ADA BANYAK CERITA DI SUMBA

ADA BANYAK CERITA SEBELUM TIBA DI SUMBA .
Sebenarnya ketika mempersiapkan diri untuk berangkat ke Sumba hari Sabtu tanggal 20 Oktober, aku sudah mendapatkan cerita yang luar biasa. Jumat aku mengujungi kantor lamaku, Hana Bank Kantor Pusat dan bertemu dengan teman-teman lama. Wah senang sekali karena  ada kesempatan reuni dan diberkati lewat kesempatan itu. Sebuah kesempatan menyadari bahwa RELASI KEKAL SELALU ADA KETIKA ADA KASIH KEKAL. Dalam segala perbedaan, kami saling tetap kangen satu sama lain karena kami saling mengasihi.

Sebelum berangkat ke Sumba, rumah kontrakan untuk aku tinggal bersama istri terlebih dahulu dipersiapkan. Aku, Richard dan papaku mengecat dinding-dinding rumah untuk mempertebal cat. Untuk isinya, aku bersama papaku baru merancanakan yang utama tempat tidur.
Allah bekerja melalui orang-orang di sekitar kita yang mengasihi kita karena mereka mengasihi Allah. TV 23”, kulkas dan kompor Tuhan sediakan lewat tangan-tangan penuh kasih jemaat GKY VTI. Teman-teman pemuda memberikan jam dinding yang sangat dibutuhkan di dalam sebuah ruang tamu. Tidak lupa mereka memberikan EL (Encouragement Letter) yang merupakan budaya baru yang sangat memberkati.  Cincin pernikahanku sendiri yang bagiku sangat elegan dan indah walau budget yang ada tidak terlalu besar. Tuhan buka jalan dengan cara yang unik-unik bagiku.

TERIMA KASIH..TERIMA KASIH...TERIMA KASIH...TERIMA KASIH...
Satu per satu Tuhan cukupkan kebutuhan-kebutuhan rumah tanggaku lewat pribadi-pribadi yang sangat mengasihi aku dan keluargaku. Mesin cuci serta AC Tuhan cukupkan. Bed cover dan sprei tidak perlu dibeli karena telah diberikan oleh beberapa pribadi yang luar biasa.

Doa dan dana serta nasehat menjadi bagian lain yang aku rasakan lewat sebelum keberangkatanku ke Sumba. Keluarga besarku di Nias, di Rote dan di berbagai daerah bersama teman-temanku yang kukenal di seluruh Indonesia memberikan support yang luar biasa. Aku merasakan penyertaan Tuhan lewat dukungan kalian semua. Kekuatan dan kesegaran serta kesehatan yang luar biasa aku rasakan lewat doa-doa kalian.Teman-teman di Sumba yang mungkin baru pertama kali betemu, dari Pemuda GKS Waikabubak dan Paduan Suaranya, serta tentu KELUARGA BESAR Oce yang sangat luar biasa mengorbankan waktu, tenaga, dana dan fasilitas yang kalian miliki untuk mendukung segala persiapan pernikahan kami. Saya tidak bisa ingat satu per satu nama kalian.  Kuingat Ambu, Any, Lede, Rini, Om Stev, Ape, Mey, Uli, Om Yos, Yanto, Erna, Bapa Eden, Mama Eden, Neny, Delon, Jojo, Eko, Kak Neti, Astri dan Om Bram. Tidak semua kuingat namun tidak membuat kontribusi kalian lebih kecil.

Belum lagi keluarga orang Rote yang walau baru kenal dalam waktu singkat tetapi dengan tangan terbuka mendukung kami dan mau  menolong kami. Aku sangat diberkati lewat keluarga Bapa Chesya (Baces) dan Mama Chesya (Maces) yang sejak tahun lau membuka hati dan pintu rumah mereka untuk sangat-sangat mendukungku mempersiapkan pernikahan aku dan Oce. Tidak bisa aku balas dengan apapun dukungan kalian semua.Aku hanya bisa mengatakan TERIMA KASIH..TERIMA KASIH..

