Pemandangan biasa = Pemandangan spesial

Hari ini aku pulang dengan sedikit lebih cepat. Jam 18.30 aku bisa "melarikan diri" dari bos-ku yang dengan semangat memberikan job-job walau dia tahu aku akan cuti besok.


Sempat via YM aku ngobrol dengan Shinta yang juga ternyata masih dalam perjalanan pulang. Aku juga sempat me-reply mantan muridku via twitter. Perjalanan yang panjang karena harus menunggu busway yang penuh walau sudah lewat 5 busway. Lalu nunggu lagi bis ke Tangerang yang juga penuh terus.


Aku tidak mau berdiri jika naik bis ke Tangerang karena kaki bisa rontok nih kalau berdiri dari Slipi bawah sampai Karawaci. Bersyukur akhirnya dapat bis yang bisa duduk.


dalam perjalanan naik bis, aku melihat pemandangan yang sebenarnya sudah biasa terjadi namun baru aku perhatikan dengan jelas. Selama ini kalau aku pulang biasanya aku tidur di bis karena lumayan menambah 1 jam tidur. Nah, kali ini rasa kantukku tidak terlalu kuat karena pikiran sudah mulai berpaling dari Tangerang :D


Aku duduk di tempat duduku favoritku di pojok belakang karena biasanya sandarannya paling tinggi sehingga bisalah orang setinggiku tidur dengan nyaman. Aku melihat dari depan hingga belakang mayoritas penumpang bis tidur dengan lelap dengan berbagai gaya tidur mereka.Terlihat dengan jelas begitu lelahnya mereka sehingga tidur.


Yang menjadi hal yang aku sendiri renungkan adalah, mereka sadar atau tidak sadar "BERIMAN" kepada pak Supir. Mereka tidur dengan kepercayaan bahwa mereka akan sampai pada tujuan sehingga mereka tunggu aja teriakan dari "kenek" ketika sudah dekat tempat mereka turun.


IMAN adalah hal yang biasa sebenarnya terjadi dalam hidupku. Aku percaya bahwa bis ini sampai pada tujuan karena aku percaya pada pak supir yang sudah punya pengalaman entah berapa belas atau puluh tahun jadi supir lho.


Yang menjadi tantangan bagiku, seberapa besar IMANku pada SUPIR kehidupanku yaitu Allah? Apakah aku bisa "tidur terlelap" seperti para penumpang yang percaya supir bis 62 yang kutumpangi juga? Jika mereka tidak percaya supirnya pasti mereka tidak akan tidur, namun dengan hati yang was-was mengantisipasi atau lebih tepatnya khawatir bagaimana nasih mereka, apakah sampai pada tujuan sehingga mereka bisa jadi mereka komentar terus pada supir, seperti "pak jangan terlalu ngebut!" , "pak, ke kiri sedikit pak nanti ketabrak mobil lain" atau apapun komentar bernada kekhawatiran lainnya.


Nah, sebelum memiliki iman, sama seperti penumpang yang tahu bahwa bis 62 akan membawa mereka ke tempat tujuan mereka seperti karawaci, aku juga harus sadar IMAN pada apa diriku ini. Apakah iman pada Allah yang memiliki tujuan hidup bagiku atau aku beriman pada hal-hal lain seperti uang, jabatan, pujian orang lain atau lainnya?


Mengetahui tujuan hidup dengan mempercayai pribadi yang menuntun pada tujuan itu adalah hal yang juga penting selain percaya pada pak Supir. Kita bisa percaya pada pak Supir tetapi ternyata bis yang kita tumpangi bukan bis yang menuju rumah kita. Sama aja bohong donk... tersesat kita.


TUJUAN HIDUP dan IMAN pada ALLAH yang benar menjadi hal yang bagiku ingin semakin diteguhkan sehingga damai sejahtera abadi selalu hadir dalam diriku.


biasanya aku menulis judul untuk tiap-tiap bagian dari note-ku agar yang membacanya tidak bosa dan tertarik terus sampai selesai membaca. Namun kali ini aku tidak akan memberi judul. Aku ingin menuangkan isi pikiran dan hatiku tanpa peduli apakah orang nyaman membacanya atau tidak :D


Pemandangan biasa dalam sebuah bis yang rutin aku tumpangi untuk pulang tenyata adalah pemandangan yang spesial yang membuatku belajar tentan iman.


Comments