Eh...hujan lagi....

Bisa tidak hujannya diatur genap ganjil- tanggal ganjil hujan, tanggal genap tidak usah hujan? Bisa tidak hujannya diatur ketika saya sedang belajar di kampus or lagi bekerja di kantor? Bisa tidak hujannya datang jangan pas aku liburan? Bisa tidak hujannya diatur seperti pemadaman listrik bergilir berurutan bergantian tiap daerah-Regency I, Grand Tomang, dst.?

TIDAK BISA!!!
Hari ini, ketika hendak bekerja, aku disambut dengan hujan yang telah datang sebelum aku siap pergi. Hujan telah berhenti ketika aku telah siap untuk berangkat. Namun, karena baru berhenti, jalanan masih terlihat sangat basah dan beberapa genangan air terlihat dengan warna khasnya, coklat.
Akhirnya, sepatu kerjaku kusimpan di dalam tas dan aku pergi menggunakan sandal jepit ke sekolah. Hujan ternyata turun merata dari Sangiang hingga BSD. Jadi, sepanjang jalan, jalanan masih basah dan licin. Aku tebak pasti akan banyak teman-temanku yang update status di BBM, Twitter, Facebook atau mungkin sms ke teman lainnya mengenai hujan di pagi hari. Dan aku tebak pasti isinya banyak yang mengeluh atau bertanya kenapa harus hujan pagi-pagi? J
Hujan tidak bisa aku pastikan kapan turun membasahi jalanan tempat aku sedang beraktivitas atau di tempat lain.

Karena aku tahu bahwa hujan tidak bisa aku pastikan, aku beralih pada bagaimana mempersiapkan diri menghadapi hujan. Pasti masing-masing kita punya pengalaman dan pilihan sendiri dalam hal ini. Ijinkan aku berbagi apa yang biasanya aku lakukan.

JAS HUJAN “SUPERMAN”
Setiap hari, ketika hendak bekerja, aku selalu membawa tas ransel hitamku. Aku membeli tas tersebut dengan salah satu pertimbangan utama adalah tahan lama dan mempunyai pelindung ketika hujan datang. Maka dari itu aku membelinya di bagian tas-tas yang biasa digunakan oleh para petualang terutama yang suka mendaki gunung.

Di dalam tas tersebut setiap hari aku membawa sandal jepit di dalam plastik. Sandal tersebut akan aku gunakan jika hujan dan sepatu yang aku pakai akan aku masukkan ke dalam plastik. Sebenarnya satu perlengkapan lain yang biasanya aku bawa adalah payung mini. Namun payung tersebut sementara dipakai oleh istri karena dirinya belum ada payung.

Dikarenakan diriku kendaraan utamanya adalah sepeda motor, tentu bisa ditebak bahwa yang aku gunakan untuk mengantisipasi jika hujan turun adalah jas hujan. Jas hujan yang aku gunakan adalah jas hujan “superman” bukan jas hujan seperti baju dan celana. Aku memilih jas hujan tersebut dengan pertimbangan bahwa jas hujan model seperti itu bisa digunakan langsung dengan orang yang menjadi penumpang motorku.

MEMBATALKAN
Sebenarnya ada pilihan lain ketika hujan datang, terutama bagi pejalan kaki atau yang menggunakan sepeda motor. BERHENTI SEJENAK. Sering terlihat di jalanan ketika hujan, orang yang tidak membawa payung atau pengendara sepeda motor yang tidak membawa jas hujan berhenti di tempat yang bisa melindungi dari hujan. Dan menumpuklah lautan motor dan manusia di beberapa tempat umum termasuk di bawah jembatan penyebarangan sehingga tidak jarang membuat jalanan yang sudah macet semakin macet. Berhenti berbanding lurus dengan tambahan waktu. Bisa jadi jika sekolah atau kerja, datang terlambat. Bisa jadi membatalkan acara yang sudah direncanakan sebelumnya dengan orang lain.

