SETIA…

Tidak terasa JOY sudah 15 tahun umurnya di bulan September nanti. Sudah 7 tahun aku berada di dalam persekutuan ini. Waktu yang sangat panjang untuk melihat banyak hal terjadi di dalam JOY. Tidak terasa sudah 10 bulan juga aku melayani sebagai full time staf di JOY. Dua minggu yang lalu aku Quiet time dari Kisah Para Rasul 4: 23-31 tentang doa jemaat. Petrus dan Yohanes baru saja dikeluarkan dari penjara. Saat itu adalah penderitaan pertama yang dialami jemaat mula-mula. Sebelumnya ketika hari Pentakosta, dengan kuasa Roh Kudus Petrus berkhotbah dan banyak orang yang bertobat (kurang lebih 3.000 orang), lalu jumlah mereka bertambah karena fellowship kuat di antara mereka. Nah, muncullah kejadian di mana Petrus ditangkap karena menyembuhkan orang lumpuh pada hari Sabat (Kis 3:1-10). Penderitaan mulai dirasakan jemaat mula-mula, bukan hanya sukacita atau masa-masa bahagia

Setelah 7 tahun di JOY serta 10 bulan sebagai staf aku pun sadar saat ini banyak sekali tantangan yang aku hadapi. Saat ini banyak hal di manajemen, CO TIMOHO dan JOY secara keseluruhan yang tidak berjalan sesuai harapanku. Cukup sedih dan kecewa karena hal-hal tersebut.

Ketika aku merenungkan tentang doa jemaat mula-mula,aku disadarkan bahwa tidak mungkin kehidupan berjalan selalu sesuai harapanku. Jemaat mula-mulapun mengalami penderitaan yang mereka tidak harapkan. Namun, aku belajar dari respon mereka terhadap penderitaan itu dalam doa mereka.

Yang pertama mereka tidak merasa kuat dan tidak menghindar bahwa tidak terjadi apa-apa, namun mereka mengakui keadaan mereka. Mereka berkata “dan sekarang ,ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami….”(ayat 29). Mereka MENGAKUI KEADAAN mereka di hadapan Tuhan. Selain mengakui, mereka juga memohon agar mereka tetap SETIA PADA PANGGILAN mereka, yaitu memberitakan firman (ayat 29 bagian akhir). Yang terakhir, mereka sadar bahwa mereka tidak bisa bergantung pada diri sendiri namun bergantung pada ALLAH (IMAN) dengan mengatakan “ulurkanlah tangan-Mu…” (ayat 30).

Aku mengakui hatiku yang sedih dan kecewa kepada Tuhan, namun aku tidak mau melarikan diri atau punya pemikiran secepatnya waktu berlalu supaya aku cepat selesai di JOY, tetapi aku rindu selalu SETIA pada PANGGILANku di JOY, dan terus berharap dan bergantung pada ALLAH saja.

SUN…
Aku kehilangan salah satu partner pelayananku, yaitu Hye Sun, short-time worker dari Korea. Tanggal 7 Agustus ini dia kembali ke Korea. Aku sangat diberkati oleh pelayanannya. Banyak ide-ide yang membangun dia bagikan bagi TIMOHO. Dia mengalami banyak pergumulan sebagai orang asing, namun dia menjadi dirinya apa adanya, tidak “jaim”. Ketika kecewa atau sedih dia juga ungkapkan. Dia juga orang yang “to the point” sehingga ketika ada hal yang tidak berkenan menurutnya dia langsung ungkapkan. Hal ini mempermudah komunikasi di antara kami. Aku hanya berharap dia bisa menjadi berkat di Korea dengan segudang pengalaman yang ia dapatkan di Indonesia. Terima kasih Hye Sun…

DETY…
Hal lain yang saat ini memberi semangat adalah perubahan hidup teman-teman di JOY.
Bermula dari seorang mahasiswi APMD yang bernama DETY datang ke JNP. Dia dulu pernah datang, namun saat itu ia merasa tidak nyaman dengan gaya JOY. Dia lama tidak muncul, hampir 3 tahun!!! Lalu seiring waktu dia membangun persepsi negatif terhadap JOY karena ada banyak hal yang terjadi di JOY TIMOHO seperti “kesannya JOY melarang pacaran”, lalu JOY banyak kegiatan sehingga waktu dengan orang terdekat jarang. Ada juga persepsi bahwa JOY itu menceritakan keburukan orang ke orang lain.

Semua persepsi itu ternyata sudah sangat mengganggu dirinya sehingga dia datang ke JOY untuk meminta konfirmasi tentang apa itu JOY sesungguhnya. Karena aku adalah pendamping TIMOHO, maka dia akhirnya, ketika selesai JNP bertemu denganku. Semua uneg-unegnya dia ungkapkan. Aku pun memberi penjelasan yang diharapkannya. Pada akhirnya aku menantang dia untuk mencoba satu bulan datang ke CO TIMOHO. Jika setelah satu bulan dia tidak merasa cocok atau apa yang saya jelaskan berbeda, maka dia bisa keluar.

Dia mau mencoba. Setelah pertemuan pertama, aku bertemu one to one dengan dia. Akupun memberi penjelasan lagi tentang beberapa hal yang terjadi di CO yang belum kami bahas di pertemuan pertama kami.

Setelah satu bulan, di CO kami sharing tentang pengalaman masing-masing bergabung di JOY. Dia sharing bahwa dia mengalami banyak perubahan pandangan tentang JOY. Dia melihat dukungan dari orang lain bagi dirinya, dan dia merasa diterima dengan segala karakternya, terutama dia sering merasa masih egois. Dia hanya berdoa bahwa dia mau ikut kehendak Tuhan, termasuk petualangannya di JOY. Akhir bulan lalu dia bergabung di Choir Ministry. Lebih dari yang kubayangkan dia mau ikut ministry. Padahal dia sebelumnya hanya mau mencoba satu bulan. Dety beragama Katolik. Selama ini CO Timoho tidak ada anggotanya dari mahasiswa katolik APMD karena persepsi negatif mereka termasuk Dety. Nah, dia sangat cukup berpengaruh di kalangan mahasiswa katolik. Dengan bergabungnya dia JOY, ada harapan teman-teman Katolik APMD juga bisa mengenal ALLAH lewat CO.

Saya belajar satu hal dari Dety. Dia betul-betul sadar untuk setiap keputusannya termasuk ketika dia memilih melanjutkan petualangannya di JOY, dia tidak ambil keputusan karena emosi sesaat, sukacita sesaat, atau karena paksaan dari orang di sekitarnya, namun dia sungguh yakin dan bertanggung jawab untuk keputusannya.

Allah selalu memberikan mujizat yang membuat aku tercengang dan diberi semangat baru dalam melayaniNya

Adikku Richard saat ini sedang bergumul dengan skripsi. Dia diharapkan oleh orangtuaku untuk bisa wisuda bulan November. Saat ini masih terus konsultasi tentang “permasalahan” apa yang bisa diangkat sebagai penelitiannya. Tolong doakan agar dia tidak tertekan dengan harapan orang tua dan tetap semangat serta komitmen berjuang.

Comments