KEHILANGAN

Ketika aku menulis surat ini sudah berada di pertengahan bulan Januari. Sudah terlambat menyampaikan selamat tahun baru. Namun belum terlambat menyapa setiap pribadi yang sangat aku kasihi dan sangat mendukungku.

Salah satu ucapan syukur saat ini adalah adanya orang-orang yang mungkin hanya bisa berkomunikasi lewat surat maupun sms namun dengan yakin aku tahu mereka sangat mengasihiku dan terus mendukungmu. Salah satu kekuatanku dalam melayani adalah setiap pribadi yang membaca suratku ini dan mendoakanku.

Ketika berlibur natal di rumahku, aku mendengar kabar tentang salah satu tetanggaku di tempat kelahiranku dan kampung halamanku hingga 2003 meninggal. Sedih rasanya. Aku biasa memanggil dia tante. Memang di komplek rumahku semua tetanggaku perempuan yang sudah berkeluarga aku panggil tante karena semua keluarga di satu komplek sangat akrab satu sama lain.

Aku juga teringat, di JOY Timoho aku kehilangan satu orang lagi saudara. Dia memang tidak meninggal secara fisik, namun dia menghilang dari JOY tanpa sebab. Sampai sekarang aku belum tahu kenapa dia tiba-tiba hilang. Padahal dia adalah pribadi yang kuceritakan di surat doaku sebelumnya bahwa dia muncul semangat untuk ikut ministri, namun ternyata dia menghilang sejak pertengahan Desember.

Kehilangan seseorang ternyata sangat menyakitkan...muncul dalam pikiranku, siapa yang salah?
Terlepas siapa yang salah, ketika seseorang yang telah menjadi bagian hidup kita ”hilang”, rasanya hati ini sangat menggantung. Ada harapan untuk kembali bersekutu, namun tidak tahu apakah harapan ini harapan yang kosong, yang tidak sadar akan realita bahwa dia tidak akan kembali? Atau memang harapan harus tetap dijaga, tanpa batas waktu yang kita tentukan?

Ternyata berharap melelahkan ketika tanda-tanda kembalinya seseorang yang kita kasihi yang sudah lama ”hilang”. Haruskah harapan itu dikubur? Apakah ketika mengubur harapan itu adalah langkah yang Allah kehendaki? Rasanya belum cukup puas mengasihi orang yang hilang itu, rasanya jika dia kembali ingin berjuang sekuat tenaga agar dia tidak hilang lagi.

Kehilangan saudara-saudara di Timoho yang sudah menjadi bagian dalam hidupku cukup mengganggu pikiranku di awal tahun ini. Namun, dari pengalaman ini aku belajar setiap orang tersebut tidak pernah hilang di hatiku. Mungkin mereka tidak pernah bersekutu denganku lagi (bukan berarti sekarang aku tidak berhenti berharap pada Allah bisa bersekutu dengan mereka lagi), tetapi kasih Allah yang ingin aku bagikan bagi mereka mungkin Allah kehendaki dibagikan melalui orang lain. Dengan terus menjaga harapan, aku juga belajar untuk membuka hati mengasihi orang-orang yang saat ini masih menjadi saudaraku di Timoho, dan tidak berhenti membagikan kasih dengan kesadaran bahwa aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bersekutu dengan mereka

Sepertinya tidak tepat ya awal tahun sudah diisi dengan cerita kehilangan. Sepertinya bagian diriku yang melankolis terlalu dimanjakan. Satu halaman hanya membahas tentang kehilangan. Tetapi kehilangan adalah bagian dari ucapan syukurku di awal tahun ini. Karena kehilangan membuatku belajar banyak hal yang aku yakin diijinkan Allah agar aku semakin bertumbuh di dalamNya.


100 juta dari mana?
Saudaraku, tolong doakan agar apa yang menjadi perencanaan di Departemen Manajemen bisa aku dan Endang bersama Allah bisa dilaksanakan. Kami rindu ada mahasiswa penolong yang komitmen dan juga ada staf dan asisten staf baru di departemen ini untuk berjuang bersama kami.

Tahun ini, JOY harus membayar biaya sewa kantor Museum (mungkin sekitar Rp 25 juta) dan juga sewa kantor Sagan (sekitar Rp 100 juta). Aku yakin Allah bekerja melalui setiap anggota keluarga JOY di manapun mereka berada dan setiap orang yang mengasihi JOY untuk mencukupkan kebutuhan ini. Tolong berdoa bersama aku tentang kebutuhan ini.

Tidak tergesa-gesa
Terus aku tidak berhenti bertanya pada Allah, bagaimana bentuk atau strategi baru yang lebih efektif untuk menjangkau jiwa di Timoho, transfer nilai, dan juga terus menjadikan anggota JOY Timoho menjadi teladan. Di surat doaku sebelumnya, aku sudah sharing tentang homebase. Ada beberapa tempat yang sudah aku catat nomor teleponnya, namun belum aku tanya berapa harga sewanya. Aku masih terus menunggu apakah ini adalah kehendak Allah. Bagaimana caranya mengetahui ini kehendak Allah? Aku yakin ada tanda dari Allah. Aku tetap membuka hati pada strategi Allah yang terbaik menurutNya. Aku tetap memegang keyakinan bahwa Allah sangat mengasihi mahasiswa di daerah Timoho. Aku belajar untuk tidak mengambil keputusan tergesa-gesa, namun lebih banyak waktu untuk berdiam diri, dan memohon hikmat dari Allah. Tolong berdoa bersama diriku tentang masa depan penjangkauan dan pertumbuhan JOY Timoho.

PUJI TUHAN
Satu hal aku bersyukur karena dari dukungan alumni sekitar 13 orang anggota Timoho bisa ikut General Retreat. Biaya GenRe mereka ditanggung semua oleh alumni. Jujur saat ini mereka sedang mengalami kesulitan keuangan. Makan saja sulit, apalagi memikirkan tentang biaya GenRe. Karena itu, dukungan alumni sangat berarti. Tidak pernah sebelumnya anggota Timoho yang ikut GenRe sebanyak itu.

Ketika aku sharing tentang kerinduanku ada banyak anggota Timoho yang ikut GenRe kepada alumni, jujur aku belum tahu apakah mereka (anggota Timoho) yang kurindukan ikut benar-benar mau ikut. Tapi aku bisa dibilang mengembangkan kapasitas imanku. Aku percaya mereka mau ikut. Ketika aku menulis surat ini, masih ada 4 orang yang belum pasti ikut. 9 orang sudah memastikan ikut. Aku tetap berharap semua bisa ikut. Aku sadar ketika pulang dari GenRe tidak menjamin mereka semakin komitmen di JOY, namun aku tidak berhenti berharap. Aku tidak berharap pada kekuatan acara GenRe, namun Allah yang aku yakin mengasihi mereka.

Walau terlambat, aku tetap mengucapkan Selamat Tahun baru saudaraku, janganlah berhenti berpetualang iman bersamaku. We are a family.

Salam paling hangat,
Saudaramu terkasih, Godlif.

Comments