GALAH RANGSANG

Kis 26:14 Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang.Ketika aku merenungkan lebih dalam ayat ini dan peristiwa pertobatan Paulus, ditambah dengan bantuan John Stott dengan bukunya Why I am a Christian? (versi Bahasa Indonesia) dan sebelumnya Charles Swindoll (Paulus) maka aku mendapatkan pencerahan bahwa pertobatan Paulus bukanlah tiba-tiba tetapi PUNCAK dari sebuah PROSES pertobatan yang Allah sendiri rancang.

GALAH RANGSANG

Pengertian Galah rangsang yang kudapatkan dari John Stott dan Charles Swindoll adalah semacam cambuk untuk binatang gembalaan di Israel. Semacam alat untuk mengarahkan binatang gembalaan untuk berada pada jalur yang diharapkan gembala. Tetapi nanti aku kutip aja dari buku John Stott

Paulus sudah mengalami cambukan galah rangsang. Mulai dari kesempatan dia belajar dari Guru Yahudi yang terkenal, Gamaliel. Lalu dia juga berada dalam pengadilan Stefanus dan mendengar bagaimana Stefanus berkata dengan bahasa yang aku ciptakan sendiri “saya melihat surga menyambut saya”. Dan juga dia melihat bagaimana Stefanus tetap bersikukuh pada keyakinannya walau harus dilempar batu dan dia mendengar Stefanus masih bisa berkata “Tuhan, ampunilah mereka –yang melempar batu-, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan”.

Sampai pada akhirnya Tuhan Yesus menyapa dia dengan keras lewat perjalanannya menuju Damsyik.

KETIKA...

Galah rangsangkuaku sadari sudah sejak dari kecil aku alami. Memang belum semua aku ingat. Tetapi ketika mengingat kembali semua yang aku ingat, aku bersyukur karena cambukan galah rangsang dari Tuhan membuatku semakin mengarahkan diriku kepada Tuhan.

Jika menggunakan istilah gereja dan teologia, cambukan galah rangsang membuat “aku semakin serupa denganNya”.

Bagiku galah rangsang dari Tuhan membuat aku merubah kebiasaan atau sikapku yang salah di mata Tuhan atau cara pandang terharap sesuatu.

Ketika aku merendahkan orang lain, aku akhirnya berada di posisi yang mengalami hal yang sama seperti orang yang aku rendahkan sehingga aku bisa melihat orang tersebut dengan kasih Tuhan dan juga aku tidak bisa menyombongkan diri lagi karena aku sama seperti dia

Ketika aku menyombongkan diri karena merasa diri pintar aku dihadapkan pada pengalaman bahwa kepintaranku bukan sesuatu yang menjadi sandaran utama (walau memang tetap perlu karena kepintaranku berasal dari Tuhan yang memberikan kepadaku agar Dia yang dimuliakan) melainkan pada Allah saja.

Ketika aku mulai melupakan Allah karena kenyamananku, aku dihadapkan pada berbagai masalah agar aku bergantung dan kembali fokus pada Allah

Ketika aku mulai dipuji karena keberhasilanku, aku dihadapkan pada situasi yang membuat aku menyerahkan semua kemuliaan hanya bagi Allah

Ketika aku membenci orang yang menyakitiku, aku dihadapkan pada kenyataan kasih itu tidak selalu membuat setiap orang punya pendapat bahkan prinsip hidup yang sama. Aku tetap harus mengasihi walau punya perbedaan karena Allah mengasihiku walau banyak tidak sependapat dengan keinginan pribadiku.

Ketika aku merasa cukup untuk belajar tentang Allah, aku dihadapkan pada situasi di mana aku menjadi sadar belajar itu akan selalu berlangsung selama hidup. Ketika aku berhenti belajar tentang Allah, maka aku mudah terombang-ambingkan dengan segala godaan dunia yang terus “belajar mengembangkan banyak cara terbaru” yang membuatku jauh dari Allah.

Ketika aku merasa diriku baik-baik saja, aku dibukakan lewat konseling dan interaksi dengan orang lain bahwa banyak masa lalu diriku yang aku lupakan dan sebenarnya itu penting untuk memulihkan diriku. Masa laluku memberi pengaruh besar pada diriku sekarang. Pengaruh masa lalu dalam keluarga, dalam pergaulan membentuk diriku sekarang. Jika aku tidak ingat, tidak sadar, tidak menerimanya, tidak memaafkannya, tidak mungkin aku memiliki respon yang sesuai dengan kehendak Allah saat ini.

Ada rasa tidak suka menceritakan diriku dan permasalahannya kepada orang lain karena aku takut di”Gosipkan” oleh orang tempat aku curhat. Sampai pada akhirnya aku sadar itu dan menerima kenyataan itu dan mau belajar bahwa dengan curhat lah aku bisa ditolong karena aku tidak bisa menolong diriku sendiri.

Ketika aku tidak percaya diri, aku tidak lagi menilai diriku dengan membandingkan diriku dengan orang lain atau dengan menilai diriku sesuai dengan nilai yang diberikan oleh orang lain. aku menilai diriku berharga sesuai nilai yang Allah berikan kepadaku.

Ketika aku melihat kekuranganku, aku tidak menyalahkan orang lain lagi apalagi keluargaku, aku bisa melihat lebih realistis bahwa setiap orang memiliki kekurangan. Ada kekurangan yang harus diterima selamanya tidak bisa dirubah, namun ada juga kekurangan yang aku sadari bisa aku rubah tahap demi tahap.

Sampai sekarang aku terus mengalami banyak galah rangsang karena aku yakin bahwa Allah melakukan membentuk menjadi serupa dengannya hingga hidupku berakhir di dunia ini. Allah ingin aku terus menjadi berkat dengan cara semakin mengenal diriku sendiri dan menerima diriku dalam segala kelebihan dan kekuranganku serta hanya mengandalkan Allah saja, sama seperti Paulus bersyukur sebab dalam kelemahanlah, kuasa Allah yang dahsyat dirasakan oleh diriku dan orang lain dan memberi pengaruh besar bagi diriku dan orang lain.

Setiap orang, aku percaya, sadar atau tidak sadar sebenarnya menerima cambukan galah rangsang. Entah kapan puncaknya. Atau mungkin sampai cambukan tersebut selamanya tidak membuat seseorang menyerah dan sadar akan pencarian jati diri, pencarian damai sejahtera, pencarian dari banyak hal yang telah membuat luka dalam dirinya hanya bisa didapat ketika mengarahkan hati dengan rendah hati dan menyerah kepada Tuhan.

Tentu ini hanya sebuah catatan subyektif dari perenungan pribadiku. Setiap orang belum setuju. Tetapi biarlah ini menjadi salah satu referensi untuk hidup orang lain. Kasih Allah menyertai kita sampai Maranatha.


Comments