One Chapter is Closed

Sejak Desember 2009 aku bergabung dari Hana Bank setelah sebelumnya menjadi guru Ekonomi selama 3 bulan di Sekolah Dian Harapan.

Selama di Hana Bank aku menjadi staf departemen General Affair – GA -(biasa disebut juga “bagian umum”) yang tanggung jawab utamanya adalah menjadi “pelayan” semua departemen lainnya serta seluruh kantor-kantor Hana Bank.

Menjadi seorang staf di salah satu bank Korea yang sedang berkembang pesat memberikanku banyak sekali pengalaman dan pelajaran berharga bagi hidupku

Aku belajar masuk dalam lingkungan yang penuh dengan karakter yang berbeda ditambah dengan iman yang berbeda serta prinsip-prinsip hidup yang berbeda. Semuanya bercampur aduk lebih dari yang aku alami di JOY.


Bukan penyesalan

Bagiku bekerja di Hana Bank bukanlah suatu penyesalan namun suatu berkat yang Tuhan ijinkan aku dapatkan. Aku naik level lewat pekerjaanku di Hana bank. Aku di Desember 2009 dengan berani aku katakan berbeda dengan aku di Mei 2012. Aku menjadi pribadi yang lebih mengerti dan mengasihi orang lain. Aku menjadi pribadi yang lebih berani mengambil resiko, berani mengambi keputusan dan belajar untuk cepat menyerah karena aku menghadapi banyak sekali fenomena dalam pekerjaanku.

Lewat setiap pribadi yang menjadi rekan kerjaku di GA aku juga belajar banyak hal. Aku tidak akan pernah lupa dengan mbak Linda, mbak Mala, pak Ucok, Ria, Pak Sonny, Ricky, bu Jini, Reka, Abdul dan Pak Susilo sebagai ujung tombak GA Hana Bank. Mereka sangat menerimaku dan memberikan banyak bantuan aku untuk menyelesaikan tangung jawabku.

Senang sekali karena mereka sangat mengasihiku dan menikmati bekerjasama dengan aku sehingga mereka memberikan surat kenangan dan sebuah hadiah kecil tapi sangat berkesan, MUSIX BOX. Rasanya sedih sekali harus berpisah.

Tidak pernah aku lupakan juga teman-teman operator, resepsionis, Pak Robert, office boy dan girl, para messenger cabang serta para driver yang memberikan warna bagi hidupku.

Belum lagi dengan teman-teman dari departemen yang lain dan kantor-kantor cabang Hana Bank. Wah, memang perpisahan itu adalah sebuah momen yang berat. Tidak lagi bisa mendengar permintaan dari teman-teman IT dan bapak ibu Kepala Operasional. Mereka yang paling sering berkomunikasi denganku. Teman-teman dari HRD, Legal terutama mbak Lia yang sering kuganggu :D..., bapak ibu di SKAI, appraisal, compliance, manajemen resiko, credit reviewer, settlement dan processing, trade finance dan commercial banking.

Selain itu, ibu Margi, mbak Angel, pak Dosbert, mbak Stella, mas Wibi, Ekky, serta teman-teman accounting seperti ibu Dwi, bu Ningsih, pak Francis, mas Hadi. Tidak lupa para Direktur mulai dari Mr. Choi yang memberikan banyak perhatian dan inpirasi, sempat Pak Edy Kuntadjo dan PAk Bayu yang membawahi GA serta yang terakhir Pak Sugiarto. Tentu Pak Liem juga menjadi pribadi yang tidak bisa saya lupakan

Setiap pribadi memiliki kesan tersediri dengan kelebihanmasing-masing yang memperkayaku.

Meninggalkan rutinitas

Setiap hari aku bangun sekitar jam 04.30 untuk kemudian berangkat kerja dari rumah jam 05.30. Aku naik motor ke Karawaci kemudia menitipkan motor di tempat penitipan langgananku. Pilihan tempat penitipan motor didasarkan pada tempat tersebut adalah tempat yang paling pertama jika dilihat dari arah rumahku. Jadi, ketika aku menunggu bis, aku tidak perlu berdiri hingga sampai di depan kantorku. Perjalanan jika lancar sekitar satu jam dari Karawaci ke kantorku di Gatot Subroto, Jaksel.

Karena aman, tempat penitipan motor tidak perlu di kunci stang. Selain itu, aku tidak perlu membawa nomor tanda titip motor karena sudah langganan lama. Alasan utamanya karena aku pernah menghilangkan nomor tanda titip motor sehingga harus membayar sejumlah uang pengganti. Selain itu, aku juga bisa minta motorku dicuci.Jadi, aku tidak menghabiskan waktu untuk menunggu motor dicuci. Aku pulang kerja motor sudah bersih.