Saya  sadar bahwa setiap orang diberkati Tuhan dengan cara-cara yang berbeda. Cara Tuhan cukupkan kebutuhan-kebutuhan rumah tangga saya bukan sebagai satu-satunya cara Tuhan.  Kadang kala Tuhan cukupkan secara dana dan akhirnya bisa membeli barang-barang yang dibutuhkan. Setiap orang punya pengalaman masing-masing dan unik bersama Tuhan.

Kami tidak bisa membalas segala kebaikan semua kalian yang telah dengan penuh kasih mendukung kami lewat berbagai cara. Kalian adalah perpanjangan tangan Tuhan yang membuat kami semakin melihat Allah itu luar biasa dan memuliakan nama-Nya. Kalian luar biasa. Kami hanya bisa mengatakan terima kasih..terima kasih..terima kasih...terima kasih untuk semua dukungannya. Jujur saya merinding karena kasih yang luar biasa dari banyak orang kepada saya dan Oce. Perhatian kalian membuat kami terharu dan mengucap syukur luar biasa.

DIA MENYEDIAKAN DENGAN CARA YANG SELALU TIDAK TERDUGA KARENA....
                                                                                                                                                                                                                          Om Yulius Baliate.
Ketika papaku menjadi dosen dan rektor di sekolah teologi di Tanjung Enim, salah seorang mahasiswa yang kuliah di sana berasal dari Sumba. Sudah lama tidak bertemu hanya berkomunikasi via handphone. Kami akhirnya bisa bertemu setelah sekian lama tak bersua. Namanya Yulius Baliate yang istrinya juga kami kenal karena dulu juga mahasiswa di sekolah teologi tempat aku dibesarkan. Pertemuan ini bisa terjadi karena ada momen pernikahanku. Dan Tuhan memakai Om Yulius untuk menyediakan transportasi ke Waikabubak. Mungkin tanpa Om Yulius bisa kami sewa mobil, namun tentu lebih nyaman jika yang mengantar adalah orang yang kita kenal. Senang sekali bisa berbagi cerita kehidupan masing-masing dan saling menguatkan.

Dalam hal transportasi, ada banyak penghematan karena Tuhan menyediakan dua mobil dari kenalan dan juga orang Rote yang tinggal di Waikabubak. Selain itu, ada satu motor yang bisa digunakan untuk beraktivitas dikhususkan oleh saudara Oce kami pakai selama di Waikabubak.
                                                                                                                                                                                                                                          RONITA.
Awal mulanya aku dan mamaku rencana tinggal di rumah salah satu orang Rote yang masih menjadi keluarga Oce selama dua malam sebelum kedatangan papa, Richard, Rilia. Rencananya ketika semua sudah sampai, kami akan menggunakan salah satu penginapan yang sudah disurvei dan dibooking.
Namun, tiba-tiba adik dari keluarga Bapa Mama Cheysa melahirkan dan tinggal sementara di rumah mereka sehingga tentu tidak enak jika harus menerima tamu di tengah segala kesibukan mengurus si bayi yang baru lahir. Akhirnya kami harus pindah ke Hotel bernama RONITA. Ketika keluargaku lainnya datang, kami sudah booking tempat penginapan lain. Namun, tiba-tiba penginapan tersebut memberikan perubahan tarif kamar yang sangat mengecewakan sehinggal kami putuskan tetap lanjut menginap di hotel RONITA.
                                                                                                                                                                                                                                  
Hotel ini adalah hotel penuh berkat. Pelayanan mereka sangat memberkati karena aku bisa menikmati snack dua kali dan menu favoritku adalah pisang goreng sumba. Jarang sekali aku makan pisang goreng di Tangerang walau sebenarnya ada. Puji Tuhan pemilik hotel penuh kasih sehingga ketika kami mau ibadah minggu, kami bisa ikut bersama dia dengan mobil Pajero putihnya. Selain itu dia mentraktir kami makan bakso MALADA yang terkenal di sana. Selain itu, untuk pembayaran hotel mendapatkan diskon khusus dan tidak perlu membayar biaya konsumsi selama kami menginap. Puji Tuhan.
Rencana Tuhan lebih indah dan sangat membuatku terkesima. Kami dalam segala keterbatasan telah membuat rencana yang menurut kami baik, namun Tuhan PUNYA LEBIH BAIK sehingga Dia mengubah rencana kami dengan cara-Nya yang tak pernah terpikirkan. Akhirnya aku sadari rencana indah itu setelah melewati masa-masa di Sumba.
Pada akhirnya Tuhan mencukupkan dengan cara yang tidak terduga segala kebutuhanku karena Dia ingin aku bergantung HANYA pada DIA bukan MANUSIA.

