Skip to main content

Posts

Aku Beda. Aku Patah Tulang

Tidak semua pertanyaan kamu dijawab oleh aku. Tidak semua pertanyaan aku dijawab oleh kamu. Tidak semua pertanyaan aku dan kamu dijawab oleh Allah. Aku akhirnya belajar bahwa tidak semua pertanyaan randomku perlu diungkapkan. Aku belajar menerima diriku yang harus mengalami hal-hal yang berbeda yang jarang dialami oleh kebanyakan orang "normal". Beda itu sudah ada dari latar belakang orangtuaku hingga lika – liku hidupku sampai saat ini termasuk pengalaman 3 hari di ICU tidak sadarkan diri, engkel kaki kanan lepas dan sekarang patah tulang di bahu tanpa punya uang untuk operasi pasang pen. Tidak semua orang mengalami hal yang sama.  Aku tidak lagi marah dan kesal sambil bertanya pada Allah mengapa hal ini terjadi padaku. Aku belajar menerima hidupku yang banyak perbedaan dengan orang pada umumnya. Aku juga tidak bertanya apa maksud Allah lewat kejadian patah tulang saat ini atau segala kejadian, kebiasaan atau karakter yang "beda" yang aku alami sebagai diriku s

Amanah Pak Ogah

Pada suatu Sabtu di bulan Juni, kantorku yang seharusnya masuk dari jam 08.00-12.00, diliburkan karena pada tanggal merah dua minggu sebelumnya, kami sekantor masuk. Saat aku sedang bersantai menonton film di kamarku, tiba-tiba aku melihat ada notifikasi pesan Whatsapp (WA) di handphoneku. Ternyata, atasanku meminta tolong untuk mencetak dan mengirimkan dokumen pada saat itu juga. Aku nyalakan mesin motorku, kupakai helmku, lalu beberapa detik kemudian langsung budal (pergi) ke jalan dekat perumahan tempat tinggalku yang ramai dan banyak toko-toko dan usaha-usaha lainnya. Atasanku sudah info jika di jalan tersebut pasti ada tempat untuk mencetak dokumen tersebut. Tidak lama setelah tolah-toleh kiri kanan dengan kecepatan motor yang cukup lambat, akhirnya aku menemukan tempat fotokopi yang menawarkan jasa print juga. Alhamdulillah tempat fotokopi tersebut bisa mencetak dokumen yang dishare via chat WA saja, tanpa harus membawa flashdisk. Setelah mencetak dokumen, aku juga memesa

Allah itu maunya apa?

Pertanyaan itu kadang-kadang muncul di pikiranku tanpa diundang. Pertanyaan itu muncul karena kondisi diriku sekarang bukan berada dalam kondisi ideal atau idaman. Intinya aku “sendirian” sekarang. Aku berusaha menebak apa jawaban Allah jika hal itu aku tanyakan ketika aku bertemu Dia langsung. Tetapi, aku sadar bahwa aku bukan Dia. Semakin aku pikirkan, semakin aku lelah dan stres. Oleh karena itulah aku membiarkan hidupku mengalir tanpa memikirkan tentang masa depan. Prinsip ini juga aku pegang karena belum tentu aku besok ada. Aku tetap melakukan yang bisa aku lakukan, tetapi aku semakin pasrah dan berprasangka baik pada Allah, sehingga apapun yang terjadi dalam hidupku, entah itu menurut standarku tidak aku inginkan, aku tetap menerimanya tanpa ngedumel. Bersyukur di akhir bulan Mei 2021 ini aku akhirnya mendapatkan pekerjaan. lokasi tempat kerjaku bukan di Malang, lokasi yang aku sangat dambakan. Namun, di kota lain yang secara cuaca saja sudah beda dengan Malang. Pada ak

