SAYA TERBATAS TETAPI TIDAK TERBATAS KECUALI MEMBATAS DIRI SENDIRI



Pada hari jumat, 14 Desember 2012, aku pulang agak malam karena setelah jam kerja, ikut bertanding futsal bersama staf dan guru BINUS Serpong lainnya melawan staf dan guru sekolah St. John. Dalam perjalkanan pulang, aku mengalami kembal kecelakaan motor.

Sampai sekarang aku masih mengingat kecelakaan tersebut dari sebelum aku jatuh sampai ketika aku sudah bangun kembali. Aku ingat bagaiman ban motorku mulai oleng dan motorku terpeleset hingga jatuh di aspal. Kejadiaannya sangat cepat dan secara logika seharusnya aku mengalami luka-luka yang parah atau bahkan mungkin tewas ditabrak mobil.Namun aku bersyukur karena yang luka hanya kakiku dan dalam waktu seminggu telah sembuh. Aku bisa ikut main futsal bersama teman-teman gereja lagi.

Dari peristiwa ini aku mendapatkan pelajaran dari Tuhan. Satu yang pasti, aku semakin berhati-hati ketika mau menyalip kendaraan karena bisa jadi kendaraan tersebut melakukan pergerakan yang tiba-tiba seperti yang dilakukan oleh mobil di depanku ketika aku mengalami kecelakaan.
Selain itu, aku mengembangkan perenungan dari satu kata yang terngiang setelah kecelakaan tersebut, yaitu kata TERBATAS.

TERBATAS DALAM HIDUP
Aku sebagai manusia adalah makhluk hidup yang terbatas. Aku dibatasi waktu, dibatasi tenaga, dibatasi umur dan dibatasi banyak hal-hal lain yang teman-teman sendiri bisa pikirkan. Keterbatasan itu adalah sebuah ciri manusia. Hanya TUHAN YANG TIDAK TERBATAS.

Dalam segala keterbatasan tersebut pada akhirnya aku sadar bahwa SETIAP HARI ITU ANUGERAH. Bangun di pagi hari bukanlah sebuah kebiasaan yang wajar aku rasakan. Setiap pagi aku berdoa mengucap syukur bahwa aku masih diberi kesempatan untuk hidup hari ini. Hidupku milik Tuhan. Dia bisa saja mengambil nyawaku di malam hari ketika aku tidur.
Tahun 2010 aku mengalami kecelakaan parah namun aku bisa hidup sampai tulisan ini kubuat. Jumat tanggal 14 Desember 2012 juga aku mengalami kecelakaan namun hanya lecet-lecet. Tidak tertutup kemungkinan aku hanya terpeleset kulit pisang langsung tewas. Kapanpun aku bisa meninggal. Jika aku bisa hidup maka seharusnya aku mengucap syukur pada Tuhan.

PERCAYA PADA YANG TIDAK TERBATAS
Aku yang terbatas sudah seharusnya mempercayakan hidupku pada yang TIDAK TERBATAS, yaitu TUHAN. Orang lan juga terbatas. Uang itu terbatas. Semua di dunia ini terbatas. Ketika aku bergantung pada keterbatasan yang lain, maka yang ada hanyalah sebuah kekecewaan. Dalam hidupku saat ini aku tidak bisa memprediksi masa depanku, namun aku harus mendekatkan diri pada Tuhan yang tidak terbatas sehingga aku bisa berjalan sesuai dengan rencana-Nya dalam hidupku.
Tuhan  itu menerima keterbatasanku namun tahu bahwa ada hal-hal dalam hidupku yang bisa aku rubah atau tingkatkan bukan sekedar menerimanya dan merasa dan melakukan pembenaran bahwa itu memang tidak bisa dirubah karena bagian dari keterbatasanku. Tinggi tubuhku terbatas. Skill dan karuniaku terbatas sesuai yang diberikan Allah walau aku mungkin belum menyadari seluruh karunia yang Tuhan berikan padaku jika aku tidak mencoba hal-hal yang baru.

TERBATAS KARENA MEMBATASI DIRI
Berkaitan dengan hal-hal yang baru, aku percaya KARAKTER TIDAK TERBATAS pada kondisiku saat ini. Aku percaya, karakter itu bisa berubah menjadi lebih baik ketika aku taat pada-Nya. Contoh paling gampang adalah ketika menghadapi konflik dengan istriku ketika kami masih pacaran. Ketika ada hal yang tidak aku sukai dia lakukan, aku berdebat dengan dia dan sebagai bentuk kemarahanku aku mendiamkan dia dan tidak merespon ketika dia menyapa atau mencariku.

Seiring waktu aku sadar bahwa selalu ada penyelesaian jika ada kasih. Pada akhirnya ketika ada konflik kami bicara terbuka dan aku tidak lagi mendiamkan dia. Karakter sabar, murah hati, tidak sombong, suka menolong, tidak iri hati, tidak mendendam, tidak mengeluarkan kata-kata kotor aku percaya itu bukan sejak lahir aku terima, namun lewat pembentukan Allah aku semakin bertumbuh dalam karakter-karakter tersebut. Aku TIDAK DIBATASI UNTUK BERTUMBUH DALAM KARAKTER yang ALLAH KEHENDAKI kecuali diriku sendiri memilih untuk membatasi diri. Aku yang pendiam dan malas berbicara dengan orang akan selalu seperti itu bahkan ketika menikah kalau aku memilih tidak mau berubah. Semuanya bergantung padaku. KETERBATASAN ITU AKU SENDIRI YANG CIPTAKAN.

Pada akhirnya, aku yang terbatas ini hanya ingin memiliki kasih yang tidak terbatas pada Allah dan sesama sehingga itu mendorongku mengerti bagian-bagian mana dalam hidupku yang bisa aku tingkatkan atau kurangi atau hilangi sehingga aku semakin menyenangkan pribadi-pribadi yang aku kasihi terutama Allah.     

Comments