ARSITEK JIWA

Petualangan baru Tuhan berikan kepadaku sejak 30 September 2009. Aku menjadi guru part-time SMA Dian Harapan Karawaci yang mengajar Ekonomi kelas 10 dan 12 menggantikan seorang guru yang sedang cuti hamil bernama Ibu Eti. Sebenarnya kontrakku mulai 1 Oktober, tetapi karena tanggal 30 September ada jam pelajaran Ibu Eti yang paling banyak (tiap hari Rabu mengajar 4 sesi / jam pelajaran), maka aku diminta untuk masuk lebih cepat satu hari, dan nanti akan dihitung dalam perhitungan reward-nya.

Banyak hal baru yang aku temui dan seperti dimanapun, jika masuk ke suatu lingkungan yang baru, pasti perlu menyesuaikan diri. Mulai dari pakaian yang wajib kemeja putih lengan panjang dengan celana panjang gelap serta memakai dasi dan juga sepatu hitam tertutup. Lalu aku berangkat dari rumah jam 05.45 dan sampai di sekolah 06.20. aku berangkat lebih awal walau masuknya 06.40 karena menghindari macet yang biasa terjadi sekitar jam 6 di daerah rumahku karena ada pabrik yang biasanya menjemput karyawannya menggunakan bis-bis besar antar kota antar provinsi yang memperlambat kendaraan lain.

DEVOTION

Jadwal QT (Quiet Time = Saat Teduh) tentu berubah karena harus lebih pagi. Jam 04.30 aku sudah QT, lalu jam 5 makan dan dilanjutkan makan. Sampai di sekolah aku langsung mengikuti Devotion alias renungan bersama para guru. Devotion dibagi dalam tiap tim mata pelajaran. Karena aku mengajar Ekonomi, maka aku masuk tim IPS yang dipimpin oleh Ms. Jerni. Oh ya, ada kebiasaan baru yang aku harus praktekkan, yaitu memanggil Miss (Ms.) bagi Ibu guru dan Mister (Mr.) bagi Bapak Guru. Begitu juga diriku, dipanggil Mr. atau Sir oleh murid dan guru-guru lainnya. Walau sudah berkeluarga, ibu guru tetap dipanggil Ms.

Devotion berlangsung 15 menit dengan dibantu oleh buku renungan berjudul Training Hearts Teaching Minds karya Starr Meadedan penerbitnya adalah Momentum. Tiap guru bergiliran memimpin devotion dengan membagi perenungan tiap hari. Hari ketiga aku masuk sekolah, aku sudah memimpin devotion dan ketika maju ke depan, aku sangat grogi sehingga devotionku kaku sekali…ha…ha… pengalaman pertama di hadapan para guru yang sudah memiliki jam terbang tinggi ternyata membuatku minder dan salah tingkah. Padahal aku sudah biasa sharing firman di doa pagi di JOY. J

BUKAN BATIK

Kejadian yang juga tidak akan pernah kulupakan dan membuatku menertawakan diri sendiri adalah ketika aku tidak terlalu perhatikan pengumuman tentang pemakaian baju ketika hari Jumat, tanggal 2 Oktober. Semua orang memakai batik, kecuali diriku. Aku pikir hanya full time saja yang memakai…ha..ha.. dua kejadian lucu yang akan dikenang olehku sepanjang masa…he…he..i like it.

Aku juga hari Rabu pergi ke Chapel dan mengikuti Devotion. Tetapi yang aku heran, kok guru lain tidak ada dan anak-anaknya berbeda. Setelah selesai aku baru sadar ternyata ini adalah Devotion untuk SMP…ha…ha..aku pikir Devotion bersama selalu tiap hari. Ternyata SMA hanya tiap hari Kamis, lalu SMP hari Rabu. Tetapi bersyukur karena bisa melihat karakter umum anak-anak SMP.

Aku mengajar kelas 10 dan 12. Nama-nama mereka sangat keren. Contohnya banyak, Tzarvensco, Bryan, Barry, Gretavia, dll. Tetapi nama tidaklah penting bagiku. Bagaimana sikap mereka di kelas adalah yang menjadi concern-ku. Anak-anak Dian Harapan (DH) sangat kritis dan butuh kreativitas agar mereka bisa menikmati pelajaran ekonomi yang jaman dulu, ketika aku masih SMA, memang lebih banyak hafalan dan membosankan jika hanya mendengarkan penjelasan terus-menerus dari gurunya. Aku harus banyak berjuang dalam kreativitas dan juga membangun relasi dengan para murid serta tentu dengan para guru. Aku belum pernah mengajar SMA sehingga minggu pertama adalah minggu yang membuat diriku benar-benar belajar bahwa aku perlu mengembangkan kapasitasku, bertahan dalam penyesuaian yang cukup besar, dan berbagi cerita kepada orang-orang terdekatku dan tetap percaya Allah menyertaiku dan ingin memberiku banyak pelajaran baru lewat pengalaman ini.

