MENGAPA MERAYAKAN MASALAH

Merayakan masalah tidaklah mudah. Merayakan artinya, kita bersyukur karena diizinkan mengalami masalah. Kebanyakan kita baru bisa bersyukur tatkala masalah sudah selesai diatasi. Kala kesulitan datang, biasanya kita protes, mencari kambing hitam siapa yang salah dan bisa kita salahkan. Kita akan bertanya, “mengapa hal ini menimpa saya?”; “kenapa harus saya?”, atau “mengapa nasib saya begini sial?” pertanyaan seperti itu tidak ada ujungnya. Buahnya adalah sungut-sungut dan kekecewaan.
Agar kita dapat merayakan masalah, maka pertanyaan kita seharusnya, “apa maksud Tuhan mengizinkan hal yang buruk menimpa saya?” jika kita bergumul dan melibatkan Allah dalam masalah kita, maka Dia akan menyingkapkan pelangi kehendakNya di balik awan kehidupan kita. Ada beberapa alasan kenapa kita masih mampu bersyukur dan berdiri tegak di tengah badai kehidupan kita:

Pertama, sebab Tuhan turut bekerja dalam segala keadaan untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia. Seorang klien kami, yang suaminya ketahuan berselingkuh, bertanya saat konseling di kantor LK3, “apanya yang baik pak, dari perselingkuhan suami saya dengan wanita bejat itu?”

Setelah dua jam konseling, akhirnya klien saya dengan lirih mengatakan, “yaah…Pak, mungkin saya perlu instropeksi diri. Selama ini saya kurang melayani suami saya dengan baik. Saya begitu sibuk dengan karier saya. Suami saya tidak salah dan jatuh begitu saja, pasti ada sumbangsih saya. “ kesadaran jernih dari ibu ini menunjukkan ada hikmah di balik perselingkuhan suaminya. Sedikitnya ia mulai menyadari kekurangannya. Ia pun sejak itu memperbaiki dirinya menjadi istri yang lebih baik dan melayani suaminya.

Belum lama ini juga, seorang wanita sukses, direktur sebuah perusahaan yang sangat maju, datang ke kantor LK3 karena menderita depresi dan insomnia. Usianya baru 40-an. Suaminya baru saja berterus terang bahwa ia punya wanita idaman lain (WIL). Yang paling menekan perasaannya adalah, sang suami tidak segan-segan membawa WIL-nya ke rumah.
Setelah menjalani dua kali konseling, ibu ini mengirimkan pesan singkat: pak, sekarang saya sudah lebih mengerti dan mulai bisa menerima apa yang Bapak katakan. Saya harus menerima dan lebih mengasihi suami saya, seperti Tuhan mengasihi dia. Meskipun sikapnya terhadap saya semakin dingin, saya yakin Tuhan selalu menyertaiku. Terima kasih atas bimbingan Bapak.

Ibu ini tidak hanya keluar dari depresinya, tapi dia mulai belajar merayakan masalahnya. Dia sudah belajar bersyukur untuk keadaan suaminya yang belum berubah seperti keinginannya. Dia sudah lebih mampu mengasihi suami lebih dari sebelumnya.

Kedua, sebab lewat masalah atau kesulitan kita lebih bersandar kepada Tuhan. Manusia berdosa cenderung bersandar pada kekuatan diri sendiri. Di tengah puncak pelayanannya, Paulus menderita sebuah penyakit yang ia sebut dengan “duri dalam daging”. Ada yang menafsirkan, Paulus menderita pada matanya. Namun, setelah bergumul dan berdoa, Paulus mendapat jawaban Tuhan, “cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna”.

Jawaban Tuhan atas pergumulannya ini membuat Paulus bersukacita atas penderitaan itu. Ia berkata, “terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela dalam kelemahan, dalam siksaan, dalam kesukaran, dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.”

Dalam kelemahan dan keterbatasan kita, justru kita dapat melihat kuasa Tuhan nyata bekerja dengan limpah. (dikutip dari buku Seni Merayakan Hidup karya Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha)



Comments