TANPA
Pilihan ketiga, jika waktu tidak bisa bertoleransi lagi, tanpa payung atau jas hujanpun dengan nekat tetap melanjutkan perjalanan walau dengan resiko basah. Jadi, tiga  pilihan adalah tetap melanjutkan perjalanan karena sudah siap dengan perlengkapan yang melindungi hujan, berhenti sejenak, atau ekstrimnya tetap melanjutkan perjalanan TANPA perlengkapan pelindung dari hujan.
Begitu juga MASALAH. Menganalogikan MASALAH seperti HUJAN, maka akan ada 3 pilihan juga dalam meresponnya.
Pilihan pertama, PERSIAPAN ANTISIPASI menghadapi hujan. Perlengkapan apa yang bisa menjadi pelindung bagi hujan? Apakah ada “rumus paten” untuk menghadapi masalah? Kalau hujan resikonya BASAH, namun juga jalanan yang licin beresiko untuk bisa terjadi kecelakaan, sehingga cara mengemudikan dan juga bagaimana motor yang kita gunakan kita pelihara dengan baik terutama dengan cara diservis rutin, juga menjadi “perlengkapan” yang penting juga.

“PAKSAAN” UNTUK TAAT PADA KEBENARAN.
Masalah tentu tidak bisa diduga seperti apa. Namun bagaiman respon kita adalah lewat perlengkapan yang kita miliki. Tentunya KARAKTER. Dan karakter muncul dari kebiasaan. Kebiasaan muncul dari Kesadaran perlunya melakukan suatu perilaku kebenaran. Kesadaran biasanya awalnya muncul dari “paksaan” untuk taat pada kebenaran. Kebenaran yang kita percaya dan setuju masing-masing berbeda dan tingkat pengenalan kita tentang kebenaran tersebut bergantung pada tingkat komitmen kita untuk belajar tentang kebenaran tersebut.
Selain itu, menurutku, DOA dan FIRMAN TUHAN adalah perlengkapan lain yang penting. Mengandalkan Tuhan yang tidak terbatas adalah lebih bijaksana daripada mengandalkan diri dan atau orang lain yang tidak terbatas. Relasi dengan Allah berbanding lurus dengan cara kita menghadapi masalah.

BISA JADI YANG ADA ADALAH KERUGIAN
Bagaimana Allah berbicara tentang masalah kita mungkin tidak langsung ketika sedang merenungkan firman Tuhan atau doa. Namun, dengan semakin dekat dengan Allah lewat mengenal Dia dan bergantung pada-Nya maka aku semakin mengerti langkah-langkah apa yang harus aku aplikasikan ketika masalah datang, mulai dari cara pandang, perkataan hingga perilaku.
Tanpa perlengkapan menghadapi masalah memang tetap bisa menghadapi masalah, namun segala resiko yang ada harus diterima dan memberi dampak negatif. Bisa jadi yang ada adalah kerugian bukan hanya dirasakan oleh diri sendiri tetapi orang lain dan sedihnya adalah dirasakan bukan saat ini saja namun hingga di masa depan

“DEADLINE” PENYELESAIAN MASALAHKU
Pilihan terakhir adalah berhenti, melarikan diri dari masalah atau menunda menyelesaikan masalah. Sebenarnya tidak ada yang bisa melarikan diri dari masalah. Selalu masalah tersebut akan mengejar hingga aku mau menghadapinya dan menyelesaikannya. Seperti yang pernah aku tulis di tulisanku sebelumnya, semakin lama menunda menyelesaikan masalah, maka semakin besar masalah yang aku hadapi bahkan semakin mepet dengan “deadline” penyelesaian masalahku. Yang rugi adalah aku sendiri karena semakin tertekan dan akhirnya akibat buru-buru hasilnya tidak akan maksimal.

Dengan perlengkapan pelindung hujan saja belum tentu 100% terlindung dari hujan. Dengan memiliki relasi yang dekat dengan Tuhan saja tidak semudah membalikan tangan membentuk karakter yang benar dalam menghadapi masalah. Sangat lebih beresiko jika melanjutkan “perjalanan” menghadapi masalah tanpa “perlengkapan” yang benar ataupun sangat fatal jika mencoba melarikan diri masalah.

Aku menulis artikel ini bukan dengan anggapan bahwa aku sendiri selalu berada di posisi sudah memiliki karakter yang benar dalam menghadapi masalah. Aku pun masih berjuang dalam hal ini. Ku berani menulis ini hanya ingin berbagi pelajaran yang kudapatkan dari hujan yang membasahi bumi sore itu. Hujan itu anugerah.

Comments