REST IN PEACE

Sudah dari bulan lalu aku sangat bergumul karena gigi depanku terancam harus dicabut dan harus menggunakan gigi palsu. Pertama kali datang ke dokter gigi dan setelah diperiksa olehnya, dia mengatakan, kerusakan giginya sudah cukup parah. Tapi dia merekomendasikan untuk tidak dicabut karena ini gigi depan. Dia anjurkan untuk melakukan perawatan berkala lalu setelah siap akan ditambal ulang. Tapi, untuk perawatan selanjutnya dia minta aku terlebih dahulu melakukan rontgen gigi agar dia bisa mengetahui seberapa parah gigiku.


TERLAMBAT

Setelah aku melakukan rontgen gigi, aku kembali bertemu dengan dia. Dia masih merekomendasikan untuk dirawat saja. Nah, ketika dia kembali memeriksa rutin dan hendak memasang kapas untuk menutup lobang yang ada di gigi depanku yang tambalannya sudah lama lepas, dia mengatakan bahwa, gigiku tidak terselamatkan lagi...


Aku mau tidak mau harus menggunakan gigi palsu. Dia mengatakan bahwa ternyata gigiku sebenarnya sudah lepas dari akarnya, namu karena ada gusi, dia masih seperti bergelantungan di gusi. Jika kena makanan keras sangat beresiko langsung putus. Dia mengatakan, ini adalah efek dari tambalan gigi yang lepas tetapi tidak ditambal ulang. Makanan yang sering masuk, walau sepertinya aku bisa mengeluarkannya, namun ternyata ada yang tidak bisa keluar akhirnya  membusuk dan secara alami seperti membuat terowongan lobang yang akhirnya memutuskan gigiku tersebut dari akarnya.Sudah terlambat untuk memperbaikinya.


Seharusnya, ketika tambalan lepas, harus cepat-cepat ke dokter gigi untuk kembali ditambah, jangan dibiarkan lobang walau tidak kelihatan dari luar.


SEPELE

Begitu juga dengan kebiasaan-kebiasaan dalam hidup. Hal-hal kecil yang kita tahu salah namun kita biarkan saat ini, tanpa kita sadari, ternyata memberikan kerugian besar di masa depan. Mungkin teman-teman bisa beri komentar contohnya yang lain. Tetapi yang menjadi perhatian utamaku saat ini adalah kebiasaan-kebiasaan yang berkaitan dengan relasiku dengan Tuhan (saat teduh, doa syafaat, ibadah) dan relasiku dengan sesama karena aku sadar aku tidak bisa lebih baik dan mengenal Tuhan lebih lagi tanpa orang lain. Orang lainpun juga yang aku percaya Tuhan kirimkan agar bisa mendukungku ketika aku sedang bergumul.


Gigiku akan Rest in Peace namun aku tidak mau mati rohani karena kompromi dengan kebiasaan-kebiasaan sepele yang salah.

Comments