GADO-GADO HATI

Aku menulis hatiku tanpa terstruktur. Bercampur aduk hatiku layaknya makanan gado-gado. Aku menulis bukan karena aku seseorang yang lebih baik dari yang lain. Aku menulis bukan karena aku tidak sadar akan kelebihan dan kelemahanku. Aku menulis karena aku tahu dalam segala kelemahanpun kasihku tidak boleh pudar dan dalam segala kelemahankupun aku bisa berbagai cerita agar hatiku bisa menjadi pertimbangan bagi orang lain.

 

Kadang kita secara tidak sadar menjauh dari orang karena kita melihat atau mendengar atau mengalami sendiri hal-hal negatif tentang seseorang. Kita mendengar seseorang bersikap tidak baik pada anaknya atau kepada istri/suaminya atau kepada saudara sepersekutuan atau dalam satu gereja. Kita mungkin tidak berminat lagi aktif pada sebuah kegiatan rohani karena kita melihat atau mendengar atau mengalami sendiri banyak hal yang negatif dari orang-orang yang menjadi bagian dari kegiatan rohani tersebut, termasuk persekutuan atau gereja. Kita tidak lagi respek pada mereka karena hal-hal negatif yang mereka lakukan atau katakan.

 

DENDAM

Lebih dalam, karena kita mengalami sendiri hal negatif dari orang tersebut, kita bukan hanya sekedar tidak lagi aktif dari kegiatan rohani, tetapi kita sakit hati terhadap orang tersebut. Tanpa memberitahu orang lain, tersimpan rasa benci atau dendam atau kemarahan yang sangat besar di dalam hati kita dalam waktu yang tidak singkat, bisa berbulan-bulan, bertahun-tahun atau seumur hidup.

 

 

YUDAS DIKASIHI ALLAH HINGGA AKHIR

Ingat apa yang dilakukan Yesus? Yesus mencintai lagi dan lagi dan lagi bahkan ketika kita menolak Dia. Yesus tetap mengasihi Yudas hingga di ujung akhir perjalanannya sebelum ditangkap dengan membasuh kaki Yudas, sama seperti murid lain dan juga dengan mengatakan "sahabat" kepada Yudas ketika dia mengkhianati Yesus. Tentu tanpa aku bermaksud melihat orang lain seperti Yudas dan kita adalah Yesus yang tidak ada kesalahan atau hal negatif yang pernah kita buat. Tetapi aku ingin kita meneladani Yesus yang kasihNya tidak melihat kelebihan atau kelemahan, suka atau tidak suka, baik atau tidak baik, menguntungkan atau tidak, hebat atau tidak hebat, berjiwa pemimpin atau tidak seseorang, tetapi dengan tulus mengasihi orang lain apa adanya karena mereka juga dikasihi Allah sama seperti kita.

 

Mengasihi tidak selalu sependapat. Bahkan mungkin dalam hal prinsippun berbeda tetapi tetap kasih itu tidak dibatasi hal-hal tersebut. Yesus sangat berharap, bahkan di saat terakhirnya, dengan tetap mengasihi Yudas, Dia berharap Yudas berubah dan tidak melakukan kejahatan lagi.

 

Ketika melihat, atau mendengar atau mengalami sendiri hal-hal negatif dari orang lain, adalah salah jika kita menghindar dari orang tersebut, karena berarti Yesus belum mengendalikan hati kita, karena kita tidak mau mengikuti teladanNya yang tetap mengasihi Yudas tanpa batas waktu.

 

 

Alasan tidak mau ikut kegiatan rohani karena hal-hal negatif yang orang lain lakukan atau kita dengar tentu bukan alasan yang tepat dan masuk akal karena itu berarti kita tidak sadar siapa diri kita. Apakah kita tidak punya hal negatif? Jika kita membandingkan orang lain dengan diri kita, hati-hati kita bisa masuk hal yang tidak diinginkan Allah, merendahkan orang lain dan merasa tidak perlu kegiatan rohani sebagai hal yang prioritas dalam hidup kita. Merendahkan orang lain menunjukkan kesombongan terselubung yang ada dalam diri kita. Jika ada persekutuan atau gereja, orang-orang di dalamnya sangat wajar adalah orang-orang berdosa. Karena tidak ada dari kita satupun yang tidak berdosa. Setiap orang mungkin belum sadar dari dosanya sehingga walau dia aktif berkegiatan rohani, memberi kesan negatif bagi kita. Menghindarinya berarti kita merasa kita tidak punya dosa. Mengasihinya berarti kita tidak egois dan sombong tetapi mau berjuang bersama dengan rendah hati dirubah oleh Allah.

 

TIDAK MAU REPOT

Bisa jadi alasan hal-hal negatif dari orang lain adalah alasan agar kita tidak perlu repot-repot ikut persekutuan atau gereja. Kita tidak merasa hal tersebut penting bagi kita. Kegiatan rohani bukan sebuah hal yang perlu dipilih karena orang-orang yang aktif di dalamnya. Kegiatan rohani ini masalah prioritas Tuhan dalam hidup kita. Apakah kita hanya mau berkat dari Allah, kedamaian dan keamanan, kebahagiaan dan semua hal positif dari Allah tetapi tidak mau ketemu dengan Allah, tidak mau menjalin relasi dengan Allah. Jika ya, berarti kita secara tidak sadar menjadikan Allah itu seperti Apotik. Kita membutuhkan apotik untuk mendapatkan obat yang menyembuhkan penyakit kita, tanpa perlu memiliki relasi dekat dengan pemilik apotik tersebut. Sama seperti kita membeli barang-barang kita butuhkan di toko (sebenarnya lebih banyak yang kita inginkan) tetapi kita pasti tidak peduli siapa pemilik toko tersebut. Yang penting kita mendapatkan apa yang kita inginkan, pasti pemiliki toko itu hanya mau uang kita. Allah tidak seperti Apotik atau Toko!!! Dia ingin KITA, dia ingin membangun relasi dengan kita. Itu hal yang utama. Dia berikan banyak hal bagi kita (termasuk memberikan nyawaNya) hanya untuk satu tujuan, agar kita bisa berelasi dengan Dia.

 

BOM WAKTU

Rasa tidak layak juga kadang menjadi hal yang menghambat diri kita untuk bersekutu dengan Dia. Orang sakit yang membutuhkan dokter bukan orang sehat. Persekutuan apapun bentuknya bukanlah kumpulan orang sehat tetapi sangat wajar merupakan kumpulan orang berdosa. Ada yang sadar sehingga bersekutu untuk mau berubah. Ada juga yang belum, tetapi tetap mau ikut. Sangat wajar. Cara menghilangkan rasa tidak layak bukan dengan menghindari dari persekutuan atau menyimpan di dalam diri sendiri, itu sekedar bom waktu. Berbagi dalam persekutuan adalah obat.  Tentu yang perlu dilakukan adalah menyelesaikannya dengan Allah. Dia sangat mengasihi kita. Kita juga perlu sharing dengan orang lain. Tidak ada manusia satupun yang tidak butuh orang lain. Hanya akan ada ledakan seperti bom waktu yang merugikan diri sendiri dan orang lain jika kita tidak membagi apa yang ada dalam pikiran  kita kepada orang lain.

 

Bicara soal berbagi masalah. Berdasarkan pengalaman pribadiku, kesulitan untuk berbagi dengan orang lain karena prinsip atau paradigma atau cara pandang-ku yang salah karena ingin dilihat orang sempurna sehingga tidak mau diketahui kelemahanku atau pergumulanku. Citra diri yang dibentuk karena pendapat manusia bukan karena citra diri dari Allah sempat menjadi prinsip hidupku sehingga aku dikendalikan oleh pendapat orang lain. Itulah yang menyebabkan aku tidak sharing kepada orang lain tentang pergumulanku. Citra diri berdasarkan pendapat manusia juga membuat aku tidak mau cerita karena takut di"omongin" orang di belakang. Sejak kusadar citra diriku di hadapan Allah, aku tidak menjadikan "omongan" orang sebagai perusak citra diriku, tetapi aku mengevaluasinya, apakah benar atau hanya sekedar salah paham. Keberanian memberikan masukan kepada diriku tentang sikap atau perkataanku, bukan hanya sekedar berkata di belakangku menunjukkan bahwa orang tersebut mengasihiku bukan membenciku. Dia mau membuatku pribadi lebih baik sehingga dia memberi nasehat atau masukan. Jika hanya "omong" di belakang, bisa jadi ada rasa iri dan tidak suka atau kesombongan.

 

STANDAR

Sampai kapan kita menunggu diri kita menjadi pribadi lebih baik jika kita sendiri tidak mau datang kepada Allah. Dengan kekuatan kita sendiri tidak mungkin kita bisa mengubah diri sendiri. Yang ada kadang adalah kita membuat standar kebaikan menurut diri kita sendiri atau teman satu kelompok kita atau orang lain sedangkan standar itu tidak sama sekali sama dengan standar yang Allah inginkan. Tetapi kita tidak peduli dengan standar Allah dan sering menilai orang lain dengan standar yang kita buat sendiri. Kita sering merasa tidak layakpun karena kita menilai diri sendiri dengan standar kita atau orang lain, bukan dengan standar Allah. Kita tidak mengetahui standar Allah karena kita tidak bergaul dengan Allah. Bergaul berarti bersekutu. Tahu Allah, percaya Allah bukan berarti kenal dan bergaul dengan Allah.

 

SAKIT HATI = PILIHAN

Sakit hati bagiku, lewat pengalaman pribadi, adalah sebuah pilihan. Setiap perkataan atau perbuatan dari orang lain bisa kita jadikan alasan sakit hati jika kita mau. Itulah makanya setiap orang berbeda. Ada yang sakit hati jika diejek tentang penampilan fisiknya, ada yang sakit hati karena disinggung tentang pekerjaannya, ada yang sakit hati karena tidak terima orang bercanda tentang keluarganya, atau ada yang sakit hati karena merasa dituduh sesuatu yang dia tidak lakukan atau katakan. Banyak, silahkan ingat sendiri hal-hal yang mungkin pernah atau mungkin sekarang menjadi alasan kita sakit hati pada seseorang. Seperti yang aku katakan tadi, bagiku sakit hati itu bisa tidak terjadi karena itu adalah pilihan, sama seperti kita memilih makan. Jika kita tidak mau makan tempe, kita tidak harus memakannya. Kita bisa pilih makan makanan lain yang kita nikmati. Ketika seseorang berkata sesuatu yang negatif tentang kita, kita bisa melihatnya sebagai perkataan yang sambil lalu, atau memaklumi perkataan itu karena kita tahu karakter atau latar belakang atau hidup dari orang yang mengatakannya, atau kita merasa sakit hati, memilih sakit hati

 

Sakit hati hanya akan membuat hidupku sengsara. Tidak ada damai yang sesungguhnya. Biasanya aku cari damai itu dengan cara yang salah. menghindari pribadi yang sakit hati tidak menyembuhkan rasa sakit hati atau memberikan damai. Ibarat sebuah luka, perlu diobati sampai kering bukan dibiarkan begitu saja. Obat sakit hati adalah memaafkan. Sangat sulit jika kita melihat kita pantas untuk sakit hati. Kita tidak pantas disakiti. Kita seharusnya dihormati lebih baik oleh orang tersebut. Kesombongan terselubung hadiri dalam diri kita ketika sakit hati.

 

Perkataan atau perbuatan orang yang tidak menyenangkan hati tidak bisa dilupakan, itu sudah bisa menjadi bagian dari hidup kita. Tidak bisa sakit hati sembuh dengan melupakan pengalaman. Pengalaman itu bisa teringat kapanpun waktunya dalam hidup kita di masa depan. Yang perlu adalah mengampuni alias memaafkan pribadi-pribadi yang terlibat dalam pengalaman pahit dalam diri kita. Tanpa hal tersebut, luka sakit hati tidak pernah kering.

 

SENSITIF

Selanjutnya, dalam menyikapi perkataan dan perbuatan seseorang, pilihlah untuk tidak sakit hati. Hal ini bisa kita lakukan jika kita mau rendah hati menerima orang lain yang mungkin punya karakter yang kurang menyenangkan kita karena dia belum mengenal Allah atau mungkin kita terlalu sensitif karena kita terlalu serius atau kita ingin selalu dihormati. Sakit hati tidak akan dipilih pribadi yang menyadari  dirinya dan orang lain tidak sempurna, memiliki kelemahan masing-masing, bahwa dirinya pun bisa menyakiti hati orang lain. Jadi, ketika kita mulai merasa sakit hati, ingatlah, mungkin orang lain sebenarnya bisa saja sakit hati dengan perkataan atau perbuatan kita pada mereka, tetapi mereka memilih untuk tidak sakit hati, memilih menerima kita, memilih mengasihi kita, dan mendoakan kita bahkan ada saatnya membantu kita untuk berubah dari karakter kita yang sebenarnya cenderung bisa menyakiti hati orang lain.

 

Jadi, jangan terus melihat orang lain. Lihatlah diri kita.

Comments