Aku tidak akan lagi duduk di tempat sepi di gedung kantorku untuk Saat Teduh atau sekedar baca buku sebelum masuk ke kantorku. Tempat itu adalah tangga darurat yang hanya rutin diliewati oleh satpam setiap pagi. Jarang orang melewatinya.

Aku juga tidak akan lagi minum kopi bersama pak Ucok seniorku dan beberapa teman kerja lainnya ketika pagi dan siang hari ketika seleasai makan siang.

Tidak ada lagi perjalanan naik bis 119 dari Karawaci. Perjalanan dari rumah ke kantor 1,5 jam dan pulang dari kantor sekitar 2,5 jam tidak akan lagi kurasakan. Sering ketika harus lembur, memikirkan aku harus menempuh perjalanan panjang untuk pulang ke rumah membuatku mengeluh.

Aku berdoa untuk pekerjaan yang baru salah satu permintaanku adalah jarak dari rumah yang tidak sejauh jika aku ke Hana Bank. Aku akan memulai hidup baru bersama kekasihku. Tentu tidak baik jika jarang di rumah. Selain itu, seperti pernah aku sebutkan di note sebelumnya, aku bisa terlibat dalam pelayanan di gerejaku lebih lagi.

Aku meninggalkan banyak rutinitas yang biasa aku lakukan dan aku memasuki rutinitas baru. Selalu butuh waktu untuk penyesuaian diri. Tolong doakan

Benang merah

Seperti yang pernah aku singgung di tulisanku sebelumnya, aku secara resmi pada akhirnya menjadi karyawan BINUS SCHOOL SERPONG mulai tanggal 21 Mei 2012. Aku sangat menantikan pengalaman apa lagi yang Tuhan berikan padaku di sana.

Satu hal, aku sangat merinding melihat sebuah benang merah yang sekarang semakin aku gumulkan dalam doa apakah ini benar kehendak Tuhan dalam hidupku. Apakah ini panggilanku. Jalan-jalan yang menunjukkan benang merah itu seperti mengarah sesuai dengan passion dan visiku.

Kembali ke masa lalu, aku melayani sebagai staf JOY selama 3 tahun dan terlibah dalam mengajar pelatihan serta menjadi staf pendamping di JOY Timoho. Di Timoho aku terlibat dalam banyak proyek-proyek baru dalam pengembangan minat dan bakat mahasiwa, seperti homebase, buletin lokal, serta banyak lain sesuai dengan lingkungan di Timoho yang sebagian besar mahasiswa yang berasal dari Indonesia Tengah dan Timur.

Setelah itu, aku diberikan kesempatan menjadi guru di Dian Harapan. Aku bisa belajar ada sistem yang harus aku ikut sebagai guru dan pengalaman itu sangat berkesan bagiku. Aku pun terus membangun relasi dengan murid-muridku.

Setelah itu aku kerja di Hana Bank aku melihat Allah membentuk karakterku agar lebih tegas pada diri sendiri dan tidak mudah menyerah. Setelah itu akhirnya aku diberikan kesempatan menjadi staf administrasi di sebuah sekolah yang cukup terkenal. Di sini aku mau belajar tentang kurikulum sebuah sekolah yang berkualitas. Untuk apa?


Mimpi

Seperti yang pernah aku sampaikan sebelumnya, aku sangat punya hasrat bisa terlibat dalam perubahan pendidikan terutama pendidikan di Indonesia Tengah dan TImur. Mimpiku aku bisa menjadi bagian dari sebuah tim yang membangun sekolah yang murah namun berkualitas di Indonesia Tengah dan Timur. Nah, lewat setiap pengalamanku sejak di JOY, benar merah itu semakin terasa.

Ditambah lagi, aku mendapat kesempatan untuk kuliah S-2 teologia dengan beasiswa melalui online dan bekerjasama dengan universitas luar negeri. Aku bisa kerja sambil kuliah. Kerinduanku untuk belajar sekolah teologia tercapai. Belum lagi aku terlibah dalam proyek kelompok kecil di Komisi Pemuda gerejaku yang aku adopsi sistemnya dari JOY dengan penyesuaian sesuai dengan karakter Komisi Pemudaku. Sebuah proyek yang mulai dari “0” (nol) namun aku sangat nikmati karena aku melihat Tuha seperti memberikan kepadaku fungsi sebagai “pembuka jalan”. Hal-hal baru aku kenalkan, selanjutnya untuk perkembangannya selalu ada orang lain.


Satu bab cerita kehidupanku sudah Tuhan tutup per 16 Mei 2012. One chapter is closed. Aku memulai bab baru dalam kehidupanku. Aku hanya rindu pada akhirnya ketika Tuhan memutuskan menyelesaikan buku kehidupanku, pada bab penutup yang isinya adalah Allah dimuliakan karena panggilanku sudah kuhidupi sesuai kehendak-Nya. Tolong dukung aku dalam doa teman.

Comments