Skip to main content

Aku bayar Rp 5.500 demi umur 70 tahun

Jika kita ingin mendapatkan sesuatu, selalu sadar atau tidak sadar, kita harus melepaskan sesuatu. Ini kalimat kunci dari refleksiku kali ini. Aku ingin berbagai beberapa contoh mengenai kalimat itu.

Ketika awal bekerja di Jakarta, aku selalu naik motor tiap hari ke Jakarta dari Tangerang. Kalo pagi hari bisa 1,5 jam kurang perjalanannya. Kalau pulang bisa 2 jam. Di tengah jalan banyak cerita. Ada macet dan nyaris atau sudah tabrakan. Belum lagi kalau hujan lebat harus siap basah kuyup walau sudah ada jas hujan. Badan sangat lelah jika pulang karena harus konsentrasi bukan hanya di pekerjaan tetapi selama di perjalanan. Ribuan motor berlomba pulang setiap malam…

Lalu aku mencoba pergi ke kantor naik bis dari Karawaci. Aku titipkan motor di Karawaci, lalu naik bus patas ke kantor. Turunnya tepat di depan kantor. Ada kesempatan tidur dan juga badan tidak terlalu capek karena tidak perlu konsentrasi menyupir. Belum lagi kesehatan juga lebih terjaga. Kalau naik motor dada ini sangat rapuh karena diterjang angin terus. Ongkos naik bis patas Rp 5.500 sekali jalan. Aku merasa bisa memperpanjang kesempatan hidup sampai umur 70 tahun dengan tetap bisa bermain sepakbola ketika naik bis ke kantor daripada naik motor sampai di kantor. Walau hitungan biaya naik beberapa persen, tetapi aku bisa mendapatkan kesehatan lebih. Aku melepaskan sejumlah uang untuk mendapatkan kesehatan.

SELALU TIMBAL BALIK

Selalu harus ada timbal balik. Tidak ada yang tidak. Untuk dapat hadiah dari bank misalnya, tentu ada uang yang ditabung. Untuk mendapatkan pekerjaan yang baik, tentu harus membayar harga dengan kerja keras, belajar bukan sekedar hanya malas-malasan atau nonton TV. Ada sesuatu yang dilepaskan. Kesenangan sesaat dilepaskan untuk mendapatkan masa depan yang lebih cerah.

Untuk mendapatkan damai sejahtera, ada dosa-dosa yang harus kita lepaskan. Untuk melepaskan kegelisahan, kita harus memberikan diri kita diketahui apa adanya orang lain dengan cara bercerita kepada orang lain mengenai apa yang selama ini kita pendam.

Untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan, kita harus melepaskan sesuatu yang kita tahu Tuhan ingin kita lepaskan. Mungkin juga sakit hati, rasa benci atau juga fokus kita yang masih pada kekayaan atau kesombongan.

PELEPASAN TERBESAR SEPANJANG SEJARAH

Tahukah kita ada kejadian melepaskan yang terbesar sepanjang sejarah dunia untuk mendapatkan sesuatu? Demi mendapatkan relasi yang telah putus  sekian lama, Allah rela melepaskan anakNya mati di kayu salib untuk menebus dosa agar Allah mendapatkan kembali relasi yang indah dengan manusia. Allah membayar harga yang sangat besar, melepaskan sesuatu yang sangat besar, anakNya sendiri, demi mendapatkan manusia kembali kepadaNya.

HARI INI

Hari ini, mari bersama mengambil waktu sejenak, merenungkan apa yang masih perlu kita lepaskan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Jika masih sekolah, berarti mungkin waktu bermain atau lainnya dilepaskan demi mendapatkan nilai yang lebih baik. Kerja keras dan belajar juga berlaku agar karir di pekerjaan baik . kejujuran dan keterbukaan agar mendapatkan damai sejahtera yang selama ini hilang. Melepaskan rasa sakit dan benci demi mendapatkan kembali sukacita yang selama ini hilang. Atau ada hal lain yang mungkin belum diketahui orang lain, namun kita sadar harus kita lepaskan agar kita menjadi pribadi yang lebih baik. 

(terinspirasi dari buku John C. Maxwell: Leadership Gold)

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Surgamu

 “Akhirnya aku menemukan surgaku dengan terjun di dunia finansial.” Kalimat yang membuatku tiba-tiba menjadi lebih fokus mendengarkan cerita seorang teman tentang aktivitasnya sehari-hari.  Teman ini mengakui bahwa dia mememukan surganya lewat apa yang dilakukan sekarang di dunia finansial. Tanpa memaksa, dia juga mengundang aku untuk masuk ke dunia itu suatu waktu. “Tidakkk…” kata itu yang keluar dengan nada teriak penuh penyesalan dari mulut anak salah satu dosenku, ketika ayahnya tersebut menghukum dia dengan tidak boleh menikmati dessert karena dia telah melakukan kesalah. Bagi anak tersebut, dessert adalah segala-galanya. Dosenku bilang, desser adalah surga bagi dia. Terutama karena dia bisa menikmati es krim. “Goooollll!!!” Wah…membaca atau mendengar kata itu sudah membuat rata-rata kita tahu, sepakbola memang menjadi surga bagi banyak orang. Banyak orang lho..tidak semua..hehehe… Baru saja dahaga menonton sepakbola lokal terobati dengan dilangsungkannya pertandingan ujicoba

Tempat Duduk di Tempat Ngopi

  31 Januari 2021 Bulan yang pertama di tahun baru hampir berakhir. Satu hari sebelumnya orangtuaku terbang dari Tangerang ke Kupang. Secara resmi mereka berpindah tempat tinggal setelah sejak 2005 tinggal di Tangerang. 16 tahun tinggal di Tangerang. Ada ratap sedih yang mencapai puncaknya di minggu terakhir mereka tinggal di Tangerang karena ada banyak orang yang sangat mengasihi mereka. Belum lagi banyak tempat dan kebiasaan-kebiasaan di Tangerang dan Jakarta yang harus ditinggalkan Maret 2020 Bulan yang dikenal sebagai awal virus corona masuk di Indonesia. Belum satu tahun aku masuk kuliah di Malang dan tinggal di asrama kampus. Aku harus ke Sumba karena kampus menginstruksikan semua mahasiswa yang tinggal di asrama kembali ke tempat asal masing-masing. Pertimbangannya adalah karena daerah di sekitar kampus sudah ada yang terkenal virus tersebut. Akhirnya hingga akhir Juli 2020 aku tinggal di Sumba, tepatnya di Waikabubak, ibukota kabupat en Sumba Barat. Ada banyak momen

#harussiap

  31 Januari 2021 Bulan yang pertama di tahun baru hampir berakhir. Satu hari sebelumnya orangtuaku terbang dari Tangerang ke Kupang. Secara resmi mereka berpindah tempat tinggal setelah sejak 2005 tinggal di Tangerang. 16 tahun tinggal di Tangerang. Ada ratap sedih yang mencapai puncaknya di minggu terakhir mereka tinggal di Tangerang karena ada banyak orang yang sangat mengasihi mereka. Belum lagi banyak tempat dan kebiasaan-kebiasaan di Tangerang dan Jakarta yang harus ditinggalkan Maret 2020 Bulan yang dikenal sebagai awal virus corona masuk di Indonesia. Belum satu tahun aku masuk kuliah di Malang dan tinggal di asrama kampus. Aku harus ke Sumba karena kampus menginstruksikan semua mahasiswa yang tinggal di asrama kembali ke tempat asal masing-masing. Pertimbangannya adalah karena daerah di sekitar kampus sudah ada yang terkenal virus tersebut. Akhirnya hingga akhir Juli 2020 aku tinggal di Sumba, tepatnya di Waikabubak, ibukota kabupat en Sumba Barat. Ada banyak momen