HANYA 10% YANG KEMBALI BERTERIMA KASIH

“Rabbi, kasihanilah kami! Sembuhkanlah kami!” seru sepuluh orang kusta kepada Yesus. Hati Tuhan jatuh kasihan. “Pergi, perlihatkanlah dirimu kepada imam,” kata-Nya kepada mereka.
Di tengah jalan, penyakit kusta mereka lenyap. Mereka senang sekali karena kustanya sembuh. Mereka pergi kepada imam dan tidak kembali lagi. Semua? O, tidak. Ternyata dari sepuluh orang itu ada satu yang kembali kepada Yesus, menyembah Dia, dan berterima kasih atas kesembuhan yang ia terima dari Yesus.

Begitulah manusia. Saat masalah menimpa, semua mencari Tuhan. Saat masalah sirna, nyaris tak ada yang kembali kepada Tuhan. 

Suka atau tidak, acap kali masalah, penyakit, kesepian, dan kesulitan hidup justru membuat kita dekat kepada Tuhan. Namun, saat masalah selesai, ujian hidup reda, kita cenderung lupa lalu menjauh dari Tuhan.

Sekali waktu Tuhan Yesus mengajak para pendengar-Nya yang sedang berbeban berat datang kepada-Nya. “marilah kepada-Ku, hai kamu yang berbeban berat,” kata Tuhan, “pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”

Ayat ini mengungkapkan satu kebenaran kepada kita. Suka atau tidak, beban masalah itu adalah semacam kuk dalam diri kita. Beban yang Tuhan pasang adalah kuk yang akan membantu kita mempunyai keseimbangan hidup lebih baik. Kuk (sejenis kayu yang mengikat dua sapi yang sedang membajak sawah) itu mengikat kita agar tetap dekat dengan Tuhan. Orang memasang kuk pada dua ekor sapi agar kedua sapi itu dapat membajak sawah dengan lebih baik, rata, dan gembur. Demikianlah maksud Tuhan memberikan kuk masalah, yakni agar kita masing-masing lebih baik dalam membajak sawah kehidupan kita. Betapun besar dan beratnya kuk itu, akan menjadi ringan asal kita berjalan beriring dengan Yesus. Ayat tadi juga menegaskan bahwa beban hidup yang Dia titipkan itu ringan karena kita membawanya bersama Kristus. (dikutip dari buku Seni Merayakan Hidup karya Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha)


Comments