2 Kegagalan

“Kesombongan = menilai diri terlalu subyektif tanpa mau terbuka untuk dinilai obyektif (baca: dievaluasi) oleh Tuhan dan sesama”-Godlif

Sebenarnya tahun 2012 adalah tahun yang spesial bagi diriku karena pada tahun inilah aku menikah,tepatnya tanggal 26 Oktober. Setelah 8 tahun berpacaran, akhirnya Tuhan mengijinkan saya dan Oce menjadi suami istri dan membangun sebuah keluarga bersama.

DUA KEGAGALAN
Sejak tanggal 21 Mei aku pindah kerja menjadi staf tata usaha dari sebuah sekolah internasional. Tanggung jawabku seperti yang pernah disebutkan di tulisanku sebelumnya yang paling dominan adalah mengurus kegiatan ekstrakulikuler TK dan SD. Tanggung jawabku tersebut dimulai dari mempersiapkan kerjasama dengan pelatih dari luar sekolah, mengatur pemakaian ruangan, registrasi online hingga perlengkapan-perlengkapan yang harus disiapkan.

Ketika awal masuk di kantor yang baru, aku sudah diberikan penjelasan mengenai semua tanggung jawabku. Segala sesuatu pada awalnya berjalan baik ternyata tidak berlangsung lama. Aku salah memahami informasi yang aku dapatkan sehingga terjadi sebuah kekacauan yang sangat fatal akibatnya. aku harus mempertanggungjawabkan kesalahanku dengan surat permintaan maaf kepada orang tua murid. Bukan awal yang member kesan positif bagi rekan-rekan kerja yang lain.

Selain itu, dalam aktivitas pekerjaanku, selalu aku kurang teliti sehingga banyak hal-hal sederhana namun berdampak besar tidak bisa aku kerjakan dengan baik. Mungkin respek para rekan kerja dan guru-guru sekolahku semakin berkurang. Dan hal ini sering terjadi walau aku sudah berusaha maksimal untuk teliti. Masih saja ada yang terlewatkan.

Setiap orang memang tidak sempurna. Kesalahan adalah hal yang wajar. Namun tentu pendapat umum juga mengatakan bahwa kesalahan yang terus terulang juga bukan merupakan sesuatu yang bisa ditoleransi. Ketika waktunya penilaian kinerja sebelum ditentukan kenaikan gaji dan perpanjangan kontrak kerja, aku harus dengan penuh kejujuran menilai diriku dengan standar yang rendah karena memang begitu kenyataannya.

Selain kegagalan dalam pekerjaan aku juga gagal memenuhi janjiku yang kusampaikan kepada semua teman-teman pemuda, yaitu bisa mengendarai mobil.

Dua kegagalan ini membuat aku down dan merasa ingin menyerah dan sedikit marah pada diri sendiri. Kata yang sering keluar adalah “WHY GOD?”. Bukan marah pada Tuhan namun meminta tolong pada Tuhan memberitahukan mengapa aku sering melakukan kesalahan dan sangat fatal.

MEMBANDINGKAN
Sejak Desember 2009 aku bekerja di Jakarta hingga Mei 2012. Pengalaman manis dan pahit aku rasakan. Aku mendapatkan banyak sekali pelajaran-pelajaran penting dalam kehidupan lewat pengalaman-pengalaman tersebut. Aku menilai bahwa pekerjaanku adalah pekerjaan yang cukup “keras” sehingga aku merasa bahwa jika aku bekerja di dunia pendidikan di tempat aku bekerja yang baru, aku bisa lebih “santai”.

Secara tidak sadar, aku sudah mulai membandingkan satu pekerjaan dengan pekerjaan lain. Aku merasa bahwa aku yang sudah banyak makan asam garam sudah pasti bisa melakukan tanggung jawab baruku di pekerjaan baruku karena aku menilai bahwa pekerjaanku yang baru tidaklah sekeras pekerjaanku yang lama. Perbedaan yang paling aku banggakan adalah di pekerjaan baruku aku tidak harus sering lembur dan jarak tempuh dari rumah lebih dekat 50% dibandingkan pekerjaan lamaku.

Perbedaan itu memang sangat positif di satu sisi. Di sisi lain aku menjadi pribadi yang SOMBONG. Di awal-awal bekerja semuanya berjalan mulus dan itu semakin membuatku SOMBONG. Aku merasa aku akan dengan mudah dihargai orang dan aku memang ingin orang menghargai aku. Semuanya itu menjadi sulit kudapatkan karena kesalahanku.

Sampai saat inipun aku bersyukur aku gagal karena lewat kegagalan itu aku belajar untuk menghilangkan rasa sombongku. Kesombonganku tidak aku perlihatkan oleh orang lain, hanya di dalam diriku saja. Dan itu semua dihancurkan lewat kegagalan demi kegagalan. Aku menjadi SADAR DIRI aku sangat sangat terbatas dan masih harus banyak belajar.

MASIH BERJUANG
Saat ini aku masih terus berjuang setiap hari untuk menjaga diriku untuk tidak sombong. Aku tidak bisa berjuang tanpa mengandalkan Tuhan karena jika aku merasa aku mampu sendirian berjuang maka aku sombong. Perjuangan yang tidak mudah. Jatuh bangun. Kadang berpikir, lebih baik tinggal di desa dan jadi staf administrasi sekolah negeri yang akhirnya tidak banyak tuntutan dibandingkan kerja di kota. Jadi tidak mengecewakan orang lain sekaligus tidak sombong. Tapi selalu ditegur Tuhan yang mengatakan bahwa bukan itu caranya untuk tidak jatuh dalam kesombongan. Ini bukan masalah di mana kita berada namun mengenai prinsip hidup dan hati kita. Tanpa kesadaran bahwa semuanya adalah anugerah dan pertolongan dari Tuhan, maka kita bisa sombong dalam hal-hal kecil di tempat-tempat terpencil sekalipun. Yang harus dirubah adalah prinsip hidup (Baca: karakter).

Akhir kata, aku menulis ini sebagai bagian untuk mengingatkan aku agar tidak mengulangi kesombongan yang sama serta jika memang Tuhan berkenan bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.

“aku menasehatimu bukan karena aku pintar tapi karena aku pernah mengalami kegagalan”@PEPATAHKU


Comments