Sebuah kebetulan yang BUKAN kebetulan

Awal pagi hari ini aku berkesempatan sarapan dengan Papaku ditemani mamaku. Tidak terasa sudah memasuki tahun ke-6 papaku melayani di Tangerang. Sarapan kali ini dia mengucap syukur karena melihat hal yang luar biasa terjadi di gerejaku.

Hanya satu dan hilang

Awal masuk, di gereja hanya ada satu pemain musik. Pemain musik tersebut tidak bisa digantikan oleh orang lain dan tidak memperbolehkan alat musik digunakan oleh orang lain. Tentu saja ini sangat tidak baik bagi perkembangan gereja. Ada ketergantungan pada satu orang. Jika orang tersebut tidak datang maka kami akan kesulitan dalam ibadah karena tidak ada yang bermain musik.

Suatu waktu dia mengatakan tidak mau lagi melayani. Wah, sebuah pukulan yang telak bagi gerejaku karena tidak ada yang bisa menggantikan dia.

Akhirnya, beberapa anggota jemaat mau belajar bermain musik. Sampai pada akhirnya saat ini, kami tidak lagi bergantung pada satu orang. Bahkan di pemuda dan remaja-pun serta anak-anak sekolah minggu sudah banyak yang memiliki bakat musik dan sudah semakin sering terlibat dalam pelayanan.

Level kemampuan mereka

Kami sadar bahwa dalam belajar selalu ada proses yang harus dijalani dan setiap pribadi tidak memiliki jangka waktu proses yang sama. Jadi tidak boleh kami membandingkan kemampuan satu orang dengan orang lain untuk merendahkan salah satu dari mereka, namun kami mendukung keduanya untuk semakin lebih baik dimanapun level kemampuan mereka sekarang.

Aku belajar bahwa tidak bisa satu orang bertumbuh sendiri dan tidak bisa kita bergantung pada satu orang. Sebuah kolektivitas yang ditunjang fellowship dan passion untuk belajar bisa membawa aku dan saudara-saudaraku di gereja atau di manapun komunitas kita ada bisa semakin menjadi lebih baik, saling melengkapi dan saling mendukung sehingga walau akhirnya yang senior-senior sudah tidak lagi bersama dengan kita, kita masih bisa melayani dan kita memiliki  tanggung jawab untuk mempersiapkan generasi di bawah kita agar di masa depan mereka siap untuk menggantikan kita.

Jangan berpikir sempit

Yang menjadi perhatianku adalah janganlah berpikir sempit hanya bergantung pada satu orang, hanya memikirkan keadaan saat ini atau hanya memikirkan berapa besar harga (baca: biaya) yang harus keluar untuk keputusan ini. Bagiku secara pribadi, ini adalah sebuah inventasi yang nilainya KEKAL sehingga tidaklah setuju diriku jika hal ini akhirnya terhambat karena faktor-faktor di atas. Bisa jadi kita harus berjuang dari nol mengajar setiap orang yang memiliki hati untuk belajar. Bisa jadi waktu semakin perlu diluangkan lebih banyak dan bisa jadi harga dari alat-alat yang dibutuhkan “kita rasa” mahal saat ini. Tapi jika kita melihat MASA DEPAN, maka semuanya itu terlalu “murah” untuk akhirnya kita tolak untuk terlibat di dalamnya.

Kehilangan

Aku mau melakukan apa saja yang bisa aku lakukan karena bagiku aku tidak hidup untuk selamanya melayani gerejaku. Tidak menyesal aku kehilangan “uang dan waktu” yang tidak sebesar penyesalanku jika aku kehilangan “saudara-saudaraku” hanya karena tidak ada pemikiran dan persiapan untuk masa depan gerejaku. Sebenarnya istilah “kehilangan” uang dan waktu ketika terlibat melayanipun aku tidak suka menggunakannya karena uang dan waktu pasti hilang di manapun kita berada dan beraktivitas. Hanya, yang menjadi bahan evaluasi pribadi adalah apakah uang dan waktu yang hilang tersebut digunakan untuk hal yang memuliakan Allah atau hanya demi diri sendiri yang pada akhirnya membuat kita semakin jauh dari Allah.

Bagiku bukan suatu kebetulan jika akhirnya pemuda yang sebelumnya satu-satunya bisa main musik itu akhirnya tidak melayani. Itu adalah cara Allah membuat semua orang-orang yang dikasihinya semakin berkembang menjadi lebih dewasa.

Comments