THE VISIT OF THE MAGI



Ijinkan diriku mengambil waktu kalian beberapa menit untuk membaca tulisanku yang merupakan penyampaian ulang dari renungan doa pagi yang disampaikan oleh papaku. Sebuah renungan yang aku secara pribadi ditegur dan melihat mungkin teman-teman bisa  belajar juga dari renungan ini.
Renungan tersebut diambil dari Matius 2: 1-12; 16-18. Sebuah teks Alkitab yang biasa dibaca dan dikhotbahkan ketika bulan Desember tiba, dalam rangka merayakan Natal. Paling tidak ada dua perenungan yang paling nyangkut di pikiranku hingga sekarang sehingga aku bisa menyampaikannya ulang.

DATANG TAK DIUNDANG
Jika membaca cerita orang Majus dari Timur di teks di atas, perenungan pertama yang sangat jelas adalah mereka datang menyembah Tuhan Yesus yang baru lahir bukan karena diundang. Mereka tidak datang juga karena terpaksa. Ayat kedua menjelaskan bahwa mereka datang ketika melihat bintang-Nya di timur.
Respon mereka ketika melihat sesuatu yang berbeda adalah mereka mencari tahu dari mana asalnya. Mereka sadar bahwa bintang yang bersinar tersebut berbeda dengan sinar bintang biasanya. Dan mereka mengetahui bahwa itu tanda seorang raja telah lahir.

Sebuah pertanyaan yang patut aku tanyakan pada diri sendiri adalah, apakah aku datang ke rumah Tuhan benar-benar dari hatiku secara pribadi karena ingin menyembah Dia, bertemu dan belajar lebih lagi mengenal Dia atau aku datang dengan motivasi lain? Karena aku anak pendeta, karena aku melayani walau tidak ingin melayani atau karena aku sebagai orang Kristen tidak dipandang negatif oleh orang-orang sekitarku. Tidak ada yang tahu kecuali Tuhan isi hatiku, kecuali aku mengungkapkannya kepada orang lain. Aku rindu menjaga hatiku memiliki SEMANGAT  DAN INISIATIF seperti orang Majus yang mau datang dari jauh tanpa paksaan untuk melihat Tuhan.

SACRIFICE
Aku belajar juga bagaimana sebuah pengorbanan yang luar biasa dari Orang Majus dari negeri yang jauh untuk menyembah Tuhan Yesus. Ironis jika aku yang tidak harus sejauh orang Majus ke Betlehem datang ke rumah Tuhan ternyata ADA PIKIRAN malas karena jauh atau karena hal lain yang sebenarnya menunjukkan aku tidak mau berkorban. Jangan sampai hanya ketika ada kenyamanan saja aku datang. Jangan sampai hanya ketika semua sesuai dengan keinginan hatiku saja aku datang.  Pengorbanan selalu bergandengan dengan “tingkat penghargaan” kita kepada seseorang atau aktivitas. Ketika orang Majus dari Timur tersebut melhat bahwa seorang RAJA telah lahir, mereka mau berkorban waktu, tenanga bahkan persembahan untuk Dia. Aku, apakah hitung-hitungan dalam melakukan atau memberikan sesuatu untuk Tuhan atau orang-orang yang aku kasihi?

IRONISNYA SEBUAH RESPON
Keputusan orang Majus datang ke Betlehem berbeda dengan keputusan Herodes dan penduduk Yerusalem yang tahu dari Kitab Taurat bahwa Mesias yang mereka tunggu akan hadir di Betlehem. Sebenarnya ketika orang Majus yang tidak mereka kenal datang jauh-jauh dari Timur bertanya tentang raja yang baru lahir, secara logika mereka seharus semakin yakin bahwa inilah Mesias yang mereka tunggu.

Ironisnya adalah respon mereka berbeda dengan orang Majus yang tidak tahu menahu tentang kitab Taurat bangsa Israel. Herodes malah ketakutan mengalami kudeta sehingga ia membunuh semua bayi di bawah umur dua tahun. Orang-orang Israel di Yerusalem setelah kehebohan orang Majus, tidak ada tindak lanjutnya.

Aku belajar bahwa setiap pesan dari firman Tuhan melalui berbagai cara tidak selalu direspon dengan hati yang terbuka dan akhirnya taat pada firman Tuhan tersebut.  Bagaimana aku sendiri ketika merespon setiap firman Tuhan yang aku terima dengan cara-cara-Nya yang unik lewat Alkitab, Hamba Tuhan, teman atau kejadian-kejadian yang aku alami? Apakah aku akhirnya menyadari pesan tersebut dan TAAT atau aku malah seperti Herodes yang  TIDAK TERIMA pada fakta firman Tuhan atau TIDAK PEDULI seperti orang-orang Israel?

TIDAK AMAN
Kelahiran Tuhan Yesus di Betlehem bukan pada kondisi yang ideal. Dia tidak lahir di penginapan atau rumah sakit bersalin seperti kebiasaan kita jaman sekarang. Dia juga lahir dengan suasana mencekam karena Herodes marah dan membunuh setiap bayi di bawah umur dua tahun sehingga orangtua-Nya membawa-Nya ke Mesir.

Kondisi tidak aman adalah sebuah KEWAJARAN dalam kehidupan orang Kristen. Tidak salah ketika kita meminta Natal yang damai atau kebaktian rutin kita serta aktivitas gereja kita tidak mengalami gangguan atau intimidasi. Namun, ketika kondisi-kondisi negatif Tuhan ijinkan berarti jangan lagi mengeluh pada Tuhan kenapa hal ini harus terjadi, namun kita meresponnya dengan hikmat dari Tuhan. Entah sampai kapan kondisi yang kondusif bisa dialami kita sebagai orang Kristen. Ketika kondisi berubah, biarlah kita terus menjaga hati kita percaya pada Tuhan.

SELAMAT NATAL
Selamat merayakan hari kelahiran Juruselamat kita teman. Kiranya kita semua bisa terus meneladani orang Majus dari Timur yang diceritakan di teks Matius tersebut. Di dalam Alkitab Bahasa Inggris NIV judul teks tersebut adalah The Visit of the Magi. Kitab mau datang menyembah Dia setiap hari lewat saat teduh dan doa, ibadah, bertumbuh rame-rame lewat berbagai aktivitas yang disediakan serta membaca buku bukan dengan terpaksa namun sadar bahwa inilah bentuk penghargaan bagi Juruselamatku. Rela berkorban dan setia dalam kondisi apapun dalam mengikut Tuhan. Selamat Natal!

Comments