Skip to main content

Posts

Wah, Repot Juga Ya

 Sejak aku bergabung dengan beberapa komunitas bola yang ada di Malang, aku sering ikut bermain sepakbola di lapangan-lapangan yang lokasinya banyak yang aku belum pernah datangi. Bersyukur teknologi sudah canggih sehingga aku bisa mengetahui lokasi lapangan dengan bantuan google maps di handphone. Hanya kendalanya adalah, jika aku pergi naik motor, selama ini tangan kiriku harus aku gunakan untuk memegang handphone bersamaan dengan memegang stang kiri. Tentu ini cukup merepotkan apalagi ketika hendak memberi tanda lampu sen, ke kiri atau ke kanan. Risiko jatuh juga sangat besar. Oleh karena itu, aku ketika ada rejeki, aku memutuskan untuk membeli perangkat tempat menaruh handphone yang dipasang di dekat kaca spion. Melalui perangkat tersebut, aku tidak perlu memegang handphone ketika sedang naik motor. Perangkat tersebut aku beli lewat online shop. Ketika sampai, aku meminta tukang tambal langganan dekat rumahku untuk membantu memasangnya. Ternyata, cara memasang perangkat ini t

Tempat Duduk di Tempat Ngopi

  31 Januari 2021 Bulan yang pertama di tahun baru hampir berakhir. Satu hari sebelumnya orangtuaku terbang dari Tangerang ke Kupang. Secara resmi mereka berpindah tempat tinggal setelah sejak 2005 tinggal di Tangerang. 16 tahun tinggal di Tangerang. Ada ratap sedih yang mencapai puncaknya di minggu terakhir mereka tinggal di Tangerang karena ada banyak orang yang sangat mengasihi mereka. Belum lagi banyak tempat dan kebiasaan-kebiasaan di Tangerang dan Jakarta yang harus ditinggalkan Maret 2020 Bulan yang dikenal sebagai awal virus corona masuk di Indonesia. Belum satu tahun aku masuk kuliah di Malang dan tinggal di asrama kampus. Aku harus ke Sumba karena kampus menginstruksikan semua mahasiswa yang tinggal di asrama kembali ke tempat asal masing-masing. Pertimbangannya adalah karena daerah di sekitar kampus sudah ada yang terkenal virus tersebut. Akhirnya hingga akhir Juli 2020 aku tinggal di Sumba, tepatnya di Waikabubak, ibukota kabupat en Sumba Barat. Ada banyak momen

Menemukan Surgamu

 “Akhirnya aku menemukan surgaku dengan terjun di dunia finansial.” Kalimat yang membuatku tiba-tiba menjadi lebih fokus mendengarkan cerita seorang teman tentang aktivitasnya sehari-hari.  Teman ini mengakui bahwa dia mememukan surganya lewat apa yang dilakukan sekarang di dunia finansial. Tanpa memaksa, dia juga mengundang aku untuk masuk ke dunia itu suatu waktu. “Tidakkk…” kata itu yang keluar dengan nada teriak penuh penyesalan dari mulut anak salah satu dosenku, ketika ayahnya tersebut menghukum dia dengan tidak boleh menikmati dessert karena dia telah melakukan kesalah. Bagi anak tersebut, dessert adalah segala-galanya. Dosenku bilang, desser adalah surga bagi dia. Terutama karena dia bisa menikmati es krim. “Goooollll!!!” Wah…membaca atau mendengar kata itu sudah membuat rata-rata kita tahu, sepakbola memang menjadi surga bagi banyak orang. Banyak orang lho..tidak semua..hehehe… Baru saja dahaga menonton sepakbola lokal terobati dengan dilangsungkannya pertandingan ujicoba

#harussiap

  31 Januari 2021 Bulan yang pertama di tahun baru hampir berakhir. Satu hari sebelumnya orangtuaku terbang dari Tangerang ke Kupang. Secara resmi mereka berpindah tempat tinggal setelah sejak 2005 tinggal di Tangerang. 16 tahun tinggal di Tangerang. Ada ratap sedih yang mencapai puncaknya di minggu terakhir mereka tinggal di Tangerang karena ada banyak orang yang sangat mengasihi mereka. Belum lagi banyak tempat dan kebiasaan-kebiasaan di Tangerang dan Jakarta yang harus ditinggalkan Maret 2020 Bulan yang dikenal sebagai awal virus corona masuk di Indonesia. Belum satu tahun aku masuk kuliah di Malang dan tinggal di asrama kampus. Aku harus ke Sumba karena kampus menginstruksikan semua mahasiswa yang tinggal di asrama kembali ke tempat asal masing-masing. Pertimbangannya adalah karena daerah di sekitar kampus sudah ada yang terkenal virus tersebut. Akhirnya hingga akhir Juli 2020 aku tinggal di Sumba, tepatnya di Waikabubak, ibukota kabupat en Sumba Barat. Ada banyak momen

Aku bayar Rp 5.500 demi umur 70 tahun

Jika kita ingin mendapatkan sesuatu, selalu sadar atau tidak sadar, kita harus melepaskan sesuatu. Ini kalimat kunci dari refleksiku kali ini. Aku ingin berbagai beberapa contoh mengenai kalimat itu. Ketika awal bekerja di Jakarta, aku selalu naik motor tiap hari ke Jakarta dari Tangerang. Kalo pagi hari bisa 1,5 jam kurang perjalanannya. Kalau pulang bisa 2 jam. Di tengah jalan banyak cerita. Ada macet dan nyaris atau sudah tabrakan. Belum lagi kalau hujan lebat harus siap basah kuyup walau sudah ada jas hujan. Badan sangat lelah jika pulang karena harus konsentrasi bukan hanya di pekerjaan tetapi selama di perjalanan. Ribuan motor berlomba pulang setiap malam… Lalu aku mencoba pergi ke kantor naik bis dari Karawaci. Aku titipkan motor di Karawaci, lalu naik bus patas ke kantor. Turunnya tepat di depan kantor. Ada kesempatan tidur dan juga badan tidak terlalu capek karena tidak perlu konsentrasi menyupir. Belum lagi kesehatan juga lebih terjaga. Kalau naik motor dada ini sangat r

Perlakukan Face Shield Seperti Sepatu Brodo

Penggunaan face shield menjadi salah satu rekomendasi untuk mencegah terjangkit virus corona selain masker. Secara otomatis, penggunaan face shield menjadi tren belakangan ini. Peminatnya semakin banyak di Indonesia. Model  face shield  yang menarik perhatian itu pun beragam, ada yang dipakaikan di telinga layaknya memakai kacamata, ada pula yg digunakan di kepala seperti ditulis oleh E vi Larassaty dalam laman GridHEALTH.id . Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan face shield yang sedang tren: 1.     Face shield atau masker? Apakah face shield harus menggunakan masker atau tidak? Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona atau COVID-19, Achmad Yurianto , seperti dikutip oleh Aldzah Fatimah Aditya dalam laman Idntimes.com mengatakan " k ami mengibaratkan penggunaan  face shield  tanpa masker, ibarat orang yang menggunakan payung, yang bisa melindungi dari tetesan air dari atas tetapi tidak dari samping," ujarnya dalam keterangan pe