DUA SUKU KATA ATAU EMPAT HURUF

Kata “MAAF” adalah sebuah kata yang sudah sering aku dengar. Ketika membayangkan ketika apa saja aku biasa mengucapkan kata maaf atau mendengar orang lain mengucapkannya kepada diriku atau kepada orang lain, aku sendiri baru menyadari betapa dalamnya “atribut-atribut” yang ada di kata ini. “Atribut-atribut” ini maksudnya adalah berbagai hal yang bisa aku pelajari dari kata yang terdiri dari dua suku kata atau empat huruf ini. Mungkin yang aku pikirkan sama dengan teman-teman yang membacanya atau mungkin ada yang kalian pikirkan namun tidak aku tulis di sini. Silahkan berikan komentar jika ada yang pikirkan namun tidak terpikirkan oleh diriku. 

MENYESAL
Paling umum kata ini digunakan ketika aku melakukan kesalahan dan kesalahan tersebut berpengaruh pada orang lain, aku mengucapkan minta maaf kepada mereka. Makna tersirat ketika aku mengucapkan ini setelah melakukan kesalahan adalah aku MENYESAL dan MOHON mendapatkan PENGAMPUNAN dari pribadi yang aku rugikan karena kesalahan terebut. Respon pribadi yang dirugikan karena kesalahanku berbeda-beda. Ada yang tetap marah dan memberikan banyak nasehat. Ada juga yang dengan sikap berbesar hati mengucapkan “tidak apa=apa. Jangan diulangi lagi”. Ada juga yang menerima permintaan maafku dengan tulus namun KONSEKUENSI dari kesalahanku harus aku tanggung. Seharusnya kata maaf adalah kata yang diungkapkan dengan tulus MENGAKUI kesalahan yang aku buat. Kecenderungan manusia adalah sebisa mungkin label bersalah tidak melekat pada dirinya. Ketika melakukan kesalahan, dan menyadari memang itu salahku, godaan untuk mencari cara atau alasan agar tidak dianggap aku yang melakukan kesalahan selalu muncul. Aku bisa mengarang indah berbohong dengan berbagai alasan agar tidak dituduh bersalah. Aku bisa mengkambing hitamkan orang lain. Aku bisa pura-pura tidak melakukannya. Bisa aku menyimpan kesalahan itu sehingga tidak ada yang disalahkan walau KONSEKUENSI dari kesalahan itu harus dialami pribadi atau kelompok lain. KONSEKUENSI dari sebuah kesalahan sudah sewajarna adalah HUKUMAN dalam berbagai bentuk. Konsekuensi inilah yang selalu berusaha aku hindari. Ketika aku meminta maaf, aku berharap tidak dihukum. Namun, sebenarnya menurutku itu sikap yang SALAH. Di sisi menyesal karena melakukan kesalahan menurutku itu sikap yang menunjukkan kerendahan hati dan TIDAK GENGSI. MENGAKUI kesalahan adalah karakter kedewasaan seseorang. Menunjukkan kesadaran bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Namun, di sisi lain, KESALAHAN = KONSEKUENSI. Tidak ada “peraturan” yang mengatakan bahwa jika kita minta maaf maka harus diampuni dan tidak menerima konsekuensi dari kesalahan itu. KONSEKUENSI TETAP HARUS DITANGGUNG walau sudah minta maaf.

 GRATIS
Jika kita akhirnya tidak menerima konsekuensi yang seharusnya kita terima itu adalah KASIH KARUNIA. Bahasa lainnya adalah HADIAH. Hadiah identik dengan sesuatu yang diberikan kepada kita dari orang lain dengan GRATIS. Ketika kita minta maaf dan diampuni, maka itu bukan HAK tetapi KASIH KARUNIA. Sangat jelas hal ini dalam pribadiku yang penuh DOSA dan layak DIHUKUM MATI karena dosa-dosaku. Namun Tuhan Yesus telah datang ke dunia untuk MENGGANTIKANKU menanggung dosa-dosaku, sehingga ketika aku MENGAKUI DOSA-DOSAku dan MINTA MAAF, maka KASIH KARUNIA BEBAS dari HUKUMAN DOSA dan diberikan KESELAMATAN aku terima. Sikap itu juga harusnya ada ketika aku melakukan kesalahan kepada orang lain. Aku tidak boleh punya pikiran PASTI aku DIMAAFKAN dan pasti aku TIDAK MENANGGUNG KONSEKUENSI. Aku selayaknya meyesal dan harus SIAP menanggung konsekuensi kesalahanku. Di dalam pekerjaan, aku mengalami banyak KASIH KARUNIA namun juga menanggung KONSEKUENSI dari beberapa kesalahanku. Aku diajak terus untuk tetap punya sikap mau MENGAKUI kesalahanku walau aku juga harus siap MENANGGUNG KONSEKUENSI dari kesalahanku.  

“MENAMPAR”
Sikap lain yang perlu ketika sudah meminta maaf adalah TIDAK MELAKUKAN KESALAHAN YANG SAMA LAGI. Nah, ini tantangan yang luar biasa. Mulai dari penyesalan yang tulus belum tentu membuat aku benar-benar lepas dari kesalahan itu di masa depan. Namun, aku sendiri yang tahu apakah aku sebenarnya benar-benar menyesal atau hanya sekedar supaya tidak dihukum sehingga pura-pura minta maaf. Masalahnya adalah aku bisa menipu manusia tetapi Allah tidak pernah bisa aku tipu. Allah kadang seperti harus “menampar” aku dengan DISIPLIN yang keras agar aku benar-benar bertobat. Adanya kemungkinan untuk tidak menanggung konsekuensi dari kesalahan seharusnya tidak membuat aku akhirnya menurunkan standar kinerjaku sehingga aku lebih leluasa berbuat kesalahan. Itu sikap yang juga tidak boleh aku miliki. Maaf tidak bisa menjadi sebuah alasan untuk tidak berusaha maksimal. JIka pada akhirnya ketika aku sudah berusaha maksimal namun akhirnya tetap melakukan kesalahan.  

MAAF (walau saya tidak melakukan kesalahan)

Dalam budaya beberapa daerah, kata maaf sering digunakan sebagai bagian dari sopan santun dalam sebuah pembicaraan. Bagiku menggunakan kata tersebut mengajakku untuk rendah hati. Sepertinya kata tersebut sepele dan tidak harus perlu digunakan. Namun, dalam sebuah kebudayaan, ketika kita adalah orang yang baru dalam kebudayaan tersebut, PENYESUAIAN DIRI adalah hal yang penting agar kita bisa diterima. Penyesuaian diri bukan berarti PENYESUAIAN PRINSIP. Prinsip=prinsip pribadi kita yang kita yakin benar, tidak perlu dihilangkan dan digantikan dengan prinsip kebudayaan yang baru kita masuki. Namun, kebiasaan=kebiasaan budaya yang tidak bertentangan dengan prinsip hidupku, aku percaya perlu aku pelajari dan ikuti sehingga aku bisa semakin dekat dalam kebudayaan tersebut dan jika Tuhan menghendaki memberikan kontribusi positif. Salah satu kebiasaan itu adalah budaya menggunakan kata MAAF. Maaf dalam budaya tidak dikatakan karena melakukan kesalahan, namun ingin menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara. Rasa hormat kepada orang lain adalah awal dari sebuah relasi yang semakin dekat yang berdampak saling mendukung satu sama lain..



MENURUNKAN STANDAR
Satu pelajaran paling penting yang aku dapatkan lewat kata ini adalah keberadaan kata MAAF dan kesempatan mengucapkannya ketika aku melakukan kesalahan tidaklah boleh membuat aku MENURUNKAN STANDAR PERILAKU atau TANGGUNG JAWAB yang aku miliki. Aku tidak bisa menganggap enteng sebuah perilaku, tindakan atau tanggung jawab sehingga seenaknya melakukannya karena beranggapan bahwa PASTI ADA PENGAMPUNAN ketika aku mengatakan maaf. Berusaha SEMAKSIMAL mungkin walau tidak SEMPURNA adalah karakter yang harus aku miliki
 

Comments