku sebagai manusia tanpa memiliki iman bahwa jika Allah memberikan anugerah sebuah kepercayaan menjadi orangtua, maka Dia tidak akan pernah meninggalkanku sendiri menjalani kepercayaan tersebut karena Dia PASTI TAHU bahwa aku manusia yang naturnya sudah berdosa dan tidak sempurna.

Sangat mudah aku meragukan Dia ketika masa-masa menjadi seorang ayah harus dijalani hari demi hari. Aku bisa dengan gampang merasa down dan tidak datang kepada-Nya. Aku mungkin bisa berdoa minta tolong kepada-Nya, namun hatiku sesungguhnya tetap ragu. Aku berdoa tanpa IMAN yang benar. Aku minta didoakan tetapi tetap 100% memikirkan jalan keluar dengan pikiranku sendiri tanpa bertanya atau menunggu Tuhan bekerja atau memberitahu langkah apa yang aku harus ambil.

Allah Mengambil Resiko Besar
Juan yang masih berumur 9 hari membawaku menyadari betapa Allah sangat luar biasa mau mengambil resiko memberikan kepercayaan kepadaku untuk menjadi seorang ayah. Dia pasti tahu segala hal tentang diriku. Kekuatan dan kelemahanku. Dia tahu kondisi hidupku. Dia tahu segala tantangan yang akan aku hadapi. Dia tahu segalanya. Dia MAHA TAHU. Dia Allah. Jika Dia berani mengambil resiko, maka aku percaya Dia sedang mengajakku untuk belajar mengenal Dia lebih lagi lewat setiap pengalaman yang Dia ijinkan aku rasakan sekarang dan di masa depan. Dia tidak pernah sedetikpun meninggalkanku dalam masa-masa aku sebagai seorang ayah. Aku tidak perlu khawatir dan aku tidak boleh kurang iman. Segala sesuatu bukan berarti akan mudah dihadapi tetapi BISA dihadapi. Yang perlu aku lakukan adalah tetap menjaga relasiku dengan-Nya. Tanpa ada relasi yang baik, maka akan sulit timbul kepercayaan dan akibatnya kekhawatiran dan kurang iman menyelimuti pikiranku.

Sebelum Juan lahir hingga hari aku menulis artikel ini ada banyak orang yang menjadi perpanjangan tangan-Nya memberikan dukungan yang luar biasa kepada kami lewat berbagai cara termasuk lewat doa. Aku tidak boleh lupa bagaimana Allah bekerja melalui mereka yang tidak bisa aku sebutkan satu per satu. Jemaat GKY VTI yang luar biasa, teman-teman di Binus Internatinonal School Serpong yang mengagumkan dan membuat terharu terutama karena kreativitas kalian, belum lagi banyak teman-temanku yang lain dan terutama keluargaku yang tidak pernah lelah mendukung kami termasuk ketika Oce dioperasi. Tidak bisa aku lupakan Dr. Dessy yang mengasihi kami sehingga dia setiap periksa rutin tidak membebani dengan biaya jasa dokter. Bahkan untuk jasa dokternya ketika operasi Caesar Oce dan visitnya setelah operasi semua dipotong 50%. Kami mengucap syukur karena kasih kalian semua. Sekali lagi aku tidak boleh lupa bagaimana Allah bekerja melalui kalian semua. Allah memberkati kalian.

Kekhawatiran dan Kurang Iman

Memandang wajah Juan yang sedang tidur dengan pulas sambil sesekali menciumnya atau ketika aku harus mengganti pakaiannya yang basah karena pipis atau kotor karena buang air besar di waktu subuh membawa aku merenungkan bahwa kepercayaan besar sebagai seorang ayah dari Juan adalah “mata pelajaran” baru yang Allah sedang ajarkan. 2K, (K)ekhawatiran dan (K)urang iman adalah dua hal yang aku percaya Dia ingin aku semakin hilangkan dalam diriku lewat mata pelajaran sebagai seorang ayah ini. Bisa jadi tulisan ini akan bersambung karena ada hal-hal baru yang aku pelajari sebagai seorang ayah. I am a father. I am the father of my lovely son, Juan Frederick Christian PoEh.

Comments