Posts

ARSITEK JIWA

BERUSAHA BERLUTUT Menjelang John Ashcroft disumpah menjadi senator AS, ia berkumpul dengan keluarga dan teman-temannya untuk berdoa. Saat mereka berdiri mengelilinginya, Ashcroft melihat sang ayah mencoba berdiri dari sofa tempat duduknya. Karena kondisi keseatan ayahnya yang kurang baik, Ashcroft berkata kepadanya, “Tidak apa-apa, Ayah. Kau tak perlu berdiri untuk mendoakanku.” Ayahnya menjawab, “Aku tidak sedang berusaha berdiri, aku berusaha berlutut.” Tekad sang ayah mengingatkan saya pada suatu perjuangan yang kadang diperlukan untuk mendukung sesama orang percaya melalui doa. Di dalam surat Kolose, Rasul Paulus berkata bahwa Epafras adalah seorang budak “yang selalu bergumul dalam doanya untuk jemaat Kolose, supaya mereka berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah.” (Kolose 4:12). “Selalu bergumul” adalah terjemahan dari kata Yunani yang berarti pergumulan yang sungguh. Kata tersebut dipakai untuk menggambarkan para pegulat yang dalam pesta olahraga Yunani berjuang keras untuk mengalahkan lawan tandingnya. Epafras mendukung sesama orang percaya melalui doa supaya mereka menjadi dewasa dalam hidup mereka dengan sang Juruselamat. Meminta Allah untuk mengatasi segala rintangan pertumbuhan rohani dalam hidup sesama membutuhkan konsentrasi dan kedisiplinan kita. Apakah kita bersedia selalu “bergumul” di dalam doa untuk meminta Allah supaya memenuhi kebutuhan orang-orang yang kita kasihi? (Santapan Rohani, 28 September 2008) DOA SYAFAAT ADALAH PELAYANAN YANG SEJATI

MENGALIHKAN PERHATIAN (LUK 10:38-42) Dari data yang dikumpulkan dari sekitar 20.000 orang Kristen di 139 negara, The Obstacles to Growth Survey (Survei Hambatan untuk Bertumbuh) menemukan fakta bahwa rata-rata lebih dari 40% orang Kristen di seluruh dunia mengakatakan mereka “Sering” atau “selalu” bergegas dari menyelesaikan satu tugas ke tugas lainnya. Kira-kira 60% dari orang-orang Kristen membenarkan bahwa kesibukan hidup akan “sering” atau “selalu” menghambat pertumbuhan relasi mereka dengan Allah. Sudah jelas bahwa kesibukan mengalihkan perhatian kita dari persekutuan denganNya. Tampaknya Marta terlalu larut dalam kesibukan hingga mengalihkan perhatiannya untuk meluangkan waktu bersama dengan Yesus. Ketika Marta menyambut Yesus dan murid-muridNYa di rumahnya, ia menjadi terlalu sibuk menyiapkan makanan, membasuh kaki mereka, dan memastikan bahwa mereka merasa nyaman. Memang semua hal itu harus dilakukan, tetapi Lukas tampaknya ingin menunjukkan bahwa kesibukan Marta dalam menyiapkan segala sesuatu itu justru menjadi kesibukan yang mengalihkan perhatiaannya untuk merenungkan perkataan Yesus dan memikmati saat-saat bersama-Nya. Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita sedang bergegas dari satu tugas ke tugas lainnya, dan membiarkan segala kesibukan atau bahkan pelayanan bagi Yesus menjadi pengalih perhatian kita dari persekutuan yang indah bersamaNya? Mari kita memohon kepada Allah untuk menolong kita supaya perhatian kita tidak teralihkan dengan menjadikan Yesus sebagai fokus kita. Jangan lupa merenungkan Firman Tuhan dan berdoa syafaat setiap hari. (sumber: Santapan Rohani 6 Oktober 2009)

My first book

Gifted Hands

God is awesome