Minggu kedua aku jalani lebih baik, karena aku terus terang apa adanya kepada para murid bahwa aku tidak punya pengalaman mengajar, dan aku juga mendapat ide-ide dari Tuhan untuk mengajar, dan campur tangan Tuhan juga lewat guru-guru IPS yang sangat baik hati membagi ide-ide mereka dan masukan-masukan lainnya yang membuatku semakin memiliki modal untuk mengajar. Tantanganku adalah menguasai bahan dengan waktu yang tidak terlalu banyak dan aku juga harus belajar lebih kreatif untuk membuat mereka tetap menguasai materi namun tetap menikmati pelajaran.

IPS TEAM

Memasuki minggu ketika aku semakin bersyukur pada Allah walau hanya memiliki kesempatan mengajar di DH hingga 17 Desember, pengalaman di DH tidak akan pernah aku sesali. Memang agak sedih tidak bisa melanjutkan menjadi guru di DH yang SMA-nya tahun depan akan menjadi UPH College. Aku tidak masuk kualifikasi karena minimal pendidikan guru yang mau melamar di situ adalah S-2. Aku masih S-1.

Aku bersyukur karena sangat ditolong oleh Ms. Santi, guru yang ruangannya di sampingku. Dialah yang pertama memberi banyak keterangan tentang hal umum kondisi kelasku. Lalu aku bersyukur memiliki teman-teman baru yang luar biasa sebagai guru. Mr. Yulius memberikan masukan tentang iman dan juga kreativitas juga. Mrs. Susi memberikan semangat dalam segala tantangan dan kesegaran lewat karakternya. Mrs. Jerni sebagai Team Leader (TL) pertamaku yang setia memberi informasi. Walau belum terlalu dekat, aku belajar dari jauh dari setiap guru IPS dalam timku. Mrs. Ana memberikan masukan penting tentang bagaimana menjadi guru. “yang penting PD”, dia bilang. Mrs Yanti yang tetap semangat menjadi Homeroom dalam segala ketidakpastian masa depan. Komitmen mengajar Mrs Rini dan Mrs Rita. Serta Mrs Riwi bersama Ms. Santi yang membantuku tahap demi tahap untuk belajar mengajar akuntansi karena sesi mengajarku perlu ditambah.  Serius tetapi tetap bisa bercanda pada waktunya sehingga dalam diri mereka semua sangat terlihat PASSION yang besar sebagai GURU dalam segala situasi yang tidak menentu hendak kemana mereka. IMAN mereka terus dijaga.

Aku juga bisa refreshing tiap jumat dengan bermain bola di sekolah. Lumayan, bisa menjaga kesehatan juga dan menyalurkan hobiku dan bisa semakin banyak kenal para murid. Aku juga bersyukur semakin banyak kenal guru dan bisa belajar banyak dari mereka.

MENEMUKAN DIAN DAN HARAPAN

Rasa malas kadang datang. Rasa berat juga kadang terpikirkan. Tetapi aku ditegur dan diingatkan lewat tulisan Larry King di bukunya SENI BERBICARA yang mengatakan seorang pembicara harus memiliki passion terhadap apa yang hendak ia bicarakan, dan aku juga terus berdoa kepada Tuhan agar menjaga hatiku tetap ada passion untuk mengasihi para murid dan membagikan apa yang aku bisa bagikan sesuai kapasitas yang Tuhan berikan padaku. Perjuangan dalam proses sebagai guru belum selesai. Namun aku ingin menikmatinya terus dengan kekuatan dari Tuhan dan orang-orang di sekitarku yang Tuhan berikan kepadaku sebagai perpanjangan tanganNya. Kutemukan Dian dan Harapan hanya bersama Dia dan mereka. Menjadi Arsitek Jiwa lewat mendidik murid SMA.

NB: Kosakata Arsitek jiwa terinspirasi dari Mr. Andreas Yuddy Chris W

Comments