Wah, Repot Juga Ya

 Sejak aku bergabung dengan beberapa komunitas bola yang ada di Malang, aku sering ikut bermain sepakbola di lapangan-lapangan yang lokasinya banyak yang aku belum pernah datangi. Bersyukur teknologi sudah canggih sehingga aku bisa mengetahui lokasi lapangan dengan bantuan google maps di handphone. Hanya kendalanya adalah, jika aku pergi naik motor, selama ini tangan kiriku harus aku gunakan untuk memegang handphone bersamaan dengan memegang stang kiri. Tentu ini cukup merepotkan apalagi ketika hendak memberi tanda lampu sen, ke kiri atau ke kanan. Risiko jatuh juga sangat besar. Oleh karena itu, aku ketika ada rejeki, aku memutuskan untuk membeli perangkat tempat menaruh handphone yang dipasang di dekat kaca spion. Melalui perangkat tersebut, aku tidak perlu memegang handphone ketika sedang naik motor. Perangkat tersebut aku beli lewat online shop. Ketika sampai, aku meminta tukang tambal langganan dekat rumahku untuk membantu memasangnya. Ternyata, cara memasang perangkat ini t

Tempat Duduk di Tempat Ngopi

  31 Januari 2021 Bulan yang pertama di tahun baru hampir berakhir. Satu hari sebelumnya orangtuaku terbang dari Tangerang ke Kupang. Secara resmi mereka berpindah tempat tinggal setelah sejak 2005 tinggal di Tangerang. 16 tahun tinggal di Tangerang. Ada ratap sedih yang mencapai puncaknya di minggu terakhir mereka tinggal di Tangerang karena ada banyak orang yang sangat mengasihi mereka. Belum lagi banyak tempat dan kebiasaan-kebiasaan di Tangerang dan Jakarta yang harus ditinggalkan Maret 2020 Bulan yang dikenal sebagai awal virus corona masuk di Indonesia. Belum satu tahun aku masuk kuliah di Malang dan tinggal di asrama kampus. Aku harus ke Sumba karena kampus menginstruksikan semua mahasiswa yang tinggal di asrama kembali ke tempat asal masing-masing. Pertimbangannya adalah karena daerah di sekitar kampus sudah ada yang terkenal virus tersebut. Akhirnya hingga akhir Juli 2020 aku tinggal di Sumba, tepatnya di Waikabubak, ibukota kabupat en Sumba Barat. Ada banyak momen

Menemukan Surgamu

 “Akhirnya aku menemukan surgaku dengan terjun di dunia finansial.” Kalimat yang membuatku tiba-tiba menjadi lebih fokus mendengarkan cerita seorang teman tentang aktivitasnya sehari-hari.  Teman ini mengakui bahwa dia mememukan surganya lewat apa yang dilakukan sekarang di dunia finansial. Tanpa memaksa, dia juga mengundang aku untuk masuk ke dunia itu suatu waktu. “Tidakkk…” kata itu yang keluar dengan nada teriak penuh penyesalan dari mulut anak salah satu dosenku, ketika ayahnya tersebut menghukum dia dengan tidak boleh menikmati dessert karena dia telah melakukan kesalah. Bagi anak tersebut, dessert adalah segala-galanya. Dosenku bilang, desser adalah surga bagi dia. Terutama karena dia bisa menikmati es krim. “Goooollll!!!” Wah…membaca atau mendengar kata itu sudah membuat rata-rata kita tahu, sepakbola memang menjadi surga bagi banyak orang. Banyak orang lho..tidak semua..hehehe… Baru saja dahaga menonton sepakbola lokal terobati dengan dilangsungkannya pertandingan ujicoba

#harussiap

  31 Januari 2021 Bulan yang pertama di tahun baru hampir berakhir. Satu hari sebelumnya orangtuaku terbang dari Tangerang ke Kupang. Secara resmi mereka berpindah tempat tinggal setelah sejak 2005 tinggal di Tangerang. 16 tahun tinggal di Tangerang. Ada ratap sedih yang mencapai puncaknya di minggu terakhir mereka tinggal di Tangerang karena ada banyak orang yang sangat mengasihi mereka. Belum lagi banyak tempat dan kebiasaan-kebiasaan di Tangerang dan Jakarta yang harus ditinggalkan Maret 2020 Bulan yang dikenal sebagai awal virus corona masuk di Indonesia. Belum satu tahun aku masuk kuliah di Malang dan tinggal di asrama kampus. Aku harus ke Sumba karena kampus menginstruksikan semua mahasiswa yang tinggal di asrama kembali ke tempat asal masing-masing. Pertimbangannya adalah karena daerah di sekitar kampus sudah ada yang terkenal virus tersebut. Akhirnya hingga akhir Juli 2020 aku tinggal di Sumba, tepatnya di Waikabubak, ibukota kabupat en Sumba Barat. Ada banyak momen