DIPERTEMUKAN DENGAN CARA-NYA
Sudah lama kami tidak bertemu dengan om Yulius Baliate dan keluarga. Jika tidak ada pernikahanku, tentu sangat sulit kami bisa bertemu. Begitu juga dengan beberapa paman dan tante-tante dari keluarga papaku di Rote dan Kupang. Kami bisa bersekutu bersama karena acara pernikahanku ini. Tapi yang juga spesial adalah Kak Endah yang mau ikut ke Sumba untuk menghadiri pernikahanku. Sebenarnya tidak perlu datangpun aku sudah sangat diberkati lewat dukungan doa. Kak Endah memang menjadi pribadi yang sudah masuk dalam bagian keluarga kami sejak aku kecil Aku dimandikan dan disuapin oleh kak Endah sejak kecil. Dia menjadi kakak angkatku yang papa mamaku dukung dalam dana untuk sekolah sampai akhirnya dia masuk sekolah Teologia dan sekarang sudah berkeluarga dan melayani di Sumatera Selatan. Senang sekali bisa bertemu dengannya setelah sekian lama hanya kadang telepon atau sms. Selalu ada sukacita ketika bertemu dengan pribadi-pribadi yang kita kasihi ketika telah lama tidak berjumpa

KENOTO
Pemberkatakanku di Gereja serta Resepsi dilaksanakan hari Jumat, 26 Oktober 2012. Namun sebelumnya aku melakukan PERNIKAHAN ADAT terlebih dahulu hari Rabu, 24 Oktober 2012. Pernikahan adatnya menggunakan tradisi orang Sabu. Istilah yang sering didengar untuk pernikahan adat ini adalah KENOTO.
Langkah Pertama, Kedua dan Terakhir

Kenoto sendiri sebenarnya dimulai dari ketika tahun lalu pertama kali aku datang ke Sumba dan mengadakan acara “tunangan” yang dalam bahasa Sabu disebut KOOLI. Aku telah tuliskan ceritanya di tulisanku (note).

Tahap selanjutnya adalah Kenoto sendiri bukanlah tradisi yang sederhana dan mudah. Sebuah proses panjang harus dilalui sebelum acara KENOTO. Aku perlu mempersiapkan beberapa barang yang perlu diberikan kepada keluarga Oce ketika KENOTO. Mulai dari pemberian sejumlah uang untuk keluarga besar Oce sebagai tanda “mengambil” Oce, persembahan untuk pemerintah dan gereja serta juru bicara hingga sejumlah pinang dan tembakau yang dimasukkan dalam sebuah karung yang telah dibungkus dengan kain Sabu.

Hari Rabu, 24 Oktober 2012, acara KENOTO, pernikahan adat Sabu dilaksanakan di kediaman Oce. Kami masing-masing keluarga besar duduk di tikar adat duduk saling berhadapan dengan juru bicara masing-masing keluarga duduk paling depan. Pembicaraan tradisi dimulai. Setelah karung diberikan kepada keluarga Oce, lalu aku “mengambil” Oce dengan cara mencarinya di dalam rumahnya bersama Mamaku. Beberapa keluaraganya ada di dalam rumah sebagai simbolis tantangan untuk bisa memilih dan mengambil Oce yang sesungguhnya. Sebuah tradisi yang patut untuk terus dilestarikan karena ada makna yang sangat dalam dan memberkatiku

Prosesi adat  terakhir adalah ketika hari Sabtu, 27 Oktober, aku bersama Oce dan keluargaku datang ke rumah Oce untuk menerima nasehat terakhir yang sebelumnya disertai dengan secara simbolis memberikan hasil pertama setelah kami menikah selama 3 hari berubah sejumlah sirih pinang  dan uang. Sepertinya jika dipikirkan secara logika orang perkembangan jaman saat ini, hal ini terlihat konyol. Tetapi pesan utama dari tradisi ini sangatlah memberkatiku. Semua prosesi ini mengajakku melihat bahwa MEMBANGUN KELUARGA ADALAH MEMBANGUN KOMUNITAS KECIL YANG PERLU MEMILIKI DASAR DAN KEYAKINAN KUAT. Keterlibatan keluarga dan beberapa proses adat yang aku jalani mau mendorong aku benar-benar sadar hal ini bukanlah hal yang gampang dan sederhana. Sama seperti kehidupan rumah tangga yang tentunya tidaklah seindah sinetron atau dogeng.

CIUM HIDUNG

Satu ciri khas yang selalu akan diingat dari Sumba adalah budaya "cium hidung". Ketika ada pertemuan dengan orang yang sudah lama tidak bertemu, atau ada acara-acara pernikahan adat lainnya, maka cara menyapa menyambut yang menandakan keakbaran adalah bukan dengan berjabat tangan atau mencium pipi kiri dan kanan, namun dengan CIUM HIDUNG. Menyentuhkan ujung hidung sambil menggoyang kepala ke kiri atau kanan adalah kebiasaan turun temurun di Sumba dan juga Rote. Sesuatu yang jika belum terbiasa akan sangat sungkan atau kaku. Tetapi setelah terbiasa bisa menyadari kesempatan ciri khas yang selalu diingat.

Ketika pernikahan adat dan resepsi, bukan hanya cium hidung dengan keluarga yang kami lakukan tetapi kami harus berciuman hidung dengan SELURUH TAMU!!!. Bayangkan dengan tamu lebih dari 300 orang di pernikahan adat dan 700 orang di resepsi harus kami sapa satu per satu dengan cium hidung sambul mempersilahkan makan...hahahaha...pengalaman yang tidak terlupakan.

BERSAMA ITU LEBIH BAIK (TOGETHER IS BETTER)
Aku tidak bisa menyembunyikan penghargaanku kepada Papa Mamaku serta adik-adikku, Richard dan Rilia untuk setiap bentuk dukungan hingga pengorbanan yang mereka berikan kepadaku. Aku tahu betul berbagai pengorbanan yang papa mamaku lakukan demi aku. Aku  menyadari bahwa ALLAH hadir lewat mereka. Allah bersama-sama dengan aku melalui mereka. Aku sangat bersyukur kepada Allah karena kasih yang besar dari mereka semua. Bersama memang lebih baik daripada seorang diri.

Sekarang aku sudah tidak lagi satu rumah dengan mereka. Penghuni  Jl. Garuda Raya, Regency I berkurang dan penghuni GRAND TOMANG bertambah. Sejak 31 Oktober aku tinggal di rumah kontrakan terpisah dengan pastori tempat dulu aku tinggal bersama orangtuaku dan Richard.


JANGAN LUPAKAN ALLAH!!! JANGAN RAGUKAN ALLAH!!!
Semua pengalamanku sebelum, saat di Sumba dan sesudah dari Sumba adalah pengalaman imaku. Aku percaya masing-masing orang memiliki pengalaman iman yang berbeda dan bisa menulis cerita masing-masing ketika ada waktu untuk merenungkan dan melihat setiap pelajaran dari pengalaman-pengalaman hidup yang diijinkan Allah terjadi.

Aku mohon dukungan doa agar aku dan Oce terus melangkah dalam rumah tangga yang selalu menjadikan Allah sebagai pemiliknya dan terus kami berjalan sesuai dengan tujuan hidup kami, “menikmati Allah dan memuliakan-Nya selama-lamanya” .

Aku berkata pada diri sendiri “Jangan LUPAKAN Allah dan Jangan Ragukan Allah” yang telah terlalu banyak dengan berbagai cara membuktikan betapa besar kasih-Nya pada hidupku. Dia sangat mengasihiku.


Comments