PENONTON DAN PEMAIN

PULAU JEJU

Ketika saya diberikan kesempatan untuk ke Korea tahun 2006 bersama teman sekaligus rekan pelayanan saya Kak Ibeth, Cia dan Artha kami diberi kesempatan untuk mengunjungi pulau Jeju, yang disebut Bali-nya Korea, walau jika dibandingkan langsung keindahan pulau Jeju belum bisa mengalahkan pulau Bali.

 

Di pulau Jeju kami bisa diberikan kesempatan untuk mengunjungi Stadion Sepakbola yang menjadi salah satu stadion yang digunakan ketika Piala Dunia Sepakbola 2002 di Korea dan Jepang. Dalam stadion lapangan sepakbola di tengah dan kursi penonton mengelilingi lapangan tersebut.

Membayangkan sebuah pertandingan sepakbola, maka paling tidak ada dua group yang selalu bagian dari pertandingan besar. PEMAIN dan PENONTON.

 

PENONTON

Aku membayangkan diriku sebagai Penonton. Ketika masih di Yogyakarta, aku dan Richard sempat satu kali menonton langsung di stadion PSS Sleman, pertandingan tim nasional Indonesia vs PSS Sleman. Selama pertandingan, aku yang baru pertama kali nonton bola langsung di stadion diam-diam saja atau komentar seadanya dengan richard sambil memandang sekitar melihat kelakuan para suporter Sleman dengan berbagai karakternya.

 

Secara umum, penonton tidak terlibat langsung di dalam sebuah permainan. Mereka sebagai pendukung bagi tim kesayangannya, namun juga sering terlihat sebagai provokator bagi tim musuh agar mental mereka ambruk dan kalah.

Penonton selalu sangat pintar memberi komentar dan memiliki seribu satu kalimat pedas bahkan sangat pedas untuk mengomentari secara negatif baik itu tim yang mereka dukung atau lawannya. Selalu hal-hal yang negatif menjadi sorotan. Pujian akan muncul ketika bermain bagus. Namun ketika tim yang didukung bermain jelek, kecenderungan penonton adalah bersikap apatis, pesimis serta komentar yang tidak mendukung yang keluar. Tidak ada lagi dukungan kepada tim-nya agar mereka bangkit.

 

PEMAIN

Bandingkan dengan pemain. Coba bayangkan dalam posisi sebagai pemain tim nasional Indonesia yang sedang bertanding melawan tim nasional Malaysia. Segala tekanan yang ada karena sejarah panjang yang tidak hanya di dalam hidang olahraga namun aspek-aspek lain yang terlihat persaingan yang cenderung tidak sehat bisa mempengaruhi mental seorang pemain.

 

Sepanjang pertandingan, idealnya setiap pemain berjuang bukan untuk diri sendiri namun berjuang sebagai tim mewakili Indonesia. Di posisi mereka masing-masing mulai dari Kiper hingga Penyerang seharusnya berjuang dengan maksimal melakukan tanggung jawabnya dengan satu tujuan yang sama yaitu mencetak kemenangan bagi Indonesia. Dalam segala kelelahan yang ada, tetap harus berjuang dalam waktu 90 menit agar bisa memenangkan pertandingan.

Sebelum pertandingan, pelatih memberikan latihan kepada seluruh pemain dan memberikan penjelasan strategi yang akan dipakai dalam pertandingan. Ada persiapan yang harus matang sebelum pertandingan. Selain itu, pemain harus men jaga kondisi tubuh mereka agar fit ketika pertandingan dengan istirahat yang cukup, makan dan minum yang sehat, serta tidak boleh beraktivitas yang membahayakan yang mempunyai resiko besar untuk cedera.

 

Segala sesuatu pada akhirnya ditentukan pada kerjasama pemain untuk bermain sebagai satu tim, yang saling mendukung satu sama lain, bukan hanya berfokus bermain untuk dirinya sendiri.

 

SIAPAKAH AKU?

Dalam sebuah persekutuan ataupun dalam sebuah departemen pekerjaan, selalu aku memiliki pilihan menjadi seorang penonton atau pemain.

 

Dalam persekutuan yang sedang berjuang untuk membangun dasar yang kuat, pada akhirnya ada yang secara sadar atau tidak sadar menjadi seorang penonton. Tidak mau terlibat langsung dan hanya menikmati permainan dari kejauhan. Ketika para pemain bermain jelek, maka yang muncul adalah cacian atau makian. Ketika para pemain bermain bagus, rasa puas adalah untuk diri sendiri bukan untuk pemain tersebut. Begitu juga dalam pekerjaan.

 

Sebagai Pemain, maka harus siap untuk menerima banyak hal yang negatif selain hal-hal positif. Jangan heran harus siap dengan latihan-latihan yang tidak ringan sebelum pertandingan, memiliki proses yang lama dalam mencapai tujuan dan membutuhkan hati yang terbuka untuk bekerjasama bukan mementingkan diri sendiri.

 

Sebuah persekutuan dan departemen pekerjaan bisa semakin solid dan berkembang dan menjadi berkat bagi banyak orang ketika setiap orang yang terlibat di dalamnya memiliki mental sebagai seorang pemain tim bukan sebagai penonton.

Aku sungguh berharap, itu juga yang ada di dalam Komisi Pemuda GKY VTI. Namun, semuanya kembali berpulang pada keputusan pribadi masing-masing teman pemuda. Aku tidak mau memaksa dan aku menghargai setiap pilihan mereka.  Yang pasti, aku pribadi memilih menjadi sebagai PEMAIN TIM KAPE GKY VTI. Aku rindu selalu semangat dalam berlatih sebelum bertanding lewat saat teduh, doa , sharing, membaca buku dan sarana latihan lainnya, menjaga kondisi tubuh rohaniku dengan tidak melakukan kebiasaan-kebiasaan yang Tuhan tidak kehendaki serta berjuang dengan maksimal sesuai kapasitas dan kompetensiku ketika bertanding. Prosesnya panjang tetapi aku mau terlibat dalam proses itu karena ada sukacita yang besar, kemenangan besar ketika pertandingan itu berakhir.

 

NEW  VTI!!! Dekat-Padat-Merambat

Comments