Tepuk pramuka !!!

Tanggal 30 Agustus 2011 jam 5 pagi, 18 orang pemuda GKY VTI, 1 Pembina Komisi Pemuda (KP) Lse Yuliani bersama 1 Majelis (Bapak Christadi Jhon) langsung berangkat tepat waktu.

Perbedaan sudah terasa sejak keberangkatan. Teman-teman yang memutuskan untuk ikut Outing datang sesuai dengan himbauan, yaitu sebelum jam 5 pagi karena tepat jam 5 pagi kita diharapkan sudah berangkat untuk menghindari kemacetan.

 

Biasanya kami masih ada yang datang melewati jam yang sudah ditentukan. Bagiku, sebuah sikap sederhana ini sangat memberkatiku.

 

Bandung bukan Puncak mas... :) 

Kami berangkat dengan diwarnai dengan dua mobil, Travelo milik GKY Puri Indah dan Xenia milik Lse Yuliani. Perjalanan lancar tanpa mengalami kemacetan, hanya sedikit ada warna karena mobil Xenia “tergoda” untuk ke Bandung (mungkin mau ke trans studio) sehingga ambil jalan keluar tol ke arah Bandung, bukan ke Puncak :D

Oh ya, kami menginap di Villa Gardenia, Cisarua Bogor selama 1 malam. Ketika kami tiba, tempat yang kami sewa ternyata belum siap. Masih ada penghuninya. Namun panitia dengan sigap melakukan lovi sehingga acara kami tetap “on the track” sesuai jadwal yang dibuat tanpa ada penundaan berarti.

 

KAUDIPANGGIL KAU DISERTAI

Diawali dengan sarapan nasi goreng kami memulai sesi pertama dipimpin oleh calon mahasiswa S-2 Psikologi UGM, Rilia Anaci PoEh. Kami mengadakan lomba desain pakaian dari koran dengan 3 model yang cakap dan cantik-cantik. Setelah itu, Lse Yuliani membawakan firman Tuhan dengan diskusi mengenai pelayanan. Kami belajar dari Yeremia. Dia dipanggil oleh Allah, namun dengan alasan tidak bisa berbicara di depan banyak orang, dia berusaha untuk menghindar dari panggilan. Namun, Allah menjelaskan kepadanya bahwa Dia menyertainya dalam panggilannya. Seringkali banyak alasan yang aku buat untuk menghindar dari pelayanan karena aku berfokus pada apa kelemahanku. Aku tidak melibatkan Tuhan dalam panggilan Tuhan. Lucu deh… Kalau Tuhan memanggil, maka Dia akan melengkapi dan MENYERTAIku.

 

Ngancam Ngambek nih :p

Ada banyak kejadian-kejadian yang bisa membuat aku dan teman-teman yang mengikuti outing ini tersenyum. Salah satunya adalah saat games hari pertama. Setelah sesi pertama dan makan siang selesai, kami dibagi menjadi tiga kelompok dan diminta memecahkan petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh panitia. Sangat menantang dan sangat menjadi berkat. Terima kasih panitia. Yang paling menonjol dari games tersebut adalah game terakhir mengharuskan kami masuk kolam renang. Nah, banyak yang tidak mau basah akhirnya dengan segala cara diceburkan ke dalam kolam. Bahkan sampai villa tempat kami menginap basah ruang tamunya. Hingga hari terakhir hanya satu orang yang tidak basah sama sekali, yaitu Lse Yuliani…hahahahaha…. Joana yang berhasil menghindar untuk tidak basah hari pertama dengan sedikit ngambek ;) akhirnya luluh juga hari kedua. Dengan sukarela dia masuk kolam.

 

Encouragement Letter

Setelah itu, semua kami bisa beristirahat sejenak untuk membersihkan diri dan menunggu makan malam. Sesi kedua dimulai setelah makan malam. Sebelumnya, ada penjelasan mengenai adanya pelajaran untuk mendukung teman-teman yang lain dengan cara menuliskannya lewat selembar kertas yang disebut ENCOURAGEMENT LETTER. Aku secara pribadi lewat pengalamanku selama ini belajar bahwa iInti dari pelajaran ini adalah SETIAP ORANG MEMERLUKAN DUKUNGAN, entah dia sadar atau tidak sadar, entah dia mengaku atau tidak mengaku. Aku bisa melihat aku dan banyak orang yang telah menerima encouragement letter ini merasakan kesegaran atau kekuatan baru atau semangat baru setelah selesai membacanya. Aku masih menyimpan dengan rapi setiap lembar encouragement letter yang aku pernah terima sejak aku kuliah dan mengikuti persekutuan pemuda di Yogyakarta. Aku kadang membuka kembali surat-surat itu ketika aku merasa  perlu mengingat kembali dukungan teman-temanku karena diriku merasa down.

 

RENDAH HATI-->  TAAT

Setelah mandi dan makan, kami akhirnya mengikuti sesi kedua dari Lse Yuliani. Panggilan pelayanan dari Allah membutuhkan sebuah KETAATAN dari diriku. Yesus yang sudah tahu akan menghadapi kematian tragis dengan cara disalibkan datang kepada Allah Bapa dan dengan jujur Dia mengatakan “kiranya cawan ini berlalu dari-Ku” . Sebuah ungkapan kejujuran di saat masalah dan tantangan dalam pelayanan-Nya terasa sangat berat sekali. Namun, Dia melanjutkan kalimat doa-Nya. Dia berkata “kehendak-Mulah yang terjadi”. Dia TAAT. Tetap TAAT walau secara manusia Dia sangat menderita.

 

Jika Tuhan menyuruh melakukan “A “ dengan aku mau menerima perintah-Nya tersebut walau keinginan pribadiku mungkin melakukan “B” saja karena lebih nyaman atau lebih mudah atau menguntungkan. Orang yang sombong pada dirinya sendiri mana mau menerima perintah dengan tulus. Dia merasa dia punya pemikiran yang lebih baik sehingga malas melakukan perintah orang lain atau Tuhan.

 

PIKIR BAIK-BAIK Bung!

Sebelum tidur, kami sempat mengadakan acara memanggang ayam di malam hari. Minta maaf aku tidak ikut karena aku tahu aku tidak akan bisa bangun pagi dengan segar :D

Bangun pagi kami semua saat teduh dalam kelompok. Oh ya, kelompok yang dibuat sejak sesi pertama kemarin sangat memberkatiku. Lewat diskusi dalam kelompok, kami semua bisa saling berbagi pendapat perenungan kami dan saling melengkapi satu sama lain. Istilah Tegar, kami bisa “mengkritisi” Firman Tuhan, bukan hanya menjadi pendengar pasif saja. Sikap kritis inilah yang membuat iman semakin bertumbuh.

 

Kami belajar apa sih kriteria yang Tuhan mau jika ingin menjadi murid-Nya. Dari LUKAS 14 : 25 – 33, kami belajar banyak. Judulnya saja, “segala sesuatu yang harus dilepaskan untuk mengikut Yesus”. Aku dapat pelajaran baru. Jika mengikut Yesus, ada hal-hal yang aku lepaskan. Tidak bisa kubawa sambil mengikut Tuhan Yesus. Dalam Alkitab bahasa Inggrisku (NIV-New International Version) judulnya tertulis “the cost of being a disciple”. Konsekuensi sebagai murid.

Menjadi murid Kristus berarti KOMITMEN TOTAL pada-Nya. PRIORITAS UTAMA hanya Dia. Tidak boleh aku mensejajarkan Dia dengan Keluarga atau diri sendiriku dalam skala prioritas. Atau bahkan menjadikan Dia prioritas di bawah Keluarga dan kepentingan diriku sendiri. Kasihku kepada keluarga dan diriku sendiri adalah bagian dari kasihku kepada Allah. Jika aku mengasihi Allah di tempat utama, maka dengan sendirinya aku bisa mengasihi keluarga dan diriku sendiri dengan selayaknya.

 

Yang benar-benar menjadi pelajaran paling penting yang aku dapatkan dari firman Tuhan ini adalah keputusan menjadi murid Tuhan itu adalah keputusan yang harus diambil dengan matang,  bukan dengan emosional belaka atau ikut-ikutan keputusan orang lain. Keputusan itu adalah KEPUTUSAN PRIBADIKU. Jadi, pikir baik-baik bung! Keputusan di tangan anda sendiri.

 

Kolam kesayangan

Selama outing memang primadona game adalah basah di kolam. Teman-teman yang sudah basah karena diceburkan ke kolam, berdiri mengitari villa dengan mata yang “haus memburu” teman-teman yang belum basah agar bisa merasakan sama seperti yang mereka alami…hahaha.ha…mereka tidak akan berhenti sampai bisa membuat target mereka basah. Bahkan bapak Majelis kita sampai diangkat rame-rame dan akhirnya basah juga. Kami main game lagi setelah saat teduh dan sarapan yang pada akhirnya mengharuskan kami masuk kolam renang lagi. Akhirnya photo session-pun di kolam renang.

 

Bukan “one man show”

Setelah itu, ada sesi terakhir dari Lse Yuliani. Aku diingatkan kembali dalam sesi ini bahwa dalam pelayanan, bukan pertunjukan satu orang (bahasa Tangerangnya “one man show”) tetapi tanggung jawab TIM. Setiap orang di Komisi Pemuda GKY VTI memiliki peran masing-masing dalam pelayanan Tidak ada yang lebih penting dari yang lain. Semua berkontribusi sesuai perannya. Aku belajar bahwa ketika Allah memanggil, Dia memanggil dengan REALISTIS. Maksudnya adalah, ketika aku tidak memiliki bakat main musik, tentu aku tidak akan dipanggil menjadi pemusik. Allah memanggil karena Dia tahu apa yang bisa aku lakukan.

 

Oo...begitu to ...

Karena outing ini aku jadi bisa semakin mengenal teman-teman di Komisi Pemuda. Aku bisa semakin akrab dengan Anto yang penuh dengan kegalauan dan selalu memberikan komen pada setiap perkataan atau kejadian tanpa pernah melupakan kata "hati"...hahahah. Aku yakin semua bisa mengatakan dalam hati: "oo..begitu to si Godlif... oo begitu to Anto..oo begitu to..."

 

Sharing itu baik

Masing-masing kami bisa belajar sharing. Keterbukaan dalam sharing adalah awal dari pemulihan. Sharing secara sadar atau tidak sadar memberikan kesempatan kita bisa didukung secara jelas oleh orang-orang yang mengisihi kita. Tidak mungkin orang bisa mendukung kita dengan tepat jika kita tidak menyukai sharing. Sharing itu baik.

 

 

Warna Warni (Bengkok, Datar, Mob dan Tepuk Pramuka)

Dengan satu kali berbicara, Richard menciptakan istilah yang sekarang melekat di Tegar. Karena Tegar sering menciptakan lelucon yang kurang masuk akal, maka Richard dengan tegas mengatakan,” otak Tegar ini bengkok ternyata ya”….hahahahah…jadilah panggilan baru Tegar adalah “bengkok”. Karena tidak mau sendirian mendapatkan julukan, akhirnya Tegar menyebut Eclat “otak datar” dengan alasan karena Eclat dengan sok polosnya mendramatisir atau membuat pusing perkataan orang lain dengan perkataannya…

 

Hampir lupa. Di villa tempat kami menginap, ternyata ada tamu dari pemilik villa tersebut yang nginap di tenda. Mereka keluarga dari Papua yang sekarang kerja di Jakarta. Kami kenalan anak bernama Jeri yang masih kecil kelas 1 SMP. Dia mudah bergaul sehingga sering mengikuti acara kami yang kami lakukan di luar ruangan. Satu hal yang diingat dari dia pasti cerita lucu dari Papua yang disebut MOB. Aku tidak dengar langsung mob yang dia ceritakan, tetapi ketika mendengarnya pun aku tertawa hampir sakit perut. Silahkan deh tanya mob ini ke teman yang lain.

Selain itu, sering setelah satu kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, maka Tegar memimpin kami sebagai bentuk apresiasi dari presentasi itu dengan melakukan Tepuk Pramuka… benar-benar tidak nyambungs… tetapi jadi ikon yang wajib dilaksanakan setiap presentasi selesai.

 

Akhirnya setelah makan siang dan beres-beres barang, sekitar jam 14.30 kami berangkat pulang dan sampai di Tangerang dengan selamat.

 

TULISKANLAH

 Wah, sebelum berkurang ingatan-ingatan pengalaman dua hari lebaran 2011 ini, aku mencoba menceritakannya agar ketika aku membacanya kembali di tahun-tahun ke depan, aku bisa mengingatnya lagi  dan tersenyum simpul mengenang semuanya. Silahkan isi comment di bawah notes ini jika ada hal-hal lain yang diingat namun aku belum menuliskannya.

 

KLUB SEPAKBOLA (Pemain dan Pelatih + Penonton)

Layaknya pertandingan sepakbola, ada pemain dan penonton sebuah klub. Para penonton biasanya mudah sekali memberikan komentar pedas kepada pemain yang sedang bertanding. Biasanya penonton tidak punya keahlian bermain bola yang sama atau tidak mau menjadi pemain yang bertanding tersebut. Masukan yang mendukung itu baik dan perlu tetapi penonton sepakbola biasanya tidak dekat dengan para pemain atau pelatih sehingga tidak ada masukan yang diinformasikan dengan sungguh-sungguh peduli pada kemajuan klub tersebut namun hanya karena tidak merasa puas dengan apa yang mereka tonton dan kesalahan harus ditanggung pemain. Pemain tersebut dilatih oleh seorang pelatih dan dibantu beberapa asisten. Merekalah beserta para pemain sendiri yang saling berdiskusi untuk menjadi lebih baik di pertandingan selanjutnya.

Komisi Pemuda sama seperti klub sepakbola tersebut. Ada yang secara sadar atau tidak sadar bersikap sama seperti penonton. Sering mengkritik dan memandang hanya dari sisi negatif.  Selalu mengingat kesalahan-kesalahan masa lalu dan menjadikan itu alasan yang dianggap benar untuk tidak terlibat dalam komisi pemuda. Pelatih kita adalah Tuhan Yesus yang dibantu para “asisten” yaitu para Hamba Tuhan. Orang-orang yang mau dilatih oleh Tuhan adalah PEMAIN bukan sekedar PENONTON. Komisi Pemuda membutuhkan orang-orang yang mau terlibat dalam pelayanan dan dibentuk lewat latihan rohani bukan sekedar menonton dan tidak bertumbuh dalam iman.

 

A + K = A

Bagiku secara pribadi, ini adalah moment yang baik untuk semakin membawa kebesamaan dalam Komisi Pemuda dan juga tetap mengajak kita sadar untuk MELAYANI dengan benar. Momen ini telah berlalu. Aku mendorong diriku sendiri dan teman-teman pemuda yang lain untuk berkontribusi menciptakan momen-momen seperti ini  agar ada PERTUMBUHAN IMAN dan RELASI di Pemuda dan semakin banyak orang yang diberkati dan penasaran serta antusias datang bertumbuh bersama. KONSISTENSI dibutuhkan untuk melanjutkan AWAL yang BAIK kepada AKHIR yang baik (A + K = A)

Comments