KONSEKUENSI BUKAN HAL YANG SEPELE

Ketika mengetahui bahwa aku harus menggunakan gigi palsu karena gigi asliku tidak bisa terselamatkan lagi, aku berpikir bahwa gigi palsu tersebut akan “ditanamkan” di gusiku. Namun, ternyata gigi palsu yang ditanam langsung di gusi harganya harus membuat aku jual rumah, padahal aku belum punya rumah.


Ketika hari pencabutan dan pemasangan gigi tiba, aku baru mengerti bahwa gigi palsu yang aku pesan dengan harga yang masih terjangkau itu, gigi yang bisa dicopot lagi. Gigi tersebut tidak berdiri sendiri. Ada semacam gusi buatan yang ada kawat pengaitnya. Dan akhirnya aku harus menerima kenyataan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya mengenai gigi palsu. Aku harus membiasakan diri pada kondisi yang baru yang berbeda dan tentu tidak nyaman dibandingkan jika aku masih memiliki gigi asli. Dan yang paling menyedihkan adalah aku tidak bisa menolaknya. Sebuah konsekuensi mahal yang harus aku jalani sepanjang hidupku hingga Tuhan memanggilku.

DOSA > GIGI PALSU

Aku sangat diberkati lewat peristiwa ini. Tuhan sangat menegurku mengenai DOSA. Konsekuensi dosa lebih dari konsekuensi gigi palsu. Tuhan mengampuni aku ketika aku minta ampun atas dosa yang aku perbuat. Namun, Tuhan tidak membuat aku lepas dari konsekuensi dosa yang aku perbuat itu. Konsekuensinya bisa berbagai macam tapi seperti kondisi gigi palsu tersebut, tentu sangat berbeda jika aku tidak berbuat dosa.

Aku sangat belajar untuk sadar keadilan Tuhan sehingga ketika ada godaan dosa datang kepadaku, aku tidak melakukannya selain karena aku tidak mau mengecewakan Tuhan yang sangat mengasihiku namun juga aku tahu bahwa konsekuensi dosa itu bukanlah hal yang sepele untuk bisa diterima.

Comments