DIBONCENG JAS HUJAN

Hari tanggal 16 Januari 2010 aku mengikuti kebaktian umum II. Karena papaku sedang pergi ke Karawaci, maka aku bersama mamaku pergi naik motor. Ketika hendak pergi ke gereja, hujan turun. Terpaksa aku pakai jas hujan.

Karena jas hujanku bukan model pakaian, tetapi jas hujan panjang dan lebar, maka penumpang bisa juga tidak kena hujan. Ketika mau naik ke motor, mamaku bertanya kepadaku, “jadi nanti tertutup dan tidak bisa melihat ke depan?” aku jawab, “iya mam. Itulah beriman.” Dengan bercanda aku bilang, “beriman kepada Godlif.” (yang diikuti gelak tawa mamaku dan aku sendiri ). Bahwa aku bisa membawa mamaku sampai dengan selamat ke gereja, walau mamaku tidak bisa melihat ke depan. Tetapi demi perlindungan dari hujan, mamaku tertutup jas hujan namun bisa sampai dengan tujuan tidak terlambat karena menunggu hujan reda.

Aku belajar kembali tentang imanku kepada Allah. Sama seperti dibonceng dengan jas hujan. Mamaku harus percaya kepadaku. Mamaku bisa percaya karena kenal aku dan tahu aku bisa mengedumi motor dengan baik. Jika mamaku tidak percaya, maka dia tidak mau tetap dibonceng aku tanpa bisa melihat ke depan dan memilih untuk naik becak lalu naik angkot. Tetapi mamaku tetap mau dibonceng.

Masa depan atau ujung dari tantangan yang saat ini dihadapi setiap pribadi manusia mungkin tidak kelihatan. Tetapi hidup kita “dibonceng” oleh “pengemudi” yang kita KENAL dan PERCAYA. Jadi, jangan ragu untuk dibonceng dalam jas hujan karena Allah tidak pernah membiarkan kita tidak sampai tujuan.

Sama seperti ketika dibonceng oleh diriku mamaku juga tetap harus melewati hujan dan jalanan yang licin serta berlubang. Ketika dibonceng Allah juga bukan berarti semua seperti jalan tol, bebas hambatan, bebas masalah, tetapi tetap menghadapi banyak tantangan namun, dibonceng oleh DIA yang LAYAK DIANDALKAN.

Comments