Buah Tangan dari Indonesia Timur (Bagian pertama—SUMBA)

Sebenarnya semua pulau di Indonesia terutama Indonesia Bagian Tengah dan Timur merupakan pulau-pulau yang menjadi pokok doaku. Namun, ada tiga pulau yang sangat berarti bagiku di Indonesia ini. Tiga pulau tersebut adalah Pulau Nias tempat mamaku berasal dan sebagian besar dari keluarga dari mamaku berada. Lalu pulau Rote tempat Papaku berasal dan keluarga besar papaku juga sebagian besar ada di sana. Yang terakhir adalah pulau Sumba, tempat kekasihku dan keluarga besarnya berada.

 Aku bersyukur karena memiliki kesempatan mengambil  waktu untuk  berpetualang ke dua pulau dari tiga pulau  yang memiliki arti penting  dalam hidupku. Aku keliling ke Pulau Sumba dan Pulau Rote.

Waikabubak

Di Sumba aku menghabiskan waktuku di Sumba Barat, kota Waikabubak. Aku tinggal di keluarga yang berasal dari Rote yang juga masih ada hubungan saudara dengan Oce. Biasa aku panggil Baces dan Maces. Nama tersebut adalah singakatan dari Bapa Chesya dan Mama Chesya. Kebiasaan di NTT dan juga nias, nama orang tua dipanggil bapa atau mama dengan diikuti nama anak pertamanya.

 Ada banyak hal yang berkesan bagiku selama di Sumba. Ini yang ingin aku bagikan selain nanti petualanganku di Rote.

Cium Hidung

Dari awal rencana mau datang ke Sumba Oce sudah memberitahukan salam khas Sumba adalah cium hidung, jadi aku harus latihan cium hidung J. Dari sejak bertemu dengan keluarga Oce yang juga pulang ke Sumba dari Bali sampai aku pulang ke Kupang, aku selalu tidak pernah satu haripun tanpa cium hidung J . Aku belajar bahwa setiap daerah memiliki kebiasaannya yang khas yang tidak ada di daerah lain. Aku ingat ketika pertama kali menginjak Jakarta, ternyata di Jakarta juga Tangerang tidak adanya namanya perkunjungan dari rumah ke rumah ketika Natal  seperti yang selama ini kami lakukan di Tanjung Enim. Yang ada adalah adanya kiriman kue-kue dari jemaat.

Penyesuaian diri adalah hal yang aku  terus jaga. Ada prinsip-prinsip hidup yang tetap aku pegang di manapun aku berada, namun untuk kebiasaan-kebiasaan positif di suatu daerah yang baru aku injak, tentu aku perlu ikuti agar aku bisa semakin menikmati daerah tersebut dan juga orang-orang tidak merasa kaku ketika berinteraksi dengan diriku.

Aku bersyukur bisa berkeliling ke keluarga Oce selama di Waikabubak. Penerimaan yang sangat luar biasa aku rasakan dan adanya relasi yang saling mendukung yang sangat kuat di antara mereka sehingga setiap keluarga sangat merasa kedekatan yang luar biasa. Sebenarnya aku tidak merencanakan ke Waingapu (Sumba Timur), namun karena pesawatku diundur berangkat satu hari lagi (dari Selasa ke Rabu), aku jadi bisa ke sana dan bertemu dengan keluarga Oce di Waingapu yaitu keluarga Vonny dan Udju . Papa mereka adalah saudara sulung dari Mama Oce. Cara Tuhan membuka jalan adalah cara yang tidak terpikirkan olehku. Aku sendiri melihat campur tangan Allah dengan kasih dan keterbukaan yang luar biasa dari keluarga Oce pada diriku.

Baces dan pendidikan

Aku belajar hal luar biasa lewat pengalaman tinggal di rumah Baces. Mereka menerima anak-anak yang sekolah dari desa yang tidak ada hubungan saudara dengan mereka. Hati mereka yang mau menerima anak-anak yang mau belajar adalah hati yang sangat menginspirasiku. Hati seperti inilah yang membuka peluang meningkatkan masa depan anak-anak yang tidak mampu yang akhirnya meningkatkan optimisme masa depan yang cerah di daerah tersebut. Sepertinya sangat idealis, namun aku punya prinsip bahwa satu langkah kecil adalah awal dari sebuah perubahan besar di masa depan bagi orang lain.

“Pasar Sorong”

Ada istilah yang sering diucapkan jika aku berkunjung ke rumah-rumah kelurga Oce. “jangan marah e, duduk kosong sa”,  atau “aduh, minta maaf hanya makan kosong ni”… Sebuah ungkapan ramah-tamah dari tuan rumah yang mengungkapkan kerendah hatian mereka untuk apa yang mereka hidangkan kepada tamu. Apa yang istilah di daerah lain? J

Satu hal yang tidak bisa kulupakan di Waikabubak adalah udaranya yang sangat dingin apalagi kalau malam, seperti di daerah Kaliurang, Yogyakarta. Malam berkabut. Wah, selalu  aku harus memakai jaket dan juga selimut. Yang unik adalah di Sumba Timur (Waingapu) tidak dingin seperti Waikabubak karena Waingapu adalah kota pelabuhan. Dari sisi kemajuan kota, Waingapu masih lebih maju kotanya, lebih banyak kota dan surat kabar sudah ada. Jalan menuju Waingapu dari Waikabubak sangatlah berliku-liku tajam dengan jalan tidak terlalu lebar serta adanya jurang di sisi jalan. Selain itu aku melewati daerah yang terdapat “pasar sorong”. Istilah tersebut maksudnya adalah adanya penjual berbagai macam makanan atau minuman selain tentunya  “sirih” yang  jadi makanan “wajib” di Sumba.

Akhirnya akupun pulang hari Rabu ke Kupang setelah melewati satu minggu di Sumba. Aku pulang membawa cerita keagungan Allah yang terlihat dari setiap pemandangan alam, ciri khas budaya serta kasih yang luar biasa yang dari setiap pribadi yang kutemui.Terima kasih Tuhan

Comments