GIGI NETRAL

Jika Allah berprofesi sebagai penjual es campur, Dia adalah peracik es campur yang paling lezat.

Jika Allah berprofesi sebagai arsitektur, Dia menghasilkan karya paling terkenal dari berbagai bahan

Jika Allah adalah penulis, maka Dia dengan sangat detail dan mengagumkan bisa menulis semua pengalaman yang pernah dialami oleh manusia.

 

Sepanjang bulan yang telah berlalu hingga akhir tahun adalah masa-masa ketegangan tinggi dalam hidupku. Ibaratnya mengendarai motor, aku selalu memacu motorku selalu dengan sangat kencang menggunakan gigi empat.

 

Ketegangan 2 hal

 

Pertama, sehabis kecelakaan motor, biaya total perawatan ku di rumah sakit sekitar Rp 68 juta. Sangat bersyukur karena asuransi kantor menanggung Rp 30 juta, lalu ada dukungan Rp 20 juta sehingga aku “hanya” menikmati utang Rp 18 juta. Ketika aku menulis blog ini, keluargaku sedang berusaha pihak asuransi Jasa Raharja menanggung Rp 10 juta.

 

Kedua, di tempat pekerjaanku ketegangan terjadi setiap hari karena target yang diberikan oleh manajemen dengan waktu yang sangat mendesak dan jumlah orang yang sangat tidak seimbang. Bagiku adalah perjuangan ketika harus membuka 4 cabang namun tetap melayani kebutuhan 20 cabang yang sudah ada oleh 2 orang laki-laki saja.

Lihatlah tulisan-tulisanku sebelumnya. Semuanya terus berkutat pada tantangan setelah kecelakaan. Belum lagi  pekerjaan yang merupakan pengalaman sangat berharga bagiku karena pertama kalinya aku berkecimpung di dunia kerja, dan itu di Jakarta.

 

GIGI 4 TERUS atau ???

 

Satu hal yang mungkin pernah aku tulis, pengalaman di Jakartalah yang benar-benar membuat aku tidak pernah berhenti “berlutut”, menangis karena yang aku hadapi adalah hal-hal yang Allah ijinkan agar karakter-karakter dalam diriku yang Allah ingin aku rubah akhirnya benar-benar diasah, dibentuk dan dibanting sama seperti dalam Alkitab- bejana tanah liat di tangan pembuat bejana

Ketegangan tingkattinggi… Semua merupakan prioritas utama, lalu yang mana yang menjadi prioritas???

Ternyata yang menjadi prioritas adalah kembali ke gigi netral, berhenti sejenak, mendinginkan mesin yang sudah sangat panas karena dipaksa gigi 4 terus.

 

Menetralkan hati dan pikiranku dengan beristirahat bersama Allah secara pribadi dan bersama saudara-saudaraku di gereja memberikan kesegaran baru, menjaga iman dan harapan serta kasihku kepada Allah dan sesamaku.  Menangis di hadapan Allah, membagikan semua isi pikiranku di hadapanNya, namun juga berdiam diri merenungkan firmanNya tiap hari. “DIAM! Biarkan Aku yang berbicara!” Allah berkata kepadaku.

Comments