Allah si Tukang Ojek


Sebenarnya banyak sekali yang ingin kutumpahkan lewat tulisan di bulan lalu, namun karena banyaknya kesibukan, pada akhirnya kulewatkan Februari tanpa menulis. Jika tahun lalu di bulan Januari-lah aku tidak menulis artikel, maka tahun ini bulan kedua. Aku berharap tahun depan bisa menulis setiap bulan karena lewat menulis aku bisa menjaga "kesegaran" pikiranku :D

Di tanjakan daerah Sangiang, dekat rumahku, terdapat pangkalan ojek yang siap untuk mengantar para penumpang angkot yang rumahnya tidak dilewati angkot. Aku pernah kehilangan motor dan peristiwa itu pernah aku ceritakan dalam tulisanku sebelumnya. Selamat belum mendapatkan motor baru, aku sempat beberapa kali naik ojek setelah pulang kantor ke rumahku. Aku sebenarnya bisa naik angkot dari tanjakan lalu turun di perempatan jalan menuju rumahku dan jalan kaki atau naik becak sekitar 1 kilometer ke rumahku. Kalau naik angkot lalu jalan kaki aku mengeluarkan uang Rp 2.000. Kalau naik angkot lalu dilanjutkan naik becak habisnya Rp 7.000 (Rp 2.000 angkot + Rp 5.000 becak). Kalau naik ojek, Rp 5.000 sudah langsung dari tanjakan tiba di depan rumahku. Aku sering memilih naik ojek karena hemat jika dibandingkan naik angkot + becak dan tidak capek dibandingkan naik angkot + jalan kaki. Kelelahan setelah bekerja membuat aku memilih naik ojek. Aku hanya perlu bilang "Regency 1" dan si tukang ojek langsung meluncur ke rumahku karena sudah kenal daerah tersebut.

Ciri-ciri Tukang Ojek
Aku coba memikirkan ciri-ciri tukang ojek. Selain itu ada pendapat dari beberapa teman lain yang tidak terpikirkan olehku, antara lain: 

  1. jika dibutuhkan baru dipanggil dan datang (Calvin) 
  2. mereka akan mengantar ke manapun tempat yang ingin aku inginkan
  3. mereka butuh penumpang untuk mendapatkan penghasilan
  4. harga ojek bisa ditawar-tawar (Debby)

Sunggu ironis apa yang dialami oleh tukang ojek. Mereka bisa diminta untuk mengantarkan kepada tujuan aku sesuai keinginanhati setelah itu dilupakan. Besok-besok jika tukang ojek yang biasa atau menjadi langganan aku itu sudah tidak ada dan tidak bisa mengantarkan ke tujuan aku, aku akan cari ojek lain untuk mengantarkan aku . Singkatnya, hanya ingat saat aku membutuhkan saja.

Yang sebenarnya lebih ironis adalah ketika Allah dianalogikan seperti tukang ojek dalam kehidupan aku. Coba bayangkan Allah seperti tukang ojek.

  1. Bertemu dengan-Nya hanya jika aku membutuhkan-Nya. Ketika aku merasa kehidupan aku baik-baik saja dan bisa berjalan ke tujuan dengan kemampuan diri aku sendiri, maka Allah tidak “dipanggil” dan aku tidak bertemu dengan Dia. 
  2. Allah diposisikan untuk mengikuti kemauan aku, kemanapun aku inginkan, bukan sebaliknya, aku yang mengikuti kemana Dia ingin bawa kehidupan aku. Aku tidak    peduli pada kehendak-Nya namun memaksa Allah membawa aku ke tujuan aku. Seolah-olah Allah itu membutuhkan aku sehingga Dia harus menghormati aku dan mengikuti perintah aku. Seolah-olah tanpa manusia Allah tidak menjadi Allah. 
  3. Ada tawar menawar dengan Allah mengenai keinginan aku. Walau aku sudah tahu bahwa keinginan aku salah, tetapi aku tetap nego dengan Allah supaya ada kebijakan toleransi. Walau Allah sudah mengatakan ini salah, tetapi aku merasa pilihan aku benar, aku tetap menuntut Allah untuk setuju dengan pilihan aku.

SOMBONG sekali aku
Allah merindukan relasi dekat dengan Dia sebagai prioritas utama dalam kehidupan aku. Relasi yang dekat tidak mungkin tercipta jika hanya bertemu ketika membutuhkan satu sama lain. Frekuensi pertemuan berpengaruh pada kedekatan pribadi dengan pribadi. Kerinduan dekat dengan Tuhan tentu tidak akan tercipta jika belum menghargai dan menghormati Allah sebagai Allah dan menyadari kerinduan-Nya.

Yang patut juga menjadi bahan perenungan pribadi adalah apakah aku sudah menyadari siapa aku dan posisi aku dalam kaitannya dengan siapa Allah dan posisi Allah seharusnya. Aku sebagai ciptaan tentu tidak punya otoritas untuk mengatur tujuan aku diciptakan. SEharusnyalah pencipta aku yang punya otoritas dan Dia pasti tahu tujuan aku diciptakan dan TUJUAN ITU PASTI BAIK bagi aku. Hanya kadang yang terjadi adalah aku memposisikan diri sebagai Allah, ingin mengatur segala rencana hidup aku, kemana aku pergi di masa depan dan bagaimana aku seharusnya hidup, apa yang seharusnya aku miliki dan sebagainya. Aku yang terbatas ingin menggantikan posisi Allah yang tidak terbatas. SOMBONG sekali aku.

Akulah si tukang ojek yang selalu dipakai Allah.
Aku yang terbatas ini juga tidak tahu diri ketika melakukan negosiasi dengan Allah agar bisa menuruti kehendak aku atau tidak memberikan beban yang aku rasa terlalu berat. Mungkin kalau bisa setiap hari itu adalah hari libur sehingga tidak perlu ada beban pekerjaan atau tanggung jawab. Aku kembali memposisikan diri SETARA dengan ALLAH YANG MAHA SEGALANYA sehingga tidak mau menerima rencana atau kehendak Allah karena merasa hal tersebut bukanlah yang terbaik bagi aku. Aku merasa aku bisa memikirkan hal yang terbaik bagi diri aku.

Menjaga hati agar tidak menjadikan Allah sebagai tukang ojekku adalah perjuangan setiap hari. Semakin aku dekat dengan-Nya semakin aku bisa menjaga hati aku. Aku berharap akulah tukang ojek yang selalu dipakai Allah.


Comments