Aku belum lulus di kelas "merespon masalah".

Sebenarnya ketika memasuki tahun baru salah satu kerinduanku adalah tidak mengulangi kesalahan yang sama di dalam pekerjaanku, yaitu ketidak telitian dalam melihat data sehingga memberikan informasi yang salah kepada orang lain.

Namun, kesalahan itu terulang lagi. Sungguh sangat tidak mengenakkan. Rasa bersalah itu sangat kuat dan kesalahan itu sangat menekanku karena aku sebenarnya tidak ingin melakukan kesalahan itu.

Yang bisa aku lakukan adalah bercerita situasi hatiku kepada isteriku. Tidak ada solusi. Yang ada hanyalah aku minta maaf. Entah tidak tahu walau aku sudah bertekad dan melakukan segala upaya untuk tidak salah memberi informasi, namun aku jadi ragu apakah bisa tidak salah lagi jika diminta data lagi oleh orang lain.

Rasa takut salah selalu menghantuiku setiap diminta informasi yang harus aku olah dulu. Contohnya misalnya diminta data murid dengan nomor handphone orangtuanya. Aku harus download dulu dari staff desk website sekolahku dan aku harus atur agar murid yang bersaudara dihapus salah satu supaya tidak perlu dikirimkan dua sms karena bersaudara. Nah, walau sudah aku kirim dengan sebelumnya memeriksanya dengan teliti, tetapi rasa ragu akan kebenaran informasi data tersebut masih menghantuiku. Kulakukan banyak aktivitas lain supaya pikiranku tidak mengarah kepada rasa tertekan tersebut.

Rasa tertekan kadang membuatku mengigau ketika tidur malam. Dan karena "isengnya" istriku, dia selalu merespon apa yang aku katakan ketika mengigau. Itu juga kadang membuat dia khawatir dan tertekan karena pekerjaanku sampai "dibawa" ketika istirahat.

Aku saat ini sedang mengalami proses belajar merespon kesalahan yang kulakukan dengan sikap yang benar di hadapan Tuhan. Aku belum lulus di kelas "merespon masalah"

Comments