SURAT PERINGATAN KEPADA PAK ALFRI




Jumat siang aku makan bersama teman satu departemen di warteg langganan kami. Aku seperti biasa membawa makanan yang telah dimasak oleh istriku tercinta dan hanya memesan nutrisari hangat karena badanku terasa mau flu.

Kali ini makan siangku sedikit berbeda karena seorang staf dari departemen lain ikut makan di warteg yang sama. Dia adalah koordinator manajemen gedung TK dan SD. Namanya Pak Alfri. Ruangannya berdekatan dengan ruanganku. Kami masih berada di satu gedung.

Setelah menghabiskan makan siang kami, waktu istirahat belum selesai. Aku ngobrol sebentar dengan Pak Alfri sementara teman satu ruanganku berangkat untuk sholat jumat. Pembicaraan kami dimulai dari pembicaraan mengenai kendaraan. Aku bisa mengambil kesimpulan pak Alfri dalam mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang. Segala informasi dia kumpulkan sebelum mengambil keputusan sehingga tidak ada rasa penyesalan.

ERTIGA DAN REVO
Ketika dia hendak membeli mobil menggantikan Karimun-nya, dia sebenarnya membandingkan Avanza dengan Grand Livina. Dari sisi harga memang akhirnya Grand Livina lebih mahal karena banyak bagian di dalam mobil tersebut kualitasnya berbeda dengan Avanza. Namun karena harga yang cukup mahal, pak Alfri tidak langsung membelinya.

Kemudian muncullah Suzuki Ertiga. Pak Alfri mencari informasi mengenai kendaraan ini dan pada akhirnya ketika selesai membandingkan dengan Avanza dan Grand Livina, dai memutuskan membeli Ertiga karena dengan harga yang lebih murah daripada Avanza, dia mendapatkan kualitas yang sama bahkan dalam beberapa hal lebih baik dari Grand Livina.

Dia juga sempat jelaskan bahwa dia menyukai motor Revo karena “stang”nya yang ergonomis sehingga nyaman untuk pengendara ketika mengendarainya termasuk dalam perjalanan jauh. Wah, sebuah pengetahuan yang luar biasa dan sangat memberikan masukan buat saya. Mengambil keputusan penting memang tidak bisa tanpa ada informasi yang cukup. Akan ada penyesalan

Namun satu hal lain yang memberkatiku adalah ketika dia bertanya mengenai perasaan saya kerja di BINUS. Saya katakana saya menikmatinya karena di BINUS saya didorong jadi lebih baik. Dia sependapat dengan saya. Saya lalu sempat ceritakan tentang bos saya di kantor saya yang lama yang sangat “gila kerja” sehingga dia tiap hari datang lebih awal dari staf lain dan pulang larut malam melebihi staf lain. Dia adalah pribadi yang ketika libur akhir pekan Sabtu Minggu atau ketika aku dan teman satu departemenku mendapat reward berlibur gratis ke Bali, dia tetap menelepon dan membahas pekerjaan.

Kepercayaan kepada bawahan & perfeksionis adalah dua karakter yang ada di dalam diri atasanku ini. Aku mengatakan ini bukan dengan merasa aku lebih baik dari dia dan merendahkan dia. aku juga punya kelemahan. Aku membahasnya dalam konteks suasana kerja yang diperlukan oleh seorang staf. Contoh nyata tentu perlu.

SMA DAN SARJANA
Pak Alfri menanggapi cerita saya dengan menceritakan sedikit tentang suasana pekerjaan yang membawahi petugas keamanan yang notabene lulusan SMA harus memiliki pendekatan yang berbeda dengan lulusan Strata satu (S1). Tentu karena pendidikan, karakter lulusan SMA lebih cenderung berpikir nothing to lose (berpikir pendek) berbeda dengan sarjana. Tentu akhirnya pendekatannya harus lebih halus dengan pengarahan yang jelas. Jika sarjana tentu harus diberikan kepercayaan yang lebih setelah diberikan arahan yang jelas. Tanpa ada kepercayaan maka waktu penyelesaian tugas akan lebih lama.

Berbicara mengenai kinerja pada akhirnya, jika ada kesalahan, maka surat peringatan (SP) itu memang wajar diberikan. Nah, surat peringatan ini harus dimaknai dari sisi positifnya. Kata utama dari SP adalah INGAT. Jadi surat peringatan ini bukanlah suatu bentuk kebencian manajemen perusahaan namun sebuah bentuk untuk mengingatkan karyawan yang menerimanya agar di kemudian hari tidak mengulanginya lagi.

Pak Alfri sendiri mengakui bahwa dia pernah mendapatkan surat peringatan. Namun dia menyikapinya sebagai bentuk dorongan untuk menjadi lebih baik di masa depan dengan salah satunya tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sekarang dia menjadi pribadi yang walau aku baru mengenalnya namun bisa melihat bahwa dia pribadi yang layak menjadi teladan. Komunikatif dan kooperatif dengan tetap berada dalam koridor yang diijinkan.

Terima kasih untuk inspirasi makan siangnya pak